Labels

Monday, October 20, 2008

Penelitian tentang Manfaat TVE di SMP Al Muslim

PENELITIAN EKSPERIMEN

Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo

sebelum dan sesudah Pembelajaran dengan TVE

Rr. Martinigsih*)

Abstrak

Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan dimanfaatkannya berbagai sumber belajar, siswa termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. Atas dasar pemikiran inilah, peneliti ingin mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah memanfaatkan Televisi Edukasi (TVE) dalam pembelajaran. Disimpulkan adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah memanfaatkan TVE. Perbedaan ini dikarenakan siswa dapat (1) mengembangkan kemampuan bernalar melalui pemanfaatan TVE, (2) menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari melalui tayangan TVE sehingga mampu menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, dan (3) menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pembelajaran melalui tayangan TVE.

Kata kunci: Media Pembelajaran TVE, Pembelajaran Matematika, Prestasi Belajar.

--------------------------

*) Rr. Martiningsih adalah guru Matematika dan Koordinator Laboratorium Audio Visual pada Lembaga Pendidikan Al Muslim Cabang Jawa Timur, Sidoarjo.

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan kehidupan masyarakat, kelompok, dan individu (Mulyasa, 2005b: 3). Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstribusi serta sarana dalam membangun watak bangsa (Mulyasa, 2005b: 4).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat memungkinkan siapa saja dapat memperoleh informasi yang melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu, diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi agar dapat bertahan atau bahkan menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Menurut Mulyasa (2005a: 47) salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal, peserta didik dapat termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan lingkungan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari.

Namun pada kenyataannya, guru jarang sekali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar walaupun mereka memahami bahwa walaupun strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Mengapa terjadi keadaan yang demikian ini? Apabila guru ditanya mengenai hal ini, maka kemungkinan akan banyak alasan pembenaran yang diajukan.

Sebagian guru mungkin akan mengatakan bahwa mengajar dengan menggunakan buku teks saja, para peserta didiknya sudah memperlihatkan prestasi belajar yang memadai atau bahkan membanggakan. Kemungkinan sebagian guru lainnya akan mengatakan bahwa mencari sumber-sumber lainnya di luar buku teks yang sudah ditetapkan tentulah menyita waktu di samping membutuhkan biaya. Sebagian guru lainnya kemungkinan akan mengatakan bahwa untuk apa repot-repot memikirkan pemanfaatan berbagai sumber belajar dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) jika tidak ada konsekuensinya yang dapat dirasakan.

Atas dasar pemikiran tersebut di atas, peneliti ingin mengetahui apakah memang ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah pemanfaatan TVE dalam KBM. Di samping itu, peneliti berpendapat bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah penting karena akan dapat lebih meyakinkan para guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran sehingga diharapkan akan termotivasi untuk merancang kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal. Selain itu, judul penelitian ini juga menarik minat peneliti karena berdasarkan pengamatan peneliti sejauh ini masih jarang sekali guru memanfaatkan berbagai sumber belajar pada umumnya dan media TVE pada khususnya dalam pembelajaran matematika. Yang secara umum terjadi adalah bahwa para guru cenderung untuk mengelola kegiatan pembelajaran secara konvensional.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah pembelajaran melalui pemanfaatan TVE.

2. Kajian literatur

Berbagai upaya pemanfaatan siaran televisi untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran telah pernah dilakukan, baik oleh stasiun televisi pemerintah maupun swasta. Penyelenggaraan siaran televisi untuk untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran antara lain ditayangkan dalam bentuk sinetron seperti film serial Aku Cinta Indonesia atau ACI, “Si Unyil”, “Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS)”, “National Geographic”, “Sesame Street”, “Square One” atau yang dikemas dalam bentuk kuis “cerdas cermat”.

Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, masyarakat pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Materi bahasan berikut ini akan mencakup konsep belajar dan media, media pembelajaran TVE, dan hakekat Matematika.

2.1 Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses berkesinambungan yang berlangsung seumur hidup. Menurut Callahan dan Clark (1983: 198) yang dikutip oleh Jacob Anaktototy (2001:2) bahwa, walaupun belajar berlangsung seumur hidup, namun disadari bahwa tidak semua belajar dilakukan secara sadar. Belajar juga diartikan sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dalam diri seseorang mengenai pengetahuan atau tingkah laku karena adanya pengalaman.

Pendapat tersebut di atas senada dengan pendapat Bower dan Ernes (1981: 11) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) yang mengatakan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dan tidak disebabkan oleh adanya kedewasaan. Belajar dapat terjadi dengan sengaja maupun tidak sengaja. Artinya aktivitas yang disengaja adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan mempunyai tujuan, yaitu untuk memperoleh satu pengalaman baru. Aktivitas belajar yang tidak sengaja merupakan suatu interaksi individu dengan lingkungan secara kebetulan dan melalui interaksi yang terjadi, individu mendapat pengalaman baru. Pendapat Romiszowski (1981:241) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tentang bidang yang dipelajari.

2.2 Pengertian Media

Mulyasa (2005a:48) berpendapat bahwa media belajar secara sederhana dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam proses belajar-mengajar. Menurut Mulyasa (2005a:47), salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya media pembelajaran secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik.

Pengertian media pembelajaran atau sumber belajar adalah segala sesuatu dari dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983:12). Dalam proses belajar, komponen sumber belajar ini mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Sumber belajar untuk pelajaran matematika adalah segala sesuatu, baik yang berwujud benda maupun orang yang dapat menunjang keinginan untuk belajar matematika. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh pembelajar sehingga terjadi perilaku belajar termasuk belajar matematika.

Sesuai dengan pedoman yang ditentukan Departemen Pendidikan Nasional (2003:1) tentang pelaksanaan pembelajaran termasuk pembelajaran berbasis kompetensi, maka penentuan media pembelajaran (instructional media) dilakukan setelah identitas mata pelajaran, standar kompetensi, dan kompetensi dasar ditentukan. Dalam kaitan tampaklah bahwa media pembelajaran merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi. Secara garis besar, media pembelajaran dapat berfungsi membantu mempermudah peserta didik memahami pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan sikap atau nilai yang dipelajari.

Media pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar haruslah dipilih dengan tepat agar dapat seoptimal mungkin membantu peserta didik mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan. Menurut Djamarah (2002:136), pengertian media di lingkungan kegiatan belajar-mengajar merupakan wahana penyalur informasi belajar. Bila media dikatakan sebagai sumber belajar, maka manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dapatlah dikatakan sebagai media dalam pengertian yang luas.

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena pemanfaatan media sebagai perantara dapat memperjelas bahan atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sifatnya abstrak. Kerumitan atau kompleksitas bahan atau materi pelajaran yang akan disampaikanguru kepada peserta didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat membantu guru yang mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi bahasan tertentu secara verbal (melalui kata-kata). Bahkan obyek bahasan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, terlalu mahal untuk dihadirkanke dalam kelas, atau yang terlalu berbahaya untuk dibawa ke dalam kelas dimungkinkan untuk dipelajari peserta didik dengan bantuan media. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah mencerna bahan atau materi pelajaran dengan bantuan media.

Media juga seringkali diartikan sebagai alat yang dapat dilihat dan didengar. Alat-alat ini dipakai dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud untuk lebih mengefektifkan dan mengefisienkan proses komunikasi. Dengan menggunakan media, maka guru dan peserta didik dapat berkomunikasi lebih mantap, hidup, dan interaksinya bersifat banyak arah. Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986:4) dalam Arsyad (2006:4) bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut dengan media komunikasi.

Media pembelajaran yang menggunakan televisi tergolong alat-alat audiovisual murni (Wijaya,1991:140). Kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan TVE di dalam tulisan ini adalah yang dirancang dan dikembangkan oleh Pustekkom dan disalurkan (uplinked) ke satelit Telkom I serta yang diterus-siarkan oleh stsiun TVRI.

2.3 Hakekat Matematika

Matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:6) merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Agar pelajaran matematika lebih mudah dimengerti oleh peserta didik, maka proses penalaran induktif dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki peserta didik.

Kemahiran matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:10) merupakan kecakapan matematika yang perlu dimiliki peserta didik yang pembelajarannya tidak berdiri sendiri tetapi diintegrasikan dalam materi matematika. Kemahiran matematika disajikan secara eksplisit dalam bahan belajar agar dapat menjadi perhatian dan pertimbangan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa.

Kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika adalah sebagai berikut:

a. menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah,

b. memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah,

c. menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,

d. menunjukkan kemampuan strategik dalam membuat (merumuskan), menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan masalah, dan

e. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

Kecakapan tersebut di atas dapat dicapai dengan mempergunakan bahan belajar matematika yang sesuai.

3. Metodologi

3.1 Subyek Penelitian dan Sumber Data

Subyek atau populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo-Jawa Timur yang berjumlah 33 orang. Menurut Sugiyono (2004:55), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu.

3.2 Variabel

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab berubahnya variabel terikat (Sugiyono, 2004:3). Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Sugiyono, 2004:3). Berdasarkan pemahaman ini, maka variabel bebas dalam penelitian ini adalah media pembelajaran TVE; sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar peserta didik di bidang pelajaran Matematika.

3.3 Instrumen dan Analisis Data

Prestasi belajar peserta didik kelas IX SMP untuk mata pelajaran matematika, baik sebelum maupun sesudah pembelajaran dengan mempergunakan TVE diperoleh melalui penggunaan soal-soal tes pelajaran Matematika berdasarkan SKL (Standar Ketuntasan Lulusan). Tes adalah suatu alat pengumpul informasi yang bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan (Arikunto, 2005:33). Instrumen lain yang juga digunakan adalah angket.

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis yang ditentukan adalah uji t. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang membandingkan prestasi belajar matematika peserta didik kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah pemanfaatan TVE yang membahas materi pelajaran Matematika untuk kelas IX SMP.

4. Hasil Penelitian dan Bahasan

4.1 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika

Pada penelitian ini, data prestasi belajar Matematika peserta didik diperoleh dari hasil tes prestasi belajar matematika yang dilaksanakan sebelum dan setelah peserta didik mendapatkan perlakuan pembelajaran melalui pemanfaatan TVE, disajikan pada Tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1
Deskripsi Prestasi Belajar Matematika sebelum Perlakuan Pembelajaran dengan Media TVE

Prestasi Belajar

Frekuensi

Persentase

0-25

4

12,12

26-50

6

18,18

51-75

13

39,39

76-100

10

30,31

Jumlah

33

100,00

Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur

Dari informasi yang disajikan pada Tabel 1 di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut.

a. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 0 sampai dengan 25 sebanyak 4 orang (12,12%).

b. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 26 sampai dengan 50 sebanyak 6 orang (18,18%).

c. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 51 sampai dengan 75 sebanyak 13 orang (39,39%).

d. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 75 sampai dengan 100 sebanyak 10 orang (30,31%).

Selanjutnya, prestasi belajar Matematika sesudah memanfaatkan media TVE memperlihatkan perbedaan sebagaimana yang disajikan pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2
Deskripsi Prestasi Belajar Matematika Sesudah Perlakuan Pembelajaran dengan Media TVE

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

0-25

0

0,00

26-50

0

0,00

51-75

7

21,21

76-100

26

78,79

Jumlah

33

100,00

Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur

Tabel 2 di atas mengemukakan 3 kesimpulan, yaitu sebagai berikut.

a. Tidak ada responden yang nilai prestasi belajar Matematika-nya 50 ke bawah. Artinya, semua responden mencapai nilai 51 ke atas.

b. Jumlah responden yang nilai prestasi belajar Matematika-nya berada pada rentangan 51 sampai dengan 75 sebanyak 7 siswa (21,212%).

c. Sebagian besar responden (78,788%) mencapai nilai prestasi belajar pada rentangan 76 sampai dengan 100.

4.2 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan Media TVE

Fokus materi pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik melalui angket mencakup (a) pembelajaran yang disenangi siswa, (b) alasan menyenangi kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE, (c) pernah-tidaknya menonton TVE di rumah, dan (d) pendapat atau opini terhadap tayangan TVE, maka data-data tersebut diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram berikut:

4.2.1 Pertanyaan Pertama

Pada pertanyaan pertama, responden diminta memilih salah satu dari pilihan pertanyaan yang disediakan. Pertanyaannya adalah: Pada saat pembelajaran berlangsung, kegiatan pembelajaran mana yang paling kamu senangi? Pilihan jawabannya adalah: (a) kegiatan pembelajaran di kelas oleh guru tanpa media, (b) kegiatan pembelajaran di kelas oleh guru dengan menggunakan media, (c) kegiatan pembelajaran di kelas atau lab audiovisual dengan menggunakan TVE dan didampingi oleh guru. Jawaban responden terhadap pertanyaan pertama disajikan pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Pertama

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Pembelajaran di kelas oleh guru tanpa media

2

6,06

b. Pembelajaran di kelas oleh guru dengan menggunakan media

1

3,03

c. Pembelajaran di kelas atau lab audiovisual dengan mengguna-kan TVE dan didampingi oleh guru

30

90,91

Jumlah

33

100,00

Tabel 3 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (90,909%) menyatakan bahwa mereka lebih menyenangi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas atau di ruang audiovisual dengan menggunakan TVE dan didampingi guru. Apabila dibandingkan antara pembelajaran dengan guru tanpa media atau media tanpa kehadiran guru, maka responden cenderung memilih kegiatan pembelajaran dengan guru tanpa media.

4.2.2 Pertanyaan Kedua

Pertanyaan kedua yang diajukan kepada responden adalah: Mengapa kamu senang dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) senang karena belajarnya dengan menonton TV, (b) senang karena contoh-contoh yang disajikan jelas, (c) senang karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep disajikan dengan jelas sehingga mudah dipahami. Jawaban responden terhadap pertanyaan kedua ini disajikan pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Kedua

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Senang karena belajarnya dengan menonton TV

9

27,27

b. Senang karena contoh-contoh yang disajikan jelas

4

12,12

c. Senang karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep disajikan dengan jelas

20

60,61

Jumlah

33

100,00

Berdasarkan Tabel 4 dapatlah dikemukakan bahwa lebih dari separoh responden (60,60%) memberikan alasan bahwa mereka menyenangi kegiatan pembelajaran melalui TVE karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep yang disajikan melalui media TVE lebih jelas sehingga mudah dipahami. Sedangkan alasan lainnya yang diajukan responden adalah jarena kegiatan belajar dilakukan dengan menonton TV (27,27%) dan contoh-contoh yang diberikan jelas (12,12%).

4.2.3 Pertanyaan Ketiga

Pertanyaan ketiga yang diajukan kepada responden adalah: Pernahkah kamu menonton TVE di rumah? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) pernah, dan (b) tidak pernah. Jawaban responden terhadap pertanyaan ketiga ini dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Ketiga

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Pernah

22

66,67

b. Tidak Pernah

11

33,33

Jumlah

33

100,00

Tabel 5 mengemukakan bahwa lebih dari separoh responden (66,667%) menyatakan mereka pernah menonton TVE di rumah. Sedangkan responden lainnya (33,333%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah menonton siaran TVE di rumah. Karena itu, guru perlu memperhatikan bahwa sebagian dari peserta didik asuhannya tidak pernah TVE di rumah. Dalam kaitan ini, para guru hendaknya mengupayakan dan merencanakan agar TVE dapat dimanfaatkan di sekolah sehingga peserta didik yang tidak berkesempatan memanfaatkan tayangan TVE di rumah, masih berkesempatan mengikuti tayangan TVE.

4.2.4 Pertanyaan Keempat

Pertanyaan keempat adalah: Bagaimana pendapatmu tentang acara TVE? Pilihan jawaban yang disedeiakan adalah: (a) bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan, (b) menarik karena contoh yang diperagakan jelas, (c) perlu ditingkatkan dengan pembelajaran yang lebih menarik lagi. Pada Tabel 6 berikut ini disajikan jawaban responden terhadap pertanyaan keempat.

Tabel 6
Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Keempat

Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase

a. Bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan

18

54,55

b. Menarik karena contoh yang diperagakan jelas

5

15,15

c. Perlu ditingkatkan dengan pembelajaran yang lebih menarik

10

30,30

Jumlah

33

100,00

Dari Tabel 6 dapat dikemukakan bahwa lebih dari separoh responden (54,545%) menyatakan siaran TVE dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan mereka. Sebagian kecil responden (15,152%) mengemukakan pendapatnya bahwa siaran TVE menarik karena menyajikan contoh-contoh secara jelas. Responden lainnya (30,303%) justru menyampaikan pendapatnya dalam bentuk saran, yaitu agar siaran TVE lebih ditingkatkan lagi daya tariknya.

4.3 Analisis Data

Pada bagian ini akan dijelaskan hasil perhitungan statistik untuk uji hipotesis. Hipotesis penelitian yang dirumuskan adalah:

Ha : Hipotesis kerja yang berbunyi ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah mempergunakan TVE.

Ho : Hipotesis nol berbunyi tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah mempergunakan TVE.

Untuk menguji hipotesis di atas dipergunakan uji t dengan menggunakan software SPSS 12. Hasil perhitungan dengan SPSS 12 didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 7
Paired Samples Statistics


Mean

N

Std. Deviation

Std. Error Mean

Pair 1

SebelumTVE

62,61

33

24,865

4,328


SesudahTVE

84,21

33

10,816

1,883

Dari hasil tersebut terlihat bahwa rata-rata nilai peserta didik sebelum pembelajaran dengan TVE adalah 62,61 dengan standar deviasi 24,865; sedangkan setelah pembelajaran dengan TVE, rata-rata prestasi peserta didik adalah 84,21 dengan standar deviasi 10,816.

Tabel 8
Paired Samples Correlations


N

Correlation

Sig.

Pair 1

Sebelum TVE dan sesudah TVE

33

0,268

0,131

Hasil korelasi menunjukkan nilai sebesar 0,268 dengan taraf signifikasi 0,131.

Tabel 9
Paired Samples Test

Paired Differences

t

df

Sig. (2-tailed)

Pair 1

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the Difference




SebelumTVE - SesudahTVE




Lower

Upper




-21,606

24,31

4,232

-30,226

-12,986

-5,106

32

0

Rata-rata perbedaan prestasi belajar matematika sebelum pembelajaran dengan TVE dan sesudah pembelajaran dengan TVE adalah 21,606, dengan standar deviasi 24,310. Hasil penghitungan t statistik menghasilkan nilai minus 5,106 dan signifikasi 0,000.

Dengan hasil signifikasi 0,000 bisa diambil keputusan untuk menolak Ho yang berbunyi tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE serta menerima Ha yang berbunyi bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE. Karena level signifikasi lebih kecil daripada alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan TVE memberikan pengaruh secara signifikan.

5. Simpulan dan Saran

5.1 Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika peserta didik kelas IX SMP Al Muslim yang signifikan antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE.

5.2 Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan yang dihasilkan, maka saran-saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

5.2.1 Siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan memanfaatkan siaran TVE, melakukan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan.

5.2.2 Siswa diharapkan dapat menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pengalaman belajar melalui tayangan TVE.

5.2.3 Guru diharapkan dapat menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah melalui tayangan TVE.

5.2.4 Guru diharapkan dapat merencanakan dan memanfaatkan media TVE dalam kegiatan belajar-mengajar secara teratur sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman belajar dari sumber belajar yang berhubungan dengan materi di luar guru.

5.2.5 Kepala sekolah atau pengelola sekolah diharapkan dapat memfasilitasi pemanfaatan media TVE untuk pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan mengoperasionalisasikan televisi agar mereka dapat memanfaatkan TVE secara teratur.

Pustaka Acuan

Anaktototy, Jacob. 2001. Hasil Belajar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP & MTs. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. Teknologi Instruksional. Jakarta: P2LPTK.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Mulyasa. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa.2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Trihendradi, Cornelius. 2005. SPSS 12 Statistik Inferen Teori Dasar & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Pemanfaatan Siaran TVE di SMP Al Muslim




Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran

Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd.

Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim Sidoarjo

Abstrak

Sebagai media, televisi memiliki empat fungsi, yakni fungsi komersial, alat hiburan, penyampai informasi, dan edukasi. Fungsi yang terakhir, yakni edukasi, kerap terabaikan. Sebagai penyeimbang membeludaknya acara hiburan, kini televisi edukasi menjadi penting. Siaran TVE diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan dimanfaatkannya berbagai sumber belajar, siswa termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. Atas dasar pemikiran inilah, penulis ingin memaparkan pemanfaatan Televisi Edukasi (TVE) dalam pembelajaran.

Kata kunci: Pemanfaatan Siaran TVE, Belajar, Pembelajaran Prestasi Belajar.

A. Pendahuluan

Sebagai media, televisi memiliki empat fungsi, yakni fungsi komersial, alat hiburan, penyampai informasi, dan edukasi. Sayangnya, fungsi yang terakhir, yakni edukasi, kerap terabaikan. Sebagai penyeimbang membeludaknya acara hiburan, kini televisi edukasi menjadi penting. Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) telah mencanangkan dimulainya siaran Televisi Edukasi (TVE) pada tahun 2003. Harapannya tentu saja televisi edukasi bisa menambah wawasan dan kepintaran.

Efek tayangan televisi pada anak-anak memang luar biasa. Contoh paling jelas adalah berjatuhannya korban-korban "Smack Down", gara-gara memasyarakatnya aksi kekerasan via televisi. Sisis positifnya, anak-anak sekarang lebih cepat menyerap dan memahami berbagai istilah ilmiah populer dibanding masa lalu. Mereka juga, cenderung memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Jujur saja, dalam hal ini, televisi punya andil.

Nilai-nilai yang ditampilkan oleh tontonan mereka, seperti materialisme, kekerasan, mistik seperti pada cerita-cerita misteri akan mewarnai benak anak-anak. Oleh karena itu, kita hendaknya mengatur kegiatan menonton televisi, memilihkan program-program televisi yang cocok dengan pertumbuhan anak dan baik untuk mendapatkan manfaat dari media televisi, meminimalkan dampak negatif media itu terhadap anak mereka.

Anak-anak sedang dalam proses sosialisasi nilai-nilai dan pembelajaran untuk menjadi manusia dewasa. Karena usianya, anak-anak sangat dipengaruhi lingkungannya, termasuk apa yang mereka tonton di televisi. Para penyelenggara siaran televisi perlu menyadari apakah yang mereka sajikan memiliki dampak besar pada pembentukan watak dan nilai-nilai anak-anak.

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik, misalnya tayangan TVE (Televisi Edukasi). Seluruh SMP Negeri maupun Swasta telah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa 2 buah televisi 29 inch. Tetapi jarang yang memanfaatkan televisi tersebut untuk menonton TVE, dengan alasan tidak ada petunjuk, tidak ada pemberitahuan, dan sejenisnya. Pada kenyataannya, guru jarang sekali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan televisi sumber belajar walaupun mereka memahami bahwa walaupun strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Mengapa terjadi keadaan yang demikian ini? Apabila guru ditanya mengenai hal ini, maka kemungkinan akan banyak alasan pembenaran yang diajukan.

Pembelajaran dengan mempergunakan TVE penting dilakukan, karena dengan mempergunakan tayangan TVE dalam pembelajaran, maka guru dapat terbantu untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dibawa guru di kelas karena obyek pembelajaran terlalu kecil (misal: sel, atom, unsur, jaringan, dll), obyek pembelajaran terlalu besar (misal: gunung, samudra, pesawat udara, dll), kendala geografis (misal: hutan, jurang, pulau terpencil, dll), berbahaya (misal: bencana alam, ledakan nuklir, dll), informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah didapat guru semasa sekolah ataupun kuliah (misal:semangka berbentuk kubus atau balok).

Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, siswa pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).

B. Belajar, Pembelajaran, dan Sumber Belajar

Istilah belajar sudah terlalu sering kita dengarkan. Tidak hanya diucapkan atau digunakan di lingkungan pendidikan saja tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Bahkan di lingkungan keluarga, para orangtua sering dan tentunya juga tidak henti-hentinya mendorong anak-anaknya untuk selalu teratur belajar, baik di sekolah, di rumah, atau di tempat lain. Yang jelas, para orangtua selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar. Selain itu, para orangtua juga repot mencari tempat belajar tambahan agar anak-anaknya dapat lebih berhasil dalam kegiatan belajarnya.

Kita juga mengenal berbagai ungkapan yang mengatakan bahwa belajar dapat terjadi di mana saja. Belajar tidak mengenal batasan usia. Belajar juga tidak terbatas hanya bagi mereka yang masih berusia sekolah. Belajar juga terjadi bagi mereka yang telah bekerja dan bahkan yang sudah pensiun sekalipun. Belajar tidak hanya terbatas dari guru. Belajar dapat dari siapa saja. Belajar juga dapat melalui berbagai jenis media. Akhirnya, ada ungkapan sebagai penutup bahwa kegiatan belajar berlangsung sepanjang hayat.

Bila diamati dalam kehidupan sehari-hari, lebih khusus di lingkungan keluarga misalnya, berbagai kegiatan belajar dapat terjadi. Seorang ibu yang membimbing anaknya untuk dapat (a) tegak berdiri dan bahkan berjalan (dalam hal ini, anak yang belajar berdiri atau berjalan), (b) makan sendiri tanpa harus disuapin oleh ibu atau orang lain, (c) berbicara, (d) mandi sendiri, (e) berpakaian sendiri, (f) menghitung-membaca-menulis, dan masih banyak bidang lainnya.

Belajar menurut definisi yang paling sederhana adalah proses yang dilakukan seseorang untuk mengubah keadaannya dari tidak tahu menjadi tahu. Selain definisi diatas masih banyak lagi definisi lain mengenai belajar, tetapi biarlah kita gunakan definisi diatas untuk sebagai landasan pembahasan ini. Dari definisi itu dapat diambil kesimpulan bahwa dalam proses belajar, terdapat pelaku dan ada sesuatu yang dipelajari atau yang akan diketahui (Dwiyanto, Arif Rifai. 2000).

Belajar merupakan proses berkesinambungan yang berlangsung seumur hidup. Menurut Callahan dan Clark (1983: 198) yang dikutip oleh Jacob Anaktototy (2001:2) bahwa, walaupun belajar berlangsung seumur hidup, namun disadari bahwa tidak semua belajar dilakukan secara sadar. Belajar juga diartikan sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dalam diri seseorang mengenai pengetahuan atau tingkah laku karena adanya pengalaman.

Pendapat tersebut di atas senada dengan pendapat Bower dan Ernes (1981: 11) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) yang mengatakan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dan tidak disebabkan oleh adanya kedewasaan. Belajar dapat terjadi dengan sengaja maupun tidak sengaja. Artinya aktivitas yang disengaja adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan mempunyai tujuan, yaitu untuk memperoleh satu pengalaman baru. Aktivitas belajar yang tidak sengaja merupakan suatu interaksi individu dengan lingkungan secara kebetulan dan melalui interaksi yang terjadi, individu mendapat pengalaman baru. Pendapat Romiszowski (1981:241) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tentang bidang yang dipelajari.

Pembelajaran adalah proses yang kita lakukan untuk mengubah ketidakmampuan masa lalu menjadi bentuk kemampuan baru. Kemampuan di sini bisa berbentuk kuantitas atau kualitas dari kebiasaan, orang yang kita ajak bergaul dan paradigma dalam arti apa yang kita lakukan untuk mengabadikan warisan lama yang masih bagus dan apa yang kita lakukan untuk mengadopsi hal baru yang lebih bagus (Ubaydillah. 2004).

Mulyasa berpendapat bahwa sumber belajar secara sederhana dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam proses belajar-mengajar (Mulyasa, 2005).

Pengertian sumber belajar adalah segala sesuatu dari dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983). Dalam proses belajar, komponen sumber belajar ini mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Sumber belajar untuk pelajaran matematika adalah segala sesuatu, baik yang berwujud benda maupun orang yang dapat menunjang keinginan untuk belajar . Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh pembelajar sehingga terjadi perilaku belajar.

Menurut AECT, sumber belajar adalah semua hal (data, orang dan barang) yang dapat dipergunakan pebelajar, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, biasanya dalam situasi informal untuk memberikan fasilitas belajar. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang , alat, teknik dan latar (AECT, 1986).

Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar menurut AECT dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design)

Sumber belajar yang dirancang adalah sumber belajar yang memang disengaja direncanakan, dirancang, dan dibuat untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contoh: buku pelajaran, modul, program slide, program audio, transparansi, dan sebagainya.

b. Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utilization)

Sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran tetapi sudah tersedia di pasaran dan yang berkepentingan atau guru tinggal mengidentifikasi, memilih, dan memanfaatkannya bagi keperluan pembelajaran (learning resources by utilization). Contoh: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binantang, museum, sawah, terminal, surat kabar, dan sebagainya (Maolani, 2007).

Sumber belajar mencakup (1) semua sumber (baik berupa data, orang, atau benda) yang dapat diguakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi peserta didik. (2) lingkungan yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah sebagai sumber pengetahuan, dapat berupa manusia atau bukan manusia (Maolani, 2007).

C. Pola pemanfaatan Siaran TVE

Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:

a. Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung). Dimana agar pembelajaran selaras dengan jam tayang TVE, maka guru mendownload jadwal tersebut dari situs TVE di internet, atau melalui situs pencari (misal: Google). Selain itu, guru dapat merelay siaran dari TVRI, karena TVE telah melakukan kerjasama dengan stasiun TVRI, program TVE yang ditayangkan adalah diprioritaskan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris untuk peserta didik SMP dan MTs.

b. Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan. Berdasarkan jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pada hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya. Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya, berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar. Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik.

c. Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong. Apabila guru berhalangan hadir karena sesuatu hal, maka guru piket atau guru serumpun dapat mengisi jam pelajaran kosong yang ada dengan menayangkan siaran TVE. Intinya adalah bahwa peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana biasanya. Guru piket atau guru serumpun tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti (guru piket atau guru serumpun) dapat mencatatnya dan menyampaikannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut.

D. Model Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran

· Individual

Pemanfaatan sesuai kebutuhan, minat, waktu, dan tempat masing-masing individu

· Kelompok kecil

Pemanfaatan sekelompok siswa

· Klasikal

Pemanfaatan dilakukan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran di kelas

E. Pengaturan Ruangan

ukuran TV

M08

E. Pembelajaran Terintegrasi TVE

Persiapan:

l Jadwal sekolah menyesuaikan siaran

l Persiapan peralatan

l Persiapan ruangan

l Arahan petunjuk mengikuti siaran

Selama Mengikuti Siaran:

l Siswa mengikuti siaran

l Mencatat bagian-bagian penting

l Mencatat bagian yang tidak jelas/ kurang dipahami dan pada akhirnya ditanyakan setelah tayangan berakhir

Setelah Mengikuti Siaran:

l Tanya jawab

l Diskusi

l Mengerjakan soal-soal

l Tes/evaluasi

Tindak lanjut/Penugasan/PR

F. Simpulan dan Saran

Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan.

Pembelajaran dengan mempergunakan TVE penting dilakukan, karena dengan mempergunakan tayangan TVE dalam pembelajaran, maka guru dapat terbantu untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dibawa guru di kelas karena obyek pembelajaran terlalu kecil , obyek pembelajaran terlalu besar , kendala geografis, berbahaya, informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah didapat guru semasa sekolah ataupun kuliah.

Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, siswa pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Pustaka Acuan

AECT. 1986. Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Anaktototy, Jacob. 2001. Hasil Belajar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP & MTs. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. Teknologi Instruksional. Jakarta: P2LPTK.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dwiyanto, Arif Rifai. (2000). Teknologi dan Proses Belajar, sub tema “Knowledge Mobility”. (sumber dari internet: <http://digilib.itb. ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-proc-2000-arif-619-knowledge>).

Maolani, Ilam. (2007). Media Pembelajaran. (sumber dari internet: <http://gurupaismaalmuttaqin.blogspot.com/2007/11/media-pembelajaran-rangkuman-mata.html>).

Mulyasa. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa.2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Perjalananku Ketika Menjadi Duta TVE

Foto ini berlatar belakang danau sentani
Di bandar udara Sorong "Domine Eduard Osok"
Di Pintu Gerbang Jayapura
Samudra Pasifik nan indah
Di Masjid Akbar Makassar
Di pantai Losari Makassar
Di Tanjung Bunga Makassar
Di bandar udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Riau
Di kantor pos Senapelan Pekanbaru Riau
Alhandulillah, tiada daya dan kekuatan selain dari Allah semata

Wednesday, October 15, 2008

Beautiful Lake

How beautiful the lake..... I can enjoy the view happily Thanks to God Allah has sent everything to me
Blue... blue...blue The sky is blue The water is blue My veil is blue My t-shirt is blue My jeans is blue
How beautiful the lake..... The blue lake, but is my heart blue too?
How beautiful the lake..... Like me... Thanks to God Allah has sent everything to me Thanks Allah..., I love U

Thursday, September 25, 2008

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri,

Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.

Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke siang
dan Engkau masukkan siang ke malam.

Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati,
dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.

Engkau beri rizky siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisap.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui hati-hati ini berhimpun dalam cinta kepadaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syariatMu.
Teguhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cinta kasihnya.
Tunjukkanlah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahayaMu yang tidak pernah hilang.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepadaMu dan indahnya bertawakkal kepadaMu.
Hidupkanlah hati ini dengan ma'rifat kepadaMu.
Matikanlah ia dalam syahid di jalan Mu.
Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Ya Allah, kabulkanlah.
Dan sampaikan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh muslim dan muslimat.




mohon maaf lahir dan batin

Thursday, September 18, 2008

Good morning

Good morning every body... I hope all of u can enjoy the beautifull Thursday. God bless us! Allah keeps us warm day and night and Allah loves us longer than forever... I love u

Wednesday, September 17, 2008

In my dream




It is my dream

In my dream, I want to fly

In my dream...


Sunday, 1 am i has sahur at Mc.Donald Basuki Rahmat.
Pray subuh at Al Falah Mosque in Darmo
Enjoy all morning in Tea Garden in Lawang
10 am creambath at Rudy Hadisuwarno Salon
12 pm buy Buccherri shoes
2 pm pray dzuhur at near Hero Monument
go to cotton island after that
4 pm pray ashar
buy Paris Hilton Parfume at near Ampel Mosque
05.30 pm open fasting in Chubo Chubo Tunjungan Plaza
6 pm pray maghrib at TP Mosque
8.30 pm buy clothes
10 pm in the boarding house
and the dream is begining at 11 pm
I fly... to Lapindo
I fly... to Pasuruan
I fly ...to Probolinggo
I fly ...to Lumajang,

Wake up wake up
oh my God... I forget!!!!
I must wake up
I must pray isya, rowatip, tarawih, and witir
after that sleep again...
The drean to be continued
I fly ...to Jember
I meet my cupid of amor
Like Khalil Gibran he says many poem of love
I fly I fly

Wake up wake up
I must sahur
I must pray subuh

the dream to be contined

I fly...
Back to my boarding house

I am very tired, coz my dream tiredly.

Wednesday, August 27, 2008

Me


It is me...

Sekolah yang menjadi pelopor uks

Enam Ciri Utama

Enam ciri utama suatu sekolah untuk bisa menjadi sekolah yang mempromosikan/meningkatkan kesehatan, yaitu :

1. Melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan masalah kesehatan sekolah, yaitu peserta didik, orang tua, dan para tokoh masyarakat maupun organisasi-organisasi di masyarakat.

2. Berusaha keras untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman, meliputi sanitasi dan air yang cukup, pekarangan sekolah yang aman, bebas dari segala macam bentuk kekerasan dan pengaruh negatif serta bebas dari penyalahgunaan zat-zat berbahaya. Di samping itu, sekolah harus membina suasana yang memedulikan pola asuh, rasa hormat, dan saling percaya. Agar pelaksanaannya berjalan dengan baik, semua ini harus mendapat dukungan dari masyarakat.

3. Memberikan pendidikan kesehatan sekolah, dengan cara membuat kurikulum yang mampu untuk meningkatkan sikap dan perilaku peserta didik yang positif terhadap kesehatan, serta dapat mengembangkan berbagai keterampilan hidup yang mendukung kesehatan fisik, mental dan sosial. Serta dengan memerhatikan pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk guru maupun orang tua.

4. Memberikan akses (kesempatan) untuk dilaksanakannya pelayanan kesehatan di sekolah, yaitu dengan mengadakan penjaringan kesehatan bagi siswa baru, diagnosis dini, pemantauan dan perkembangan, imunisasi serta pengobatan sederhana. Agar pelaksanaan kegiatan ini berjalan dengan baik, sekolah perlu membina kerja sama dengan puskesmas setempat. Di samping itu, sekolah perlu membuat program-program makanan bergizi dengan memperhatikan keamanan makanan.

5. Menerapkan kebijakan-kebijakan dan upaya-upaya di sekolah untuk mempromosikan/ meningkatkan kesehatan, yaitu membuat kebijakan yang didukung oleh seluruh staf sekolah termasuk mewujudkan proses belajar mengajar yang dapat menciptakan lingkungan psikososial yang sehat bagi seluruh masyarakat sekolah. Dalam menerapkan kebijakan, pihak sekolah harus memberikan pelayanan yang adil untuk seluruh siswa. Termasuk membuat kebijakan dalam masalah penggunaan rokok, penyalahgunaan narkoba, alkohol, serta pencegahan segala bentuk kekerasan/ pelecehan.

6. Bekerja keras untuk ikut atau berperan serta meningkatkan kesehatan masyarakat, denganmemerhatikan adanya masalah kesehatan masyarakat yang terjadi, serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kesehatan masyarakat.