Labels

Showing posts with label Newspaper. Show all posts
Showing posts with label Newspaper. Show all posts

Tuesday, April 20, 2021

Konser Kebhinekaan untuk Bumi -Surabaya Pagi

https://surabayapagi.com/read/smp-yppi-1-dan-mts-muhammadiyah-gelar-konser-kebhinekaan-untuk-bumi?fbclid=IwAR1kK74mCJbCCeKuf8XbcmOv7_B2qxFpul0RYZgxwipEBw7nnsNN24rvXJY



SURABAYAPAGI, Surabaya - Siang itu, di ruangan multimedia SMP Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Indonesia (YPPI) 1 Surabaya, beberapa siswa dan murid dengan lantang bersenandung lagu "Bumi Tercinta.

Dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan alat rekaman seadanya, para siswa dan guru dari SMP YPPI 1 dan MTs Muhammadiyah bersatu padu dalam melodi lagu ciptaan Anik Prabowo.

"Rengkuhlah bumi tercinta, jaga kesuciannya, kita mesti bersama, satukan tekad kita" senandu para siswa dan murid

Kepala Sekolah SMP YPPI 1 Surabaya Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si saat ditemui Surabaya Pagi di ruangannya menjelaskan, lagu "Bumi Tercinta" akan dinyanyikan oleh siswa dan guru dari SMP YPPI 1 dan MTs Muhammadiyah Surabaya dalam gelaran konser virtual Hari Bumi sedunia (earth day) yang akan digelar pada 22 April 2021 mendatang.

"Lagu ini ciptaan guru SMP YPPI 1. Lagu ini akan dinyanyikan bersama oleh dua sekolah dengan latar belakang budaya yang berbeda," kata Titris Hariyanti, Selasa (20/04/2021).

Kolaborasi antara dua sekolah ini kata Titris, diharapkan menjadi katalisator dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat khususnya bagi para siswa, bahwa masalah lingkungan (climate change) merupakan masalah bersama dan bukan masalah kelompok atau golongan tertentu.

"Jadi ini merupakan implementasi kebhinekaan global yang sebenarnya (...) dengan konser virtual ini, diharapkan menjadi moment kepedulian lingkungan bersama. Kita bisa melewati batas-batas budaya itu. Karena bumi ini milik kita bersama, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?" katanya.

Di hari konser virtual dilaksanakan, para guru dan siswa juga akan menanam pohon secara simbolik di lingkungan sekolah. Tak hanya itu, siswa yang mengikuti konser virtual dari rumah juga diwajibkan untuk menanam pohon di rumahnya masing-masing.

"Jadi semua siswa wajib menanam pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kami akan terus memantau, bagi siswa yang berhasil merawat pohon yang ditanam akan mendapatkan poin tambahan untuk mata pelajaran dengan topik ecological awareness," ucapnya.

Sementara itu, Kepala sekolah MTs Muhammadiyah Surabaya Drs. Supriyanto menjelaskan, di hari bumi yang jatuh pada 22 April, pihaknya selain menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan juga berupaya menumbuhkan jiwa tenggang rasa dan toleransi yang dibalut dengan kebhinekaan.

Mengingat tahun ini, peringatan Hari Bumi sedunia berbarengan dengan jalannya bulan suci Ramadhan maka MTs Muhammadiyah dengan segala upayanya mendukung dan mensupport konser virtual tersebut.

"Dari Muhammadiyah mengajak teman, sesama sekolah dengan karakter yang berbeda. Supaya di hari bumi kami dapat memperkenalkan kebhinekaan. Jadi kegiatan konser virtual yang diinisiasi oleh YPPI Kami support dengan baik dan kami dukung sepenuhnya," kata Supriyanto.

"Kami ingin menebar kebaikan khususnya di bulan Ramadhan ini, kami ingin memberikan pelajaran kebhinekaan yang baik kepada siswa," tambahnya.sem

Wednesday, October 14, 2020

Me in India Newspaper










Pembelajaran jarak jauh atau daring ini dimulai karena kekawatiran akan meluasnya dampak Pandemi, dimana anak mulai belajar dari rumahnya masing-masing tanpa perlu pergi ke sekolah. Berbicara mengenai pembelajaran jarak jauh atau daring maka pentingnya penguasaan ilmu teknologi bagi seorang guru agar pembelajaran jarak jauh tetap berjalan dengan efektf disaat pandemi seperti ini. Guru harus melakukan inovasi dalam pembelajaran diantaranya dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. 

Monday, October 20, 2008

Pemanfaatan Siaran TVE di SMP Al Muslim




Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran

Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd.

Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim Sidoarjo

Abstrak

Sebagai media, televisi memiliki empat fungsi, yakni fungsi komersial, alat hiburan, penyampai informasi, dan edukasi. Fungsi yang terakhir, yakni edukasi, kerap terabaikan. Sebagai penyeimbang membeludaknya acara hiburan, kini televisi edukasi menjadi penting. Siaran TVE diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan dimanfaatkannya berbagai sumber belajar, siswa termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. Atas dasar pemikiran inilah, penulis ingin memaparkan pemanfaatan Televisi Edukasi (TVE) dalam pembelajaran.

Kata kunci: Pemanfaatan Siaran TVE, Belajar, Pembelajaran Prestasi Belajar.

A. Pendahuluan

Sebagai media, televisi memiliki empat fungsi, yakni fungsi komersial, alat hiburan, penyampai informasi, dan edukasi. Sayangnya, fungsi yang terakhir, yakni edukasi, kerap terabaikan. Sebagai penyeimbang membeludaknya acara hiburan, kini televisi edukasi menjadi penting. Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) telah mencanangkan dimulainya siaran Televisi Edukasi (TVE) pada tahun 2003. Harapannya tentu saja televisi edukasi bisa menambah wawasan dan kepintaran.

Efek tayangan televisi pada anak-anak memang luar biasa. Contoh paling jelas adalah berjatuhannya korban-korban "Smack Down", gara-gara memasyarakatnya aksi kekerasan via televisi. Sisis positifnya, anak-anak sekarang lebih cepat menyerap dan memahami berbagai istilah ilmiah populer dibanding masa lalu. Mereka juga, cenderung memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Jujur saja, dalam hal ini, televisi punya andil.

Nilai-nilai yang ditampilkan oleh tontonan mereka, seperti materialisme, kekerasan, mistik seperti pada cerita-cerita misteri akan mewarnai benak anak-anak. Oleh karena itu, kita hendaknya mengatur kegiatan menonton televisi, memilihkan program-program televisi yang cocok dengan pertumbuhan anak dan baik untuk mendapatkan manfaat dari media televisi, meminimalkan dampak negatif media itu terhadap anak mereka.

Anak-anak sedang dalam proses sosialisasi nilai-nilai dan pembelajaran untuk menjadi manusia dewasa. Karena usianya, anak-anak sangat dipengaruhi lingkungannya, termasuk apa yang mereka tonton di televisi. Para penyelenggara siaran televisi perlu menyadari apakah yang mereka sajikan memiliki dampak besar pada pembentukan watak dan nilai-nilai anak-anak.

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik, misalnya tayangan TVE (Televisi Edukasi). Seluruh SMP Negeri maupun Swasta telah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa 2 buah televisi 29 inch. Tetapi jarang yang memanfaatkan televisi tersebut untuk menonton TVE, dengan alasan tidak ada petunjuk, tidak ada pemberitahuan, dan sejenisnya. Pada kenyataannya, guru jarang sekali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan televisi sumber belajar walaupun mereka memahami bahwa walaupun strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Mengapa terjadi keadaan yang demikian ini? Apabila guru ditanya mengenai hal ini, maka kemungkinan akan banyak alasan pembenaran yang diajukan.

Pembelajaran dengan mempergunakan TVE penting dilakukan, karena dengan mempergunakan tayangan TVE dalam pembelajaran, maka guru dapat terbantu untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dibawa guru di kelas karena obyek pembelajaran terlalu kecil (misal: sel, atom, unsur, jaringan, dll), obyek pembelajaran terlalu besar (misal: gunung, samudra, pesawat udara, dll), kendala geografis (misal: hutan, jurang, pulau terpencil, dll), berbahaya (misal: bencana alam, ledakan nuklir, dll), informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah didapat guru semasa sekolah ataupun kuliah (misal:semangka berbentuk kubus atau balok).

Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, siswa pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).

B. Belajar, Pembelajaran, dan Sumber Belajar

Istilah belajar sudah terlalu sering kita dengarkan. Tidak hanya diucapkan atau digunakan di lingkungan pendidikan saja tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Bahkan di lingkungan keluarga, para orangtua sering dan tentunya juga tidak henti-hentinya mendorong anak-anaknya untuk selalu teratur belajar, baik di sekolah, di rumah, atau di tempat lain. Yang jelas, para orangtua selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar. Selain itu, para orangtua juga repot mencari tempat belajar tambahan agar anak-anaknya dapat lebih berhasil dalam kegiatan belajarnya.

Kita juga mengenal berbagai ungkapan yang mengatakan bahwa belajar dapat terjadi di mana saja. Belajar tidak mengenal batasan usia. Belajar juga tidak terbatas hanya bagi mereka yang masih berusia sekolah. Belajar juga terjadi bagi mereka yang telah bekerja dan bahkan yang sudah pensiun sekalipun. Belajar tidak hanya terbatas dari guru. Belajar dapat dari siapa saja. Belajar juga dapat melalui berbagai jenis media. Akhirnya, ada ungkapan sebagai penutup bahwa kegiatan belajar berlangsung sepanjang hayat.

Bila diamati dalam kehidupan sehari-hari, lebih khusus di lingkungan keluarga misalnya, berbagai kegiatan belajar dapat terjadi. Seorang ibu yang membimbing anaknya untuk dapat (a) tegak berdiri dan bahkan berjalan (dalam hal ini, anak yang belajar berdiri atau berjalan), (b) makan sendiri tanpa harus disuapin oleh ibu atau orang lain, (c) berbicara, (d) mandi sendiri, (e) berpakaian sendiri, (f) menghitung-membaca-menulis, dan masih banyak bidang lainnya.

Belajar menurut definisi yang paling sederhana adalah proses yang dilakukan seseorang untuk mengubah keadaannya dari tidak tahu menjadi tahu. Selain definisi diatas masih banyak lagi definisi lain mengenai belajar, tetapi biarlah kita gunakan definisi diatas untuk sebagai landasan pembahasan ini. Dari definisi itu dapat diambil kesimpulan bahwa dalam proses belajar, terdapat pelaku dan ada sesuatu yang dipelajari atau yang akan diketahui (Dwiyanto, Arif Rifai. 2000).

Belajar merupakan proses berkesinambungan yang berlangsung seumur hidup. Menurut Callahan dan Clark (1983: 198) yang dikutip oleh Jacob Anaktototy (2001:2) bahwa, walaupun belajar berlangsung seumur hidup, namun disadari bahwa tidak semua belajar dilakukan secara sadar. Belajar juga diartikan sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dalam diri seseorang mengenai pengetahuan atau tingkah laku karena adanya pengalaman.

Pendapat tersebut di atas senada dengan pendapat Bower dan Ernes (1981: 11) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) yang mengatakan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dan tidak disebabkan oleh adanya kedewasaan. Belajar dapat terjadi dengan sengaja maupun tidak sengaja. Artinya aktivitas yang disengaja adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan mempunyai tujuan, yaitu untuk memperoleh satu pengalaman baru. Aktivitas belajar yang tidak sengaja merupakan suatu interaksi individu dengan lingkungan secara kebetulan dan melalui interaksi yang terjadi, individu mendapat pengalaman baru. Pendapat Romiszowski (1981:241) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tentang bidang yang dipelajari.

Pembelajaran adalah proses yang kita lakukan untuk mengubah ketidakmampuan masa lalu menjadi bentuk kemampuan baru. Kemampuan di sini bisa berbentuk kuantitas atau kualitas dari kebiasaan, orang yang kita ajak bergaul dan paradigma dalam arti apa yang kita lakukan untuk mengabadikan warisan lama yang masih bagus dan apa yang kita lakukan untuk mengadopsi hal baru yang lebih bagus (Ubaydillah. 2004).

Mulyasa berpendapat bahwa sumber belajar secara sederhana dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam proses belajar-mengajar (Mulyasa, 2005).

Pengertian sumber belajar adalah segala sesuatu dari dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983). Dalam proses belajar, komponen sumber belajar ini mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Sumber belajar untuk pelajaran matematika adalah segala sesuatu, baik yang berwujud benda maupun orang yang dapat menunjang keinginan untuk belajar . Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh pembelajar sehingga terjadi perilaku belajar.

Menurut AECT, sumber belajar adalah semua hal (data, orang dan barang) yang dapat dipergunakan pebelajar, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, biasanya dalam situasi informal untuk memberikan fasilitas belajar. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang , alat, teknik dan latar (AECT, 1986).

Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar menurut AECT dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design)

Sumber belajar yang dirancang adalah sumber belajar yang memang disengaja direncanakan, dirancang, dan dibuat untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contoh: buku pelajaran, modul, program slide, program audio, transparansi, dan sebagainya.

b. Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utilization)

Sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran tetapi sudah tersedia di pasaran dan yang berkepentingan atau guru tinggal mengidentifikasi, memilih, dan memanfaatkannya bagi keperluan pembelajaran (learning resources by utilization). Contoh: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binantang, museum, sawah, terminal, surat kabar, dan sebagainya (Maolani, 2007).

Sumber belajar mencakup (1) semua sumber (baik berupa data, orang, atau benda) yang dapat diguakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi peserta didik. (2) lingkungan yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah sebagai sumber pengetahuan, dapat berupa manusia atau bukan manusia (Maolani, 2007).

C. Pola pemanfaatan Siaran TVE

Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:

a. Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung). Dimana agar pembelajaran selaras dengan jam tayang TVE, maka guru mendownload jadwal tersebut dari situs TVE di internet, atau melalui situs pencari (misal: Google). Selain itu, guru dapat merelay siaran dari TVRI, karena TVE telah melakukan kerjasama dengan stasiun TVRI, program TVE yang ditayangkan adalah diprioritaskan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris untuk peserta didik SMP dan MTs.

b. Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan. Berdasarkan jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pada hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya. Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya, berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar. Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik.

c. Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong. Apabila guru berhalangan hadir karena sesuatu hal, maka guru piket atau guru serumpun dapat mengisi jam pelajaran kosong yang ada dengan menayangkan siaran TVE. Intinya adalah bahwa peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana biasanya. Guru piket atau guru serumpun tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti (guru piket atau guru serumpun) dapat mencatatnya dan menyampaikannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut.

D. Model Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran

· Individual

Pemanfaatan sesuai kebutuhan, minat, waktu, dan tempat masing-masing individu

· Kelompok kecil

Pemanfaatan sekelompok siswa

· Klasikal

Pemanfaatan dilakukan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran di kelas

E. Pengaturan Ruangan

ukuran TV

M08

E. Pembelajaran Terintegrasi TVE

Persiapan:

l Jadwal sekolah menyesuaikan siaran

l Persiapan peralatan

l Persiapan ruangan

l Arahan petunjuk mengikuti siaran

Selama Mengikuti Siaran:

l Siswa mengikuti siaran

l Mencatat bagian-bagian penting

l Mencatat bagian yang tidak jelas/ kurang dipahami dan pada akhirnya ditanyakan setelah tayangan berakhir

Setelah Mengikuti Siaran:

l Tanya jawab

l Diskusi

l Mengerjakan soal-soal

l Tes/evaluasi

Tindak lanjut/Penugasan/PR

F. Simpulan dan Saran

Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan.

Pembelajaran dengan mempergunakan TVE penting dilakukan, karena dengan mempergunakan tayangan TVE dalam pembelajaran, maka guru dapat terbantu untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dibawa guru di kelas karena obyek pembelajaran terlalu kecil , obyek pembelajaran terlalu besar , kendala geografis, berbahaya, informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah didapat guru semasa sekolah ataupun kuliah.

Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, siswa pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Pustaka Acuan

AECT. 1986. Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Anaktototy, Jacob. 2001. Hasil Belajar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP & MTs. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. Teknologi Instruksional. Jakarta: P2LPTK.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dwiyanto, Arif Rifai. (2000). Teknologi dan Proses Belajar, sub tema “Knowledge Mobility”. (sumber dari internet: <http://digilib.itb. ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-proc-2000-arif-619-knowledge>).

Maolani, Ilam. (2007). Media Pembelajaran. (sumber dari internet: <http://gurupaismaalmuttaqin.blogspot.com/2007/11/media-pembelajaran-rangkuman-mata.html>).

Mulyasa. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa.2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tuesday, June 3, 2008

Tahun Ajaran Baru, Cara Belajar Baru




Tahun Ajaran Baru, Cara Belajar Baru

Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd.

Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim

Selamat! Kamu naik kelas. Bagaimana prestasi belajarmu tahun lalu? Ingin prestasi belajar lebih baik di tahun ajaran baru ini?

Agar prestasi belajarmu meningkat, tentu saja kamu perlu memperbaiki kualitas cara belajarmu. Ada beberapa kekuatan yang akan mengubah prestasi belajarmu dengan lebih baik, apabila kamu menguasai cara belajar yang baik. Ada baiknya kamu buat persiapan matang di awal tahun ini, agar di akhir tahun kamu tinggal menuai hasilnya.

Apa yang perlu dipersiapkan? Persiapannya bukan hanya masalah buku tulis atau buku paket saja. Nah ……pertama, tentukan targetmu di tahun ini, trus buat jadwal harian yang isinya langkah-langkah menuju target tersebut. Agar target belajarmu tercapai dengan baik, simak beberapa cara belajar berikut.

  1. Keinginan kuat menuju sukses. Segala sesuatu yang dilaksanakan dengan keinginan yang kuat, belajar dengan sungguh-sungguh dengan hasrat kuat, keinginan dan harapan yang besar akan mencapai hasil yang baik. Sebaliknya bila segala sesuatu tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasil yang dicapai juga ala kadarnya.
  2. Mengulang pelajaran sepulang sekolah. Pulang sekolah, ulang kembali pelajaran yang telah didapat. Setelah itu, baca singkat dua halaman materi berikutnya buat cari kerangkanya saja. Begitu pelajaran tersebut diterangkan guru pada pertemuan berikutnya, kamu dah punya gambaran, tinggal menambahkan aja apa yang kamu belum tahu. Jadi, pulang sekolah kamu tinggal mengulang aja untuk mencari kesimpulan atau meringkas apa yang telah diterangkan.
  3. Membuat rangkuman. Selain membaca kembali atau mengulang pelajaran yang telah diterangkan di sekolah, ada cara lain untuk membuat apa yang didapat di sekolah terikat kuat dalam memori otak kita, yaitu dengan membuat rangkuman dan kesimpulan dengan kata-katamu sendiri. Tulis kesimpulan kamu di secarik kertas kecil seukuran kartu nama. Kartu-kartu tersebut efektif untuk mengulang dan membaca singkat di kala senggang. Tulis dengan rapi dan indah, agar kamu senang membaca tulisanmu sendiri.
  4. Belajar dari Teman Sebaya. Mengajari teman lain tentang materi yang baru bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Secara bergantian kamu dan temanmu saling bertanya isi materi baru tersebut, nah …. Kamu menjadi lebih memahami materi tersebut.
  5. Buku catatan rapi dan menarik. Buku catatanmu hendaknya selalu rapi, tidak dicorat-coret, serta bagian yang penting bisa menggunakan tinta dengan warna yang berbeda. Biasakan mencatat pada buku yang berbeda untuk tiap mata pelajaran yang berbeda. Ini memudahkan kamu belajar. Bila kamu mencatat materi pelajaran yang berbeda pada satu buku, kamu akan kesulitan dalam mengulang pelajaran, karena tidak teratur, selain itu kendalanya apabila buku catatan tersebut dikumpulkan pada salah seorang guru mata pelajaran tertentu dimana kamu memerlukan catatan untuk mata pelajaran yang lain, tentu akan sangat menyulitkan diri kamu sendiri.
  6. Penuh perhatian saat pembelajaran berlangsung. Usahakan selalu konsentrasi penuh waktu mendengarkan pelajaran di sekolah. Materi yang kamu dengar akan tersimpan dengan baik dalam memori kita, dan mudah dipanggil lagi kalau kita perlukan, terutama saat kamu ulangan.
  7. Belajar setahap demi setahap. Belajar mendadak menjelang tes memang tidak efektif. Persiapkan jauh hari untuk mengulang pelajaran sebelum tes berlangsung, paling tidak satu bulan sebelumnya. Materi yang banyak bukan masalah. Cara efektifnya, kamu buat ringkasan tiap tiap pelajaran, kalau perlu gunakan table, gambar, atau peta konsep agar mudah dipahami.
  8. Cari waktu tepat untuk belajar. Tiap orang punya waktu yang cocok untuk belajar tergantung situasi dan kondisi tiap orang. Kadang belajar sesudah sholat subuh juga baik, karena pikiran masih fresh. Ada juga yang belajar sebelum tidur, agar apa yang telah dipelajari nempel dengan baik di memori, karena tidak terganngu hal lain, karena setelah belajar langsung tidur.
  9. Pilih bacaan, tayangan televisi, atau musik yang benar-benar membantumu untuk belajar. Belajar sambil mendengarkan musik memang asyik. Pilih musik yang tgenang tapi menggugah. Instrumen yang mengalun lembut, atau musik klasik bisa dicoba.Musik tipe ini cocok banget menemani kamu selama belajar. Hindari menonton atau membaca sesuatu yang tidak bermanfaat meningkatkan kualitas belajarmu.
  10. Usaha dan Doa. Nah…. Kalau kamu dah usaha maksimal dalam belajar jangan lupa selalu juga berdoa. Doa akan memperkuat usaha kita. Positive thinking + smart studying + smart doing + pray to Allah = SUCCESS.

Semua orang terlahir sama di dunia ini, tidak membawa apa-apa. Semua orang pada dasarnya tidak tahu dan tidak mampu. Hanya orang-orang yang berani belajar dan gigih untuk menjadi lebih baik, pada akhirnya akan memiliki pengetahuan dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Pengalaman orang-orang di sekitarmu, buku bacaan, informasi dari media elektronik, internet, kursus, atau pelatihan yang kamu ikuti adalah sumber belajar. Kita tinggal memilih apa yang cocok bagi kamu. Pilihlah cara belajar yang memang bisa membuat kamu mengerti dan memahami banyak hal yang pada akhirnya apa yang kamu cita-citakan tercapai.

Belajar akan membuat pengetahuan kita bertambah. Tapi bila pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki tidak mengubah kita menjadi lebih baik, akan tidak berarti apa-apa. Ok! Good luck!

Creative Intelligence, Apaan Tuh!

Creative Intelligence, Apaan Tuh!

Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd.

Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim Sidoarjo

Kadangkala kita merasa tidak bisa berfikir dan tidak tahu harus melakukan apa, kita merasa tidak punya ide, yang diperparah, keadaan tersebut selalu terjadi saat kita berada pada keadaan yang harus “berfikir atau melakukan sesuatu”, misalnya saat ujian, saat menyelesaikan laporan, atau memecahkan suatu masalah. Otak kita rasanya buntu, dan rasanya kita tidak kreatif. Bukan hanya itu, kita tidak bisa menulis apa-apa karena tidak ada bayangan apa yang harus ditulis, sehingga hanya mampu menatap kertas kosong dengan perasaan tak berdaya. Nah,... jangan panik dulu. Ini bukan berarti kita telah pikun.

Sebenarnya, semua orang mempunyai potensi kreatif, dan semua orang dapat menemukan potensi kreatifnya yang tersembunyi. Sering kita tidak menyadari potensi kita atau lingkungan tidak mendukung kita menjadi pribadi yang kreatif, padahal, kreatifitas yang tidak digunakan akan terbuang percuma.

Kecerdasan kreatif atau creative intelligence dalam arti sederhana adalah kemampuan seseorang memecahkan persoalan sehari-hari. Kecerdasan kreatif berkaitan dengan cara kita melakukan berbagai hal dan juga hasil yang dicapai. Suatu aktifitas bisa dianggap kreatif kalau melibatkan suatu pendekatan baru atau unik, dan jika hasilnya dianggap berguna serta dapat diterima.

Kecerdasan kreatif berbeda dengan apa yang biasa kita sebut kecerdasan umum, karena kreatifitas berfokus pada cara berfikir dan hasrat untuk mencapai sesuatu yang baru atau berbeda. Tipe kecerdasan kreatif menurut Alan J. Rowe ada empat yaitu:

  1. Intuitif. Tipe ini menggambarkan individu-individu yang banyak akal dan menekankan pada pencapaian hasil, kerja keras, dan kemampuan menyelesaikan masalah, tipe ini berfokus pada hasil, menggunakan akal sehat, dan mengandalkan pengalaman pada masa lalu.
  2. Inovatif. Tipe ini menggambarkan individu yang selalu ingin tahu, menekankan pada daya cipta, eksperimen, dan sistematika informasi, tipe ini mengatasi kompleksitas dengan mudah.
  3. Imaginatif. Tipe ini menggambarkan individu-individu yang penuh pemahaman dan mampu mengidentifikasi peluang potensi, tipe ini juga bersedia mengambil resiko dengan melanggar tradisi, mempunyai pikiran yang terbuka dan sering mengandalkan humor untuk menyampaikan gagasannya.
  4. inspirasional. Tipe ini menggambarkan individu-individu yang penghayal, mempunyai sudut pandang yang positif dan berorientasi pada aksi terhadap kebutuhan masyarakat dan bersedia untuk mengorbankan diri demi mencapai tujuannya. Tipe ini berfokus untuk memperkenalkan perubahan demi membantu sesamanya.

Kreativitas seseorang sangat bergantung kepada keadaan masyarakat tersebut berada (faktor survival, prestige, ekonomi, dan politik menjadi sangat penting). Kreativitas tumbuh pada lingkungan yang kondusif; kreativitas tidak berkembang pada lingkungan yang stagnan. Pada gilirannya, kreativitas dan inovasi dari suatu masyarakat atau bangsa akan sangat menentukan nasib bangsa tersebut di dalam sejarah.

Adakah cara yang dapat meningkatkan potensi kreatif kita?

  1. Belajar dari orang lain, dengan menilik kehidupan orang-orang terkenal, yang telah menunjukkan kemampuan kreatifnya. Seperti apakah mereka? Faktor-faktor apa atau kondisi bagaimana yang membantu mereka menjadi kreatif?
  2. Keterbukaan akan pemikiran/ide hal-hal yang baru. Jangan ragu untuk belajar hal-hal yang baru.
  3. Selalu berusaha menambah kemampuan untuk memecahkan masalah.
  4. Tentukan waktu yang tepat untuk belajar. Ada orang yang cocok belajar di pagi hari, ada pula yang di siang hari. Selesaikan masalah, atau tugas-tugas di waktu yang tepat itu.
  5. Giat menimba ilmu pengetahuan, dan terus-menerus mencari informasi baru. Bila kita berhenti mencari informasi atau pengetahuan baru, maka kita akan merasa otak kita tumpul, karena lama tidak diasah. Maka kita harus belajar secara rutin dan terus-menerus. Belajar dan melatih kemampuan yang baru didapat dengan berulang-ulang akan mengubah organisasi internal otak, yang pada akhirnya akan sangat membantu dalam melakukan proses mengingat. Jadi kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.
  6. Catatlah hal-hal yang dianggap penting, karena bila kita lupa, kita bisa membuka catatan. Curahkan perhatian pada hal-hal penting tersebut.
  7. Membuat hubungan antara informasi yang baru dengan informasi yang lama, berusaha menemukan solusi lain dari masalah berdasarkan rangkaian informasi. Sehingga kemampuan untuk merestrukturisasi konsep/informasi yang telah ada dan/atau memasukan unsur asing pada konsep/informasi tersebut perlu dilatih terus.
  8. Memupuk keberanian untuk berfikir dan bertindak berbeda serta mengambil resiko
  9. Berada pada lingkungan yang kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya imajinasi. Hindari hal-hal yang yang menghambat kreatifitas anda, misal tempat yang bising akan menghambat imajinasi anda. Tempat yang nyaman, dan rasa cinta akan menumbuhkan ide kreatif dalam diri anda. Bila kita mencintai suatu pekerjaan, maka akan banyak ide kreatif muncul.
  10. Adanya curiosity (kepenasaranan), inquisitive (keinginan untuk menyelidiki), serta kemauan untuk bekerja keras.
  11. Berikan kesempatan kepada ide-ide kita untuk terwujud. Bila kita telah memiliki ide baru, segera tuangkan ide tersebut, jangan ditunda-tunda. Ide anda itu pasti sangat cemerlang. Yakinlah. Wujudkan ide anda, luangkan waktu untuk mewujudkan ide anda walau sejenak. Bila berhasil, maka sejenak waktu yang telah anda luangkan, akan memberikan kepuasan dalam waktu berlipat ganda dari ketika anda meluangkan waktu untuk mewujudkan ide tersebut.
  12. Berkumpullah dengan orang-orang yang anda anggap kreatif, jadikan mereka sumber untuk mendapatkan kreatifitas.

Persepsi dan Penyikapan Peserta Didik serta Guru SD Al Muslim Sidoarjo terhadap Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi (TVE) dalam Pembelajaran




Persepsi dan Penyikapan Peserta Didik serta Guru SD Al Muslim Sidoarjo terhadap Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi (TVE) dalam Pembelajaran Rr. Martiningsih*) tinink@gmail.com 


 Artikel ini telah dimuat di majalah VISI BPMTV Jatim 

 Abstrak TVE mulai disosialisasikan di Lembaga Pendidikan Al Muslim Cabang Jawa Timur sejak tanggal 30 September 2006, setelah penulis mengikuti Pelatihan Pemanfaatan Siaran TVE. Sebagai media, televisi memiliki empat fungsi, yakni fungsi komersial, hiburan, informasi, dan edukasi. Sayangnya, fungsi yang terakhir, yakni edukasi, kerap terabaikan. Sebagai penyeimbang membeludaknya acara hiburan, kini televisi edukasi menjadi penting. Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru melakukan hal-hal yang dilihat ketimbang hal-hal yang didengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) telah mencanangkan dimulainya siaran Televisi Edukasi (TVE) pada tahun 2003. Harapannya tentu saja televisi edukasi dapat menambah wawasan di samping sebagai sumber belajar yang datang menghampiri anak-anak. Karena itulah, tulisan ini mencoba berbagi informasi tentang pengalaman Lembaga Pendidikan Al Muslim, khususnya para peserta didik dan guru SD dalam memanfaatkan siaran TVE, baik yang berkaitan dengan persepsi maupun penyikapan mereka terhadap siaran TVE. Diharapkan tulisan ini dapat menjadi salah satu masukan dalam upaya untuk lebih meningkatkan pemanfaatan siaran TVE oleh sekolah dan peserta didik. Kata-kata Kunci: TVE, pembelajaran, persepsi dan penyikapan terhadap siaran TVE. ------------------- *)Rr. Martiningsih, M.Pd. adalah guru matematika dan Kasi Reseach and Development, Lembaga Pendidikan Al Muslim Sidoarjo-Jawa Timur. A. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang pesat memungkinkan siapa saja dapat memperoleh informasi yang melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu, diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi agar dapat bertahan atau bahkan menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Salah satu cara untuk memperoleh informasi diantaranya adalah melalui televisi, lebih khusus televisi edukasi. Seperti pengalaman penulis melihat tayangan televisi edukasi, ternyata banyak hal menarik yang tidak diketahui penulis sebelumnya, misalnya apabila sebelum menonton TVE penulis hanya tahu bahwa semangka berbentuk bulat saja, tetapi setelah menonton TVE ternyata semangka ada yang berbentuk kubus atau balok, karena ketika semangka tersebut kecil, dimasukkan dalam kotak kaca yang berbentuk kubus atau balok, sehingga pertumbuhan buah semangka mengikuti bentuk kaca. Itu adalah satu contoh dari sekian banyak materi tayangan TVE yang semuanya menarik. Dari ketertarikan terhadap tayangan TVE, penulis telah melakukan sosialisasi pada guru di Lembaga Pendidikan Al Muslim (KB-TK-SD-SMP) sejak tanggal 30 Sempember 2006. Menurut Elsya Tri Ahaddini (http://www.pikiran-rakyat.com), efek tayangan televisi pada anak-anak memang luar biasa. Contohnya tayangan "smack down" di televisi. Tayangan ini dengan cepatnya “merasuki” diri anak-anak sehingga mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena efek negatifnya yang besar, maka program ini kemudian dilarang pemerintah untuk diteruskan. Memang ada dan banyak sisi positif siaran televisi, antara lain misalnya adalah bahwa anak-anak lebih cepat menyerap dan memahami berbagai istilah ilmiah populer, memiliki kosakata yang lebih banyak, mendapatkan tambahan pengetahuan dan memiliki wawasan yang lebih luas, dan mengikuti berbagai peristiwa mutakhir yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Satu hal yang penting dan mungkin luput dari pemikiran kita adalah memberikan kegiatan-kegiatan alternatif agar anak-anak tidak sampai "kecanduan" menonton siaran televisi termasuk juga menghindarkan anak-anak dari cara menonton televisi yang kurang baik. Alternatif kegiatan lain adalah dengan cara melibatkan anak dalam kursus-kursus, mengajak anak mengembangkan minat dan bakatnya seperti bermain alat musik, menyanyi, bela diri, atau mengajak bermain, berekreasi, bahkan sekadar jalan-jalan bersama. Anak-anak sedang dalam proses sosialisasi nilai-nilai dan pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih dewasa. Sesuai dengan perkembangan usianya, anak-anak sangat dipengaruhi lingkungannya, termasuk apa yang mereka tonton di televisi. Para penyelenggara siaran televisi perlu menyadari apakah yang mereka sajikan memiliki dampak besar pada pembentukan watak dan nilai pada anak-anak. Oleh karena itu, dalam menyeleksi program-program tayangan, seyogianya stasiun televisi melihat kemungkinan dampak negatif terhadap anak-anak yang adalah harapan dan penerus bangsa dalam dunia yang semakin kompetitif ini. Alangkah baiknya kalau stasiun televisi menyiarkan program-program yang membantu pendidikan dan perkembangan anak (http://almira-online. port5.com/artikel/artikel _p4.htm) Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan kehidupan masyarakat, kelompok, dan individu (Mulyasa, 2005b). Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa serta sarana dalam membangun watak bangsa (Mulyasa, 2005b). Oleh karena itu tentu saja, orang tua, guru, dan masyarakat harus benar-benar memberikan hal-hal positif yang mendukung perkembangan pendidikan. Menurut Mulyasa, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik (Mulyasa, 2005a). Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal, peserta didik dapat termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan lingkungan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. TVE adalah salah satu sumber belajar yang telah didesain khusus bagi pembelajaran (media by design). Diharapkan tayangan TVE dapat meningkatkan kualitas pembelajaran karena memotivasi siswa untuk belajar. Namun pada kenyataannya, guru jarang sekali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar walaupun mereka memahami bahwa strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Mengapa terjadi keadaan yang demikian ini? Apabila guru ditanya mengenai hal ini, maka kemungkinan akan banyak alasan pembenaran yang diajukan. Sebagian guru mungkin akan mengatakan bahwa mengajar dengan menggunakan buku teks saja, para peserta didiknya sudah memperlihatkan prestasi belajar yang memadai atau bahkan membanggakan. Kemungkinan sebagian guru lainnya akan mengatakan bahwa mencari sumber-sumber lainnya di luar buku teks yang sudah ditetapkan tentulah menyita waktu di samping membutuhkan biaya. Sebagian guru lainnya kemungkinan akan mengatakan bahwa untuk apa repot-repot memikirkan pemanfaatan berbagai sumber belajar dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) jika tidak ada konsekuensinya yang dapat dirasakan (Siahaan, 2007). Lebih jauh, Sudirman Siahaan mengemukakan berbagai upaya pemanfaatan siaran televisi untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran telah pernah dilakukan, baik oleh stasiun televisi pemerintah maupun swasta. Penyelenggaraan siaran televisi untuk untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran antara lain ditayangkan dalam bentuk sinetron seperti film serial Aku Cinta Indonesia atau ACI, “Si Unyil”, “Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS)”, “National Geographic”, “Sesame Street”, “Dora The Explorer”, “Square One” atau mungkin juga yang dikemas dalam bentuk show seperti “Who Wants To be A Millionaire”, "Siapa Berani", serta kuis ilmiah "Galilleo". Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, masyarakat pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam KBM. Atas dasar pemikiran tersebut di atas, penulis ingin mengungkapkan hasil penelitian sederhana tentang persepsi dan penyikapan peserta didik serta guru SD di Lembaga Pendidikan Al Muslim Sidoarjo-Jawa Timur terhadap pemanfaatan siaran Televisi Edukasi (TVE). B. Sumber Data Televisi Edukasi sebenarnya telah dimanfaatkan di Lembaga Pendidikan Al Muslim yang meliputi jenjang KB, TK, SD, dan SMP. Hanya yang dijadikan subyek dalam penulisan ini adalah seluruh guru dan karyawan di lingkungan Lembaga Pendidikan Al Muslim dan seluruh siswa kelas V yang seluruhnya berjumlah 82 orang, yang tersebar dalam 4 kelas. Kelas V ini dipilih, karena ketika penulis menulis tulisan ini seluruh siswa kelas V telah memanfaatkan siaran televisi edukasi dalam pembelajaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2007-2008. Berikut ini disajikan keadaan subyek penelitian yang menjadi responden dalam penelitian ini: Tabel 1 Data Keadaan Guru dan Karyawan Al Muslim Sidoarjo Pekerjaan Jumlah Guru 81 Karyawan 21 Jumlah 102 Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur Tabel 2 Data Keadaan Siswa Kelas V SD Al Muslim Sidoarjo Tahun Pelajaran 2007-2008 Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah V A 13 10 23 V B 9 9 18 V C 11 9 20 V D 12 9 21 Jumlah 45 37 82 Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur C. Pembahasan 1. Pemanfaatan Program Siaran TVE di SD Al Muslim Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini disebarluaskan kepada para guru dan telah dimanfaatkan di SD Al Muslim, di mana ketiganya seperti yang diungkapkan oleh Sudirman Siahaan (Siahaan, 2007), yaitu sebagai berikut: a. Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung) Setiap guru dan karyawan di Lembaga Pendidikan Al Muslim menyatakan perlu mempergunakan televisi dalam pembelajaran, dan seluruhnya juga menyatakan perlu mempergunakan RPP yang sesuai untuk memanfaatkan televisi dalam pembelajaran. Mengingat peserta didik yang menjadi prioritas garapan siaran TVE, maka dalam kegiatan pembelajaran, maka setiap guru telah diajarkan menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Setelah mengetahui/menerima jadwal siaran TVE, maka guru merencanakan pelaksanaan pemanfaatan siaran TVE secara langsung. Bagi guru yang karena satu dan lain hal tidak dapat memanfaatkan siaran TVE secara langsung, dapat merencanakan pemanfaatan VCD-nya sesuai dengan jadwal pelajaran sekolah yang telah disusun. Sekalipun misalnya jadwal pemanfaatan siaran TVE telah disusun guru, tetapi ada baiknya juga apabila guru menginformasikannya kepada para peserta didiknya tentang rencana pemanfaatan siaran TVE. Informasi yang disampaikan kepada para peserta didik tentunya tidak hanya terbatas pada waktu dan tempat, tetapi juga tentang topik yang akan dibahas dan persiapan yang perlu dilakukan peserta didik (Siahaan, 2007). Kemudian, pada Hari H-nya sebelum waktu penayangan siaran TVE dimulai, berbagai persiapan yang perlu dilakukan guru antara lain adalah: pengaturan ruangan dan tempat duduk peserta didik, penempatan pesawat TV, penyetelan pesawat TV ke saluran TV yang akan diikuti, dan penyetelan volume suara TV. Manakala semuanya sudah siap, barulah peserta didik dipersilakan masuk untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media siaran TVE. Beberapa menit sebelum mengikuti penayangan siaran TVE, guru mempersiapkan peserta didiknya agar siap mengikuti siaran TVE melalui penyampaian bahan appersepsi dan diikuti dengan penjelasan tentang kompetensi yang perlu dikuasai peserta didik, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Sewaktu tayangan dimulai, di saat peserta didik sibuk mengikuti tayangan siaran TVE, guru dapat mengamati peserta didik yang kemungkinan menghadapi masalah, membuat catatan tentang materi pelajaran yang memerlukan penjelasan tambahan, dan sekaligus juga guru menjaga ketertiban dan kenyamanan kelas. Setelah tayangan siaran TVE selesai, guru memberikan: (1) berbagai penjelasan tentang materi tayangan yang dinilai kemungkinan masih belum dipahami peserta didik, (2) kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan dan komentar, (3) memberikan tes tentang materi pelajaran yang baru saja dipelajari peserta didik melalui tayangan siaran TVE, dan (4) memberikan tugas untuk dikerjakan peserta didik di rumah, baik yang tugas individual maupun kelompok (tindak lanjut). b. Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan Berdasarkan jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pada hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya. Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya, berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar. Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik (Siahaan, 2007). Beberapa kendala yang dialami untuk penugasan ini adalah tidak semua guru atau siswa dapat menangkap siaran TVE di rumah mereka, dikarenakan kendala geografis atau terganggu gelombangnya oleh gelombang yang lain, karena stasiun rellay yang terdekat adalah Televisi pendidikan Jatim yang berada di Genteng Kali, sehingga antena harus diarahkan ke Genteng Kali. Bahkan juga ada siswa yang tidak memiliki televisi di rumahnya. Sehingga penugasan yang berkaitan dengan TVE diutamakan di sekolah, dan tugas di rumah, misalnya mencatat berita di televisi tentang bencana alam atau yang lain, siswa diperkenankan mencari dari stasiun televisi manapun. c. Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong Manakala setiap guru telah terkondisi untuk melakukan persiapan sebelum berdiri di dalam kelas, maka ketidakhadiran guru di kelas karena sesuatu hal, hendaknya tidak membuat kegiatan pembelajaran terhenti. Persiapan guru yang dimaksudkan adalah membuat RPP yang sudah seyogianya rutin dilakukan guru, menyiapkan bahan-bahan pembelajaran yang di antaranya dapat berupa siaran TVE atau rekamannya (VCD Pembelajaran). Dengan persiapan yang telah dilakukan akan membantu guru piket atau guru serumpun untuk mengisi jam pelajaran kosong yang ada. Intinya adalah bahwa peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana biasanya. Guru piket atau guru serumpun tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti (guru piket atau guru serumpun) dapat mencatatnya dan menyampaikannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut (Siahaan, 2007). 2. Persepsi dan Penyikapan Siswa terhadap Siaran TVE Data tentang persepsi dan penyikapan siswa terhadap siaran televisi edukasi (TVE) didapat dari pengisian angket yang dilakukan oleh siswa kelas V pada bulan Oktober 2007 (Matiningsih, 2007). Fokus materi pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik melalui angket mencakup (a) perasaan saat menonton siaran Televisi Edukasi, (b) alasan menyenangi siaran pembelajaran yang disajikan melalui TVE, (c) pernah-tidaknya menonton TVE di rumah, dan (d) Acara TVE yang paling disenangi, maka data-data tersebut diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram berikut: 2.1 Pertanyaan Pertama Pada pertanyaan pertama, responden diminta memilih salah satu dari pilihan jawaban yang disediakan. Pertanyaannya adalah: Senangkah kamu bila menonton siaran televisi edukasi di sekolah? Pilihan jawabannya adalah: (a) senang, (b) biasa, (c) tidak senang. Jawaban responden terhadap pertanyaan pertama disajikan pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Pertama Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase a. Senang bila menonton siaran Televisi Edukasi (TVE) di sekolah 67 81,7 b. Perasaan saat menonton siaran Televisi Edukasi di sekolah adalah biasa, seperti pembelajaran sehari-hari. 13 15,9 c. Perasaan saat menonton siaran Televisi Edukasi (TVE) di sekolah adalah tidak senang. 2 2,4 Jumlah 82 100,0 Sumber: R&D Al Muslim Tabel 2 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (81,7%) menyatakan bahwa mereka senang menonton siaran TVE di sekolah. Bagi siswa yang memiliki perasaan biasa saat menonton tayangan siaran TVE di sekolah adalah karena mereka merasa apa yang mereka lihat di televisi sama dengan yang diterangkan guru. Sedangkan bagi siswa yang tidak senang menonton siaran TVE adalah karena siswa tersebut merasa malas untuk pindah kelas untuk menonton televisi di ruang lain. Hal ini disebabkan karena televisi di Lembaga Pendidikan Al Muslim-Sidoarjo hanya berada di ruang tertentu, sehingga menerapkan sistem siswa yang rotatif (moving class) dalam menonton siaran TVE. 2. 2 Pertanyaan Kedua Pertanyaan kedua yang diajukan kepada responden adalah: Mengapa kamu senang dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) senang karenamenambah ilmu pengetahuan, (b) senang karena mempergunakan televisi, (c) senang karena tidak membosankan. Jawaban responden terhadap pertanyaan kedua ini disajikan pada Tabel 3 berikut. Tabel 3 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Kedua Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase a. Senang karena menambah ilmu pengetahuan 68 82,9 b. Senang karena mempergunakan televisi 6 7,3 c. Senang karena tidak membosankan 8 9,8 Jumlah 82 100,0 Sumber: R&D Al Muslim Berdasarkan Tabel 3 dapatlah dikemukakan bahwa sebagian besar responden (82,9%) memberikan alasan bahwa mereka menyenangi kegiatan pembelajaran melalui TVE karena menambah ilmu pengetahuan, sehingga apa yang tidak tersampaikan guru bias disajikan dengan baik oleh siaran Televisi Edukasi (TVE). Sedangkan alasan lainnya yang diajukan responden adalah karena kegiatan belajar dilakukan dengan mempergunakan televisi (7,3%) dan senang karena tidak membosankan (9,8%). 2. 3 Pertanyaan Ketiga Pertanyaan ketiga yang diajukan kepada responden adalah: Pernahkah kamu menonton TVE di rumah? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) pernah, dan (b) tidak pernah. Jawaban responden terhadap pertanyaan ketiga ini dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini. Tabel 4 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Ketiga Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase a. Pernah 49 59,8 b. Tidak Pernah 33 40,2 Jumlah 82 100,0 Sumber: R&D Al Muslim Tabel 4 mengemukakan bahwa lebih dari separoh responden (59,8%) menyatakan mereka pernah menonton TVE di rumah. Sedangkan responden lainnya (40,2%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah menonton siaran TVE di rumah. Satu dari responden yang menyatakan tidak pernah menonton siaran televisi di rumah memberikan alasan karena tidak memiliki televisi. Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan bahwa ada sebagian dari peserta didik asuhannya yang tidak pernah TVE di rumah. Dalam kaitan ini, para guru hendaknya mengupayakan dan merencanakan agar TVE dapat dimanfaatkan di sekolah seoptimal mungkin sehingga peserta didik yang tidak berkesempatan memanfaatkan tayangan TVE di rumah, masih berkesempatan mengikuti tayangan TVE di sekolah. 2.4 Pertanyaan Keempat Pertanyaan keempat adalah: Acara Televisi Edukasi (TVE) apa yang paling kamu senangi? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) pelajaran sekolah, (b) “Kampung Edu”, “Pentas Dongeng”, “Panggung Boneka”, (c) “Keterampilan”, “Hobby”. Pada Tabel 5 berikut ini disajikan jawaban responden terhadap pertanyaan keempat. Tabel 5 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Keempat Pilihan Jawaban Frekuensi Persentase a. Acara yang paling disenangi adalah pelajaran sekolah 20 24,4 b. Acara yang disenangi adalah Kampung Edu, Pentas Dongeng, Panggung Boneka 11 13,4 c. Acara yang disenangi adalah Kleterampilan, Hobby 15 18,3 d. Acara yang disenangi adalah ilmu pengetahuan yang berbeda dengan pelajaran sekolah 36 43,9 Jumlah 82 100,0 Sumber: R&D Al Muslim Dari Tabel 5 dapat dikemukakan bahwa jawaban responden sangat bervariasi 24,4% menyatakan siaran TVE yang paling disenangi adalah pelajaran sekolah. Yang menyatakan bahwa acara yang disenangi adalah ilmu pengetahuan yang berbeda dengan pelajaran sekolah menempati posisi terbesar yaitu 43,9%. Ini berarti pada dasarnya anak-anak suka akan hal-hal yang baru dan menarik. Responden lainnya (18,3%) menyampaikan bahwa acara yang disenangi adalah “Keterampilan” dan “Hobby” dan 13,4% menyatakan acara yang disenangi adalah “Kampung Edu”, “Pentas Dongeng” atau “Panggung Boneka”. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa tayangan yang mereka sukai adalah ilmu pengetahuan populer yang diadopsi dari luar negeri seperti DRTV atau VOA yang berbahasa Inggris sehingga banyak siswa tidak mengerti maknanya. Sekalipun demikian, mereka sebenarnya menyenangi siarannya dan berharap ada teks terjemahannya atau disulih dalam bahasa Indonesia (Martiningsih, 2007). 3. Persepsi dan Penyikapan Guru terhadap Siaran TVE a. Tidak Mengetahui Adanya Siaran TVE Dari kegiatan sosialisasi, sebagian besar guru belum mengetahui adanya siaran TVE, beberapa diantaranya telah mengetahui, namaun tidak bisa merellay dengan jelas, beberapa bisa merellay melalui TVRI, dan beberapa bisa merellay dengan baik. Lembaga Pendidikan Al Muslim telah menerima unit televisi Samsung 29 inch dari pemerintah di unit SMP, sehingga, bagi unit lain seperti SD atau TK bila ingin menonton TVE harus moving class ke SMP. Barulah setelah mengikuti kegiatan sosialisasi, berbagai informasi tentang TVE menjadi jelas bagi para guru, seperti: 1) hakekat penyelenggaraan siaran TVE dan institusi yang mengelola TVE, 2) fungsi siaran TVE dalam kegiatan pembelajaran, dan 3) cara atau pola memanfaatkan siaran TVE. b. Belum Mengetahui Cara-cara Pemanfaatan Siaran TVE dalam Pembelajaran Pada awal kegiatan sosialisasi, para guru mengemukakan bagaimana caranya agar siaran TVE dapat sesuai dengan jadwal pelajaran sekolah. Apabila kesesuaian yang demikian ini terjadi, pemanfaatan siaran TVE dalam kegiatan pembelajaran akan relatif lebih mudah diselenggarakan guru. Keseusaian yang dikehendaki guru tentulah tidak mungkin terjadi. Mengapa? Ada 3 alasan mengapa tidak mungkin menyesuaikan jadwal siaran TVE dengan jadwal pelajaran sekolah, yaitu: 1) adanya perbedaan waktu di Indonesia (WIB, WITA, dan WIT), 2) tidak semua mata pelajaran yang disajikan guru di sekolah ditayangkan melalui siaran TVE, 3) materi pelajaran yang ditayangkan melalui siaran TVE belum tentu sesuai dengan urutan materi pelajaran yang telah ditetapkan sekolah, dan 4) jadwal pelajaran sekolah antar sekolah saja sulit disamakan. Di dalam pertemuan sosialisasi, didiskusikan berbagai upaya atau cara yang dapat disiasati guru dalam membelajarkan peserta didiknya melalui pemanfaatan siaran TVE. Ada 3 cara atau pola pemanfaatan siaran TVE, yaitu: 1) Pemanfaatan siaran TVE secara langsung, yang berati guru mata pelajaran telah mempersiapkan RPP dantelah mengetahui jadwal siaran TVE, dan kemudian mengkondisikan peserta didiknya untuk mengikuti siaran TVE. 2) Pemanfaatan siaran TVE sebagai penugasan, di mana guru mata pelajaran menugaskan peserta didiknya untuk mengikuti siaran TVE, baik secara individual maupun kelompok kecil, baik di sekolah maupun di rumah. 3) Pemanfaatan siaran TVE sebagai pengisi jam-jam pelajaran kosong, di mana guru pembina mata pelajaran berhalangan hadir sehingga RPP yang telah dipersiapkan diserahkan kepada Kepala Sekolah untuk kemudian menugaskan guru piket atau guru serumpun untuk melaksanakannya. D. Simpulan dan Saran 1. Simpulan Beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian ini adalah bahwa: a. sebagian besar peserta didik Sekolah Dasar (SD).yang menjadi responden (81,7%) menyatakan bahwa mereka senang menonton siaran televisi edukasi (TVE) di sekolah. b. faktor yang melatarbelakangi mengapa peserta didik senang menonton siaran TVE adalah karena mereka dapat menambah ilmu pengetahuan (82,9%). c. selain di sekolah, lebih dari separoh peserta didik yang menjadi responden (59,8%) mengatakan bahwa mereka menonton siaran TVE di rumah. d. acara yang lebih banyak disenangi peserta didik adalah ilmu pengetahuan dengan alasan bahwa acara ilmu pengetahuan berbeda dengan pelajaran yang mereka dapatkan dari guru di sekolah (43,9%). e. pada umumnya para guru tidak atau belum mengetahui bahwa telah ada siaran TVE. Serta cara memanfaatkan tayangan TVE. 2. Saran-saran a. Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan. Karena itu, disarankan agar pemanfaatan siaran televisi edukasi terus ditingkatkan dan dikaji. b. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM). Para guru juga diharapkan dapat merencanakan dan memanfaatkan media TVE dalam kegiatan belajar-mengajar secara teratur sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman belajar dari sumber belajar yang berhubungan dengan materi pelajaran di luar guru. c. Kepala sekolah atau pengelola sekolah diharapkan dapat memfasilitasi pemanfaatan media TVE untuk pembelajaran dan sekaligus juga memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengikuti pelatihan mengenai pengembangan dan pemanfaatan siaran televisi. Kepustakaan Ahaddini, Elsya Tri. 2007. Merekonstruksi Televisi Pendidikan. (http://www.pikiran-rakyat.com/ cetak/2007/022007/10/99forumguru.htm). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. Teknologi Instruksional. Jakarta: P2LPTK. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Harry Puspito. 2007. Anak-anak dan Televisi. (http://almira-online.port5.com/artikel/artikel p4.htm). Martiningsih, Rr, 2007 Persepsi dan Penyikapan Peserta Didik SD Al Muslim Sidoarjo terhadap Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi (TVE) dalam Pembelajaran .Jakarta: Pustekkom-Depdiknas Mulyasa. 2005a. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mulyasa. 2005b. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Siahaan, Sudirman. 2007. Perkembangan Siaran Televisi Edukasi (TVE): Persepsi dan Penyikapan Guru. Jakarta: Pustekkom-Depdiknas.