Sunday, October 19, 2008

Penelitian tentang Manfaat TVE di SMP Al Muslim

PENELITIAN EKSPERIMEN

Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo

sebelum dan sesudah Pembelajaran dengan TVE

Rr. Martinigsih*)

Abstrak

Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan dimanfaatkannya berbagai sumber belajar, siswa termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. Atas dasar pemikiran inilah, peneliti ingin mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah memanfaatkan Televisi Edukasi (TVE) dalam pembelajaran. Disimpulkan adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah memanfaatkan TVE. Perbedaan ini dikarenakan siswa dapat (1) mengembangkan kemampuan bernalar melalui pemanfaatan TVE, (2) menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari melalui tayangan TVE sehingga mampu menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, dan (3) menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pembelajaran melalui tayangan TVE.

Kata kunci: Media Pembelajaran TVE, Pembelajaran Matematika, Prestasi Belajar.

--------------------------

*) Rr. Martiningsih adalah guru Matematika dan Koordinator Laboratorium Audio Visual pada Lembaga Pendidikan Al Muslim Cabang Jawa Timur, Sidoarjo.

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan kehidupan masyarakat, kelompok, dan individu (Mulyasa, 2005b: 3). Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstribusi serta sarana dalam membangun watak bangsa (Mulyasa, 2005b: 4).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat memungkinkan siapa saja dapat memperoleh informasi yang melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu, diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi agar dapat bertahan atau bahkan menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Menurut Mulyasa (2005a: 47) salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal, peserta didik dapat termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan lingkungan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari.

Namun pada kenyataannya, guru jarang sekali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar walaupun mereka memahami bahwa walaupun strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Mengapa terjadi keadaan yang demikian ini? Apabila guru ditanya mengenai hal ini, maka kemungkinan akan banyak alasan pembenaran yang diajukan.

Sebagian guru mungkin akan mengatakan bahwa mengajar dengan menggunakan buku teks saja, para peserta didiknya sudah memperlihatkan prestasi belajar yang memadai atau bahkan membanggakan. Kemungkinan sebagian guru lainnya akan mengatakan bahwa mencari sumber-sumber lainnya di luar buku teks yang sudah ditetapkan tentulah menyita waktu di samping membutuhkan biaya. Sebagian guru lainnya kemungkinan akan mengatakan bahwa untuk apa repot-repot memikirkan pemanfaatan berbagai sumber belajar dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) jika tidak ada konsekuensinya yang dapat dirasakan.

Atas dasar pemikiran tersebut di atas, peneliti ingin mengetahui apakah memang ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah pemanfaatan TVE dalam KBM. Di samping itu, peneliti berpendapat bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah penting karena akan dapat lebih meyakinkan para guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran sehingga diharapkan akan termotivasi untuk merancang kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal. Selain itu, judul penelitian ini juga menarik minat peneliti karena berdasarkan pengamatan peneliti sejauh ini masih jarang sekali guru memanfaatkan berbagai sumber belajar pada umumnya dan media TVE pada khususnya dalam pembelajaran matematika. Yang secara umum terjadi adalah bahwa para guru cenderung untuk mengelola kegiatan pembelajaran secara konvensional.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah pembelajaran melalui pemanfaatan TVE.

2. Kajian literatur

Berbagai upaya pemanfaatan siaran televisi untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran telah pernah dilakukan, baik oleh stasiun televisi pemerintah maupun swasta. Penyelenggaraan siaran televisi untuk untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran antara lain ditayangkan dalam bentuk sinetron seperti film serial Aku Cinta Indonesia atau ACI, “Si Unyil”, “Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS)”, “National Geographic”, “Sesame Street”, “Square One” atau yang dikemas dalam bentuk kuis “cerdas cermat”.

Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, masyarakat pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Materi bahasan berikut ini akan mencakup konsep belajar dan media, media pembelajaran TVE, dan hakekat Matematika.

2.1 Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses berkesinambungan yang berlangsung seumur hidup. Menurut Callahan dan Clark (1983: 198) yang dikutip oleh Jacob Anaktototy (2001:2) bahwa, walaupun belajar berlangsung seumur hidup, namun disadari bahwa tidak semua belajar dilakukan secara sadar. Belajar juga diartikan sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dalam diri seseorang mengenai pengetahuan atau tingkah laku karena adanya pengalaman.

Pendapat tersebut di atas senada dengan pendapat Bower dan Ernes (1981: 11) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) yang mengatakan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dan tidak disebabkan oleh adanya kedewasaan. Belajar dapat terjadi dengan sengaja maupun tidak sengaja. Artinya aktivitas yang disengaja adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan mempunyai tujuan, yaitu untuk memperoleh satu pengalaman baru. Aktivitas belajar yang tidak sengaja merupakan suatu interaksi individu dengan lingkungan secara kebetulan dan melalui interaksi yang terjadi, individu mendapat pengalaman baru. Pendapat Romiszowski (1981:241) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tentang bidang yang dipelajari.

2.2 Pengertian Media

Mulyasa (2005a:48) berpendapat bahwa media belajar secara sederhana dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam proses belajar-mengajar. Menurut Mulyasa (2005a:47), salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya media pembelajaran secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik.

Pengertian media pembelajaran atau sumber belajar adalah segala sesuatu dari dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983:12). Dalam proses belajar, komponen sumber belajar ini mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Sumber belajar untuk pelajaran matematika adalah segala sesuatu, baik yang berwujud benda maupun orang yang dapat menunjang keinginan untuk belajar matematika. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh pembelajar sehingga terjadi perilaku belajar termasuk belajar matematika.

Sesuai dengan pedoman yang ditentukan Departemen Pendidikan Nasional (2003:1) tentang pelaksanaan pembelajaran termasuk pembelajaran berbasis kompetensi, maka penentuan media pembelajaran (instructional media) dilakukan setelah identitas mata pelajaran, standar kompetensi, dan kompetensi dasar ditentukan. Dalam kaitan tampaklah bahwa media pembelajaran merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi. Secara garis besar, media pembelajaran dapat berfungsi membantu mempermudah peserta didik memahami pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan sikap atau nilai yang dipelajari.

Media pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar haruslah dipilih dengan tepat agar dapat seoptimal mungkin membantu peserta didik mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan. Menurut Djamarah (2002:136), pengertian media di lingkungan kegiatan belajar-mengajar merupakan wahana penyalur informasi belajar. Bila media dikatakan sebagai sumber belajar, maka manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dapatlah dikatakan sebagai media dalam pengertian yang luas.

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena pemanfaatan media sebagai perantara dapat memperjelas bahan atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sifatnya abstrak. Kerumitan atau kompleksitas bahan atau materi pelajaran yang akan disampaikanguru kepada peserta didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat membantu guru yang mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi bahasan tertentu secara verbal (melalui kata-kata). Bahkan obyek bahasan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, terlalu mahal untuk dihadirkanke dalam kelas, atau yang terlalu berbahaya untuk dibawa ke dalam kelas dimungkinkan untuk dipelajari peserta didik dengan bantuan media. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah mencerna bahan atau materi pelajaran dengan bantuan media.

Media juga seringkali diartikan sebagai alat yang dapat dilihat dan didengar. Alat-alat ini dipakai dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud untuk lebih mengefektifkan dan mengefisienkan proses komunikasi. Dengan menggunakan media, maka guru dan peserta didik dapat berkomunikasi lebih mantap, hidup, dan interaksinya bersifat banyak arah. Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986:4) dalam Arsyad (2006:4) bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut dengan media komunikasi.

Media pembelajaran yang menggunakan televisi tergolong alat-alat audiovisual murni (Wijaya,1991:140). Kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan TVE di dalam tulisan ini adalah yang dirancang dan dikembangkan oleh Pustekkom dan disalurkan (uplinked) ke satelit Telkom I serta yang diterus-siarkan oleh stsiun TVRI.

2.3 Hakekat Matematika

Matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:6) merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Agar pelajaran matematika lebih mudah dimengerti oleh peserta didik, maka proses penalaran induktif dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki peserta didik.

Kemahiran matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:10) merupakan kecakapan matematika yang perlu dimiliki peserta didik yang pembelajarannya tidak berdiri sendiri tetapi diintegrasikan dalam materi matematika. Kemahiran matematika disajikan secara eksplisit dalam bahan belajar agar dapat menjadi perhatian dan pertimbangan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa.

Kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika adalah sebagai berikut:

a. menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah,

b. memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah,

c. menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,

d. menunjukkan kemampuan strategik dalam membuat (merumuskan), menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan masalah, dan

e. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

Kecakapan tersebut di atas dapat dicapai dengan mempergunakan bahan belajar matematika yang sesuai.

3. Metodologi

3.1 Subyek Penelitian dan Sumber Data

Subyek atau populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo-Jawa Timur yang berjumlah 33 orang. Menurut Sugiyono (2004:55), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu.

3.2 Variabel

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab berubahnya variabel terikat (Sugiyono, 2004:3). Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Sugiyono, 2004:3). Berdasarkan pemahaman ini, maka variabel bebas dalam penelitian ini adalah media pembelajaran TVE; sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar peserta didik di bidang pelajaran Matematika.

3.3 Instrumen dan Analisis Data

Prestasi belajar peserta didik kelas IX SMP untuk mata pelajaran matematika, baik sebelum maupun sesudah pembelajaran dengan mempergunakan TVE diperoleh melalui penggunaan soal-soal tes pelajaran Matematika berdasarkan SKL (Standar Ketuntasan Lulusan). Tes adalah suatu alat pengumpul informasi yang bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan (Arikunto, 2005:33). Instrumen lain yang juga digunakan adalah angket.

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis yang ditentukan adalah uji t. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang membandingkan prestasi belajar matematika peserta didik kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah pemanfaatan TVE yang membahas materi pelajaran Matematika untuk kelas IX SMP.

4. Hasil Penelitian dan Bahasan

4.1 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika

Pada penelitian ini, data prestasi belajar Matematika peserta didik diperoleh dari hasil tes prestasi belajar matematika yang dilaksanakan sebelum dan setelah peserta didik mendapatkan perlakuan pembelajaran melalui pemanfaatan TVE, disajikan pada Tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1
Deskripsi Prestasi Belajar Matematika sebelum Perlakuan Pembelajaran dengan Media TVE

Prestasi Belajar

Frekuensi

Persentase

0-25

4

12,12

26-50

6

18,18

51-75

13

39,39

76-100

10

30,31

Jumlah

33

100,00

Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur

Dari informasi yang disajikan pada Tabel 1 di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut.

a. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 0 sampai dengan 25 sebanyak 4 orang (12,12%).

b. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 26 sampai dengan 50 sebanyak 6 orang (18,18%).

c. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 51 sampai dengan 75 sebanyak 13 orang (39,39%).

d. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 75 sampai dengan 100 sebanyak 10 orang (30,31%).

Selanjutnya, prestasi belajar Matematika sesudah memanfaatkan media TVE memperlihatkan perbedaan sebagaimana yang disajikan pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2
Deskripsi Prestasi Belajar Matematika Sesudah Perlakuan Pembelajaran dengan Media TVE

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

0-25

0

0,00

26-50

0

0,00

51-75

7

21,21

76-100

26

78,79

Jumlah

33

100,00

Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur

Tabel 2 di atas mengemukakan 3 kesimpulan, yaitu sebagai berikut.

a. Tidak ada responden yang nilai prestasi belajar Matematika-nya 50 ke bawah. Artinya, semua responden mencapai nilai 51 ke atas.

b. Jumlah responden yang nilai prestasi belajar Matematika-nya berada pada rentangan 51 sampai dengan 75 sebanyak 7 siswa (21,212%).

c. Sebagian besar responden (78,788%) mencapai nilai prestasi belajar pada rentangan 76 sampai dengan 100.

4.2 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan Media TVE

Fokus materi pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik melalui angket mencakup (a) pembelajaran yang disenangi siswa, (b) alasan menyenangi kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE, (c) pernah-tidaknya menonton TVE di rumah, dan (d) pendapat atau opini terhadap tayangan TVE, maka data-data tersebut diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram berikut:

4.2.1 Pertanyaan Pertama

Pada pertanyaan pertama, responden diminta memilih salah satu dari pilihan pertanyaan yang disediakan. Pertanyaannya adalah: Pada saat pembelajaran berlangsung, kegiatan pembelajaran mana yang paling kamu senangi? Pilihan jawabannya adalah: (a) kegiatan pembelajaran di kelas oleh guru tanpa media, (b) kegiatan pembelajaran di kelas oleh guru dengan menggunakan media, (c) kegiatan pembelajaran di kelas atau lab audiovisual dengan menggunakan TVE dan didampingi oleh guru. Jawaban responden terhadap pertanyaan pertama disajikan pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Pertama

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Pembelajaran di kelas oleh guru tanpa media

2

6,06

b. Pembelajaran di kelas oleh guru dengan menggunakan media

1

3,03

c. Pembelajaran di kelas atau lab audiovisual dengan mengguna-kan TVE dan didampingi oleh guru

30

90,91

Jumlah

33

100,00

Tabel 3 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (90,909%) menyatakan bahwa mereka lebih menyenangi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas atau di ruang audiovisual dengan menggunakan TVE dan didampingi guru. Apabila dibandingkan antara pembelajaran dengan guru tanpa media atau media tanpa kehadiran guru, maka responden cenderung memilih kegiatan pembelajaran dengan guru tanpa media.

4.2.2 Pertanyaan Kedua

Pertanyaan kedua yang diajukan kepada responden adalah: Mengapa kamu senang dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) senang karena belajarnya dengan menonton TV, (b) senang karena contoh-contoh yang disajikan jelas, (c) senang karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep disajikan dengan jelas sehingga mudah dipahami. Jawaban responden terhadap pertanyaan kedua ini disajikan pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Kedua

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Senang karena belajarnya dengan menonton TV

9

27,27

b. Senang karena contoh-contoh yang disajikan jelas

4

12,12

c. Senang karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep disajikan dengan jelas

20

60,61

Jumlah

33

100,00

Berdasarkan Tabel 4 dapatlah dikemukakan bahwa lebih dari separoh responden (60,60%) memberikan alasan bahwa mereka menyenangi kegiatan pembelajaran melalui TVE karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep yang disajikan melalui media TVE lebih jelas sehingga mudah dipahami. Sedangkan alasan lainnya yang diajukan responden adalah jarena kegiatan belajar dilakukan dengan menonton TV (27,27%) dan contoh-contoh yang diberikan jelas (12,12%).

4.2.3 Pertanyaan Ketiga

Pertanyaan ketiga yang diajukan kepada responden adalah: Pernahkah kamu menonton TVE di rumah? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) pernah, dan (b) tidak pernah. Jawaban responden terhadap pertanyaan ketiga ini dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Ketiga

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Pernah

22

66,67

b. Tidak Pernah

11

33,33

Jumlah

33

100,00

Tabel 5 mengemukakan bahwa lebih dari separoh responden (66,667%) menyatakan mereka pernah menonton TVE di rumah. Sedangkan responden lainnya (33,333%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah menonton siaran TVE di rumah. Karena itu, guru perlu memperhatikan bahwa sebagian dari peserta didik asuhannya tidak pernah TVE di rumah. Dalam kaitan ini, para guru hendaknya mengupayakan dan merencanakan agar TVE dapat dimanfaatkan di sekolah sehingga peserta didik yang tidak berkesempatan memanfaatkan tayangan TVE di rumah, masih berkesempatan mengikuti tayangan TVE.

4.2.4 Pertanyaan Keempat

Pertanyaan keempat adalah: Bagaimana pendapatmu tentang acara TVE? Pilihan jawaban yang disedeiakan adalah: (a) bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan, (b) menarik karena contoh yang diperagakan jelas, (c) perlu ditingkatkan dengan pembelajaran yang lebih menarik lagi. Pada Tabel 6 berikut ini disajikan jawaban responden terhadap pertanyaan keempat.

Tabel 6
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Keempat

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan

18

54,55

b. Menarik karena contoh yang diperagakan jelas

5

15,15

c. Perlu ditingkatkan dengan pembelajaran yang lebih menarik

10

30,30

Jumlah

33

100,00

Dari Tabel 6 dapat dikemukakan bahwa lebih dari separoh responden (54,545%) menyatakan siaran TVE dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan mereka. Sebagian kecil responden (15,152%) mengemukakan pendapatnya bahwa siaran TVE menarik karena menyajikan contoh-contoh secara jelas. Responden lainnya (30,303%) justru menyampaikan pendapatnya dalam bentuk saran, yaitu agar siaran TVE lebih ditingkatkan lagi daya tariknya.

4.3 Analisis Data

Pada bagian ini akan dijelaskan hasil perhitungan statistik untuk uji hipotesis. Hipotesis penelitian yang dirumuskan adalah:

Ha : Hipotesis kerja yang berbunyi ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah mempergunakan TVE.

Ho : Hipotesis nol berbunyi tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah mempergunakan TVE.

Untuk menguji hipotesis di atas dipergunakan uji t dengan menggunakan software SPSS 12. Hasil perhitungan dengan SPSS 12 didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 7
Paired Samples Statistics


Mean

N

Std. Deviation

Std. Error Mean

Pair 1

SebelumTVE

62,61

33

24,865

4,328


SesudahTVE

84,21

33

10,816

1,883

Dari hasil tersebut terlihat bahwa rata-rata nilai peserta didik sebelum pembelajaran dengan TVE adalah 62,61 dengan standar deviasi 24,865; sedangkan setelah pembelajaran dengan TVE, rata-rata prestasi peserta didik adalah 84,21 dengan standar deviasi 10,816.

Tabel 8
Paired Samples Correlations


N

Correlation

Sig.

Pair 1

Sebelum TVE dan sesudah TVE

33

0,268

0,131

Hasil korelasi menunjukkan nilai sebesar 0,268 dengan taraf signifikasi 0,131.

Tabel 9
Paired Samples Test

Paired Differences

t

df

Sig. (2-tailed)

Pair 1

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the Difference




SebelumTVE - SesudahTVE




Lower

Upper




-21,606

24,31

4,232

-30,226

-12,986

-5,106

32

0

Rata-rata perbedaan prestasi belajar matematika sebelum pembelajaran dengan TVE dan sesudah pembelajaran dengan TVE adalah 21,606, dengan standar deviasi 24,310. Hasil penghitungan t statistik menghasilkan nilai minus 5,106 dan signifikasi 0,000.

Dengan hasil signifikasi 0,000 bisa diambil keputusan untuk menolak Ho yang berbunyi tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE serta menerima Ha yang berbunyi bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE. Karena level signifikasi lebih kecil daripada alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan TVE memberikan pengaruh secara signifikan.

5. Simpulan dan Saran

5.1 Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika peserta didik kelas IX SMP Al Muslim yang signifikan antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE.

5.2 Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan yang dihasilkan, maka saran-saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

5.2.1 Siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan memanfaatkan siaran TVE, melakukan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan.

5.2.2 Siswa diharapkan dapat menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pengalaman belajar melalui tayangan TVE.

5.2.3 Guru diharapkan dapat menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah melalui tayangan TVE.

5.2.4 Guru diharapkan dapat merencanakan dan memanfaatkan media TVE dalam kegiatan belajar-mengajar secara teratur sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman belajar dari sumber belajar yang berhubungan dengan materi di luar guru.

5.2.5 Kepala sekolah atau pengelola sekolah diharapkan dapat memfasilitasi pemanfaatan media TVE untuk pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan mengoperasionalisasikan televisi agar mereka dapat memanfaatkan TVE secara teratur.

Pustaka Acuan

Anaktototy, Jacob. 2001. Hasil Belajar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP & MTs. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. Teknologi Instruksional. Jakarta: P2LPTK.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Mulyasa. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa.2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Trihendradi, Cornelius. 2005. SPSS 12 Statistik Inferen Teori Dasar & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

1 comment:

Anonymous said...

Assalamu'alaikum wr wb
Sungguh sangat bagus sajian hasil penelitian yang mbak Ning muat. Ada suatu keganjilan dalam alur penelitian yang tersaji. Mohon maaf bila aku yang kurang memahami. Kalau ketemu nanti kita dapat diskusi. he he he mau nggak, demi kesempurnaan karya-karya ilmiah mendatang.
haryonohadisp
Wassalamu'alaikum wr wb.