Labels

Wednesday, November 28, 2007

Kebiasaan yang baik

10 Kebiasaan Guru Yang Efektif 1. Tau Apa Yang Diajarkan 2. Mengajar Dan Mengarahkan Dengan Memberi Contoh 3. Menghargai Siswa 4. Memotivasi Siswa 5. Memahami Tujuan Pembelajaran 6. Mengajarkan Siswa Keterampilan Pemecahan Masalah. 7. Menggunakan Metode Yang Bervariasi 8. Mengembangkan Pengetahuan Pribadi Dengan Banyak Membaca 9. Mengajarkan Siswa Cara Mempelajari Sesuatu 10. Melaksanakan Penilaian Yang Tepat Dan Benar

my pictures

She is my beloved daughter
She always give her beautiful smile to me
She always give her warm greeting to me
She always give her joke, and make me happy
My beloved God
I know how wonderful world You have given to me
How smart daughter You have sent to me
How miracle life You have made to me
Allah
I know You love me
You love me longer than forever

Kano

Sendiri berkano biru sendiri mengarungi samudra yang membiru Terik mentari menerpaku Basah baju-bajuku Aku harus berjuang agar kano tidak timpang walau air tidak tenang walau ombak menerjang Aku kadang takut Nyaliku terkadang ciut Aku akan hanyut Di mana aku kan bergelayut Tapi aku tau Tuhanku selalu menjaga diriku Tuhanku menjaga dengan penuh cinta padaku Membuat hatiku damai tenang tanpa ragu

Wednesday, November 21, 2007

Doaku hari ini, Ketika Aku Jatuh Cinta Tuhan yang mencintaiku, kumohon pada Mu Ketika pada saatnya aku jatuh cinta Kuingin cintaku pada Mu tak berkurang Aku ingin walaupun aku jatuh cinta aku tetap cinta pada Mu Tuhanku Yang selalu cinta padaku Aku tetap ingin cinta Mu Walau suatu saat aku jatuh cinta Penuhilah hatiku dengan cinta-Mu yang tak terbatas Agar cintaku pada-Mu tetap utuh Tuhanku, aku mengerti Engkau mencintaiku Walau suatu saat aku jatuh cinta Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan cinta-Mu dan membuatku semakin cinta pada-Mu Tuhan Yang Mencintaiku Ketika suatu saat aku jatuh hati Pertemukanlah cinta kami Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu Tuhanku Yang Mencintaiku Yang kumohon adalah seandainya aku jatuh cinta tetap limpahkan cintaMu padaku Anugerahkanlah aku cinta-Mu... Cinta yang tak pernah luluh oleh waktu

Belajar Bahasa Inggris Pasti MUDAH

Bagaimana Belajar Bahasa Inggris yang Mudah? Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd. Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim Liburan semester ini, rencana apa yang ingin kamu lakukan? Belajar Bahasa Inggris? Ga Brani! Siapa takut! Sering kali timbul dalam benak kamu, alangkah susahnya belajar Bahasa Inggris. Perasan seperti itulah yang menyebabkan kamu tidak bisa walaupun belum dicoba. Padahal banyak sekali manfaat yang dapat kamu ambil bila kamu dapat berbahasa Inggris dengan baik. Bahasa Inggris merupakan syarat mutlak bagi kamu agar bisa mapan di era global ini, mempermudah kamu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan pekerjaan, mengikuti perkembangan dan teknologi, dan untuk dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang di seluruh dunia, baik secara langsung, ataupun melalui internet. Nah......... Bagaimana kamu dapat belajar Bahasa Inggris dengan mudah? Agar kemampuan Bahasa Inggris kamu meningkat, tentu saja kamu perlu memperbaiki kualitas bahasa Inggrismu. Ada beberapa hal yang akan mengubah kemampuan berbahasa Inggrismu menjadi lebih baik, apabila kamu menguasai cara belajar Bahasa Inggris yang baik. Berikut ini ada sejumlah cara yang dapat kamu terapkan, agar kamu mudah berbahasa Inggris. Memulai dari diri sendiri. Segala sesuatu yang dilaksanakan dengan keinginan yang kuat, belajar dengan sungguh-sungguh dengan hasrat kuat, keinginan dan harapan yang besar akan mencapai hasil yang baik. Cobalah memulai menulis buku harian dalam Bahasa Inggris, apabila ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa membuka kamus Bahasa Inggris. Menambah kosa kata. Cobalah membuat kartu-kartu kecil berisi nama-nama benda di dalam kamarmu, tempel kertas-kertas tersebut pada benda yang dimaksud. Cobalah untuk menghafal nama-nama benda dalam dalam Bahasa Inggris, dimulai dari kamarmu, seisi rumah, sekolah, benda-benda di jalan, hingga nama benda-benda langit. Mulai dari sedikit, lama-lama menjadi bukit. Belajar struktur bahasa. Langkah berikutnya adalah belajar struktur Bahasa Inggris melalui menulis tiap jenis tenses beserta contoh kalimatnya dalam kartu-kartu kecil, atau buku kecil yang mudah dibawa ke mana-mana, agar di saat luangmu, kamu dapat membacanya berulang-ulang. Apabila kesulitan membuat struktur yang benar, cobalah untuk bertanya pada orang yang kamu anggap lebih mengerti, bisa orang tua, guru, teman, bahkan tetangga. Berkarya dalam bahasa Inggris. Cobalah untuk membuat puisi, komentar, atau pernak-pernik lain dalam Bahasa Inggris. Hal ini akan membuatmu terlatih dan terbiasa menulis. Berkomunikasi. Cobalah untuk selalu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, mulailah dengan menyapa teman, orang tua dan saudara kamu dalam Bahasa Inggris. Tanyakan keadaan mereka, misalnya: ”How are you?”. Apapun yang ingin kamu katakan, katakan dalam Bahasa Inggris, misalnya kamu bilang pada ibumu kalau masakannya enak, kamu akan berangkat sekolah, akan menyalakan lampu, atau yang lain, usahakan selalu dalam Bahasa Inggris. Pada akhirnya, sapalah gurumu dalam bahasa Inggris. Ga Brani! Siapa takut! Semangat! Kamu pasti bisa. Nah..... pada akhirnya bila bertemu orang asing sapalah mereka. Tanyakan dari negara mana mereka berasal. Hendak pergi ke mana mereka, dan bagaimana kesan mereka terhadap Indonesia. Nah....... pasti bisa! Mendengar, memahami, dan menceritakan kembali. Dengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris, atau tayangan televisi berbahasa Inggris, baik berita maupun film. Cobalah memahami maknanya. Dapatkah kamu menceritakan kembali apa yang telah engkau dengar? Cobalah terus, jangan pernah ada kata menyerah Never ever surender. Kunci utama dalam sukses berkomunikasi dalam Bahasa Inggris adalah: Jangan Takut Salah, Jangan Pernah Menyerah. Belajar akan membuat pengetahuan kita bertambah. Tapi bila pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki tidak mengubah kita menjadi lebih baik, akan tidak berarti apa-apa. Try and Try. Experience Make You Better. Never ever surender Pengalaman membuat kamu lebih baik .Jangan pernah menyerah Ok! Good luck!

Belajar Matematika dengan Mudah

KEAJAIBAN DI BALIK PERHITUNGAN MATEMATIKA
Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd. Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim Matematika merupakan cabang utama dari ilmu Filsafat. Yang menjadi ibu dari segala ilmu. Dengan demikian, pengajaran matematika menjadi salah satu hal yang pokok dalam menanamkan nilai-nilai dasar ilmu pengetahuan. Belajar matematika sangat menyenangkan, karena dibalik apa yang kita merasa sulit, matematika menghadirkan keajaiban dalam perhitungan. Ada banyak sekali perhitungan asyik dalam matematika. Beberapa diantaranya dapat disimak dalam uraian di bawah ini.Yok, simak bersama! Perkalian dengan bilangan sebelas. Ada cara ajaib dalam mengalikan suatu bilangan dengan bilangan sebelas. Misalnya kita akan mengalikan 63 dengan 11, maka 63 x 11 adalah .... 6 3 x 11 = 6 (6+3) 3 = 693
2431 x 11 = 2 . . .4 . . . 3 . . . 1 = 2(1+4) (4+3) (3+1) 1
= 2 6 7 4 1
2. Pengkuadratan bilangan dengan akhir lima. Ada cara ajaib dalam mengkuadratkan suatu bilangan dengan akhir lima. Kamu pasti sudah mengetahui bahwa 5 kuadrat = 5x5, jadi 5 kuadrat = 25. Bagaimana dengan 25 kuadrat , 35 kuadrat, atau 65 kuadrat ? Cara ajaibnya adalah: 25 kuadrat = 2 x(2+1) ... 25 = 6 25 Untuk mengkuadratkan 25, ambilah angka yang pertama, yaitu 2, dan kalikan dengan bilangan itu sendiri setelah menambahkan 1 yaitu, 3. Tulis hasil diatas dengan dan simpan 25 dibelakangnya untuk memperoleh hasil yang benar. 35 kuadrat = 3 x (3+1) ... 25 = 12 25 Untuk mengkuadratkan 35, ambilah angka yang pertama, yaitu 3, dan kalikan dengan bilangan itu sendiri setelah menambahkan 1 yaitu,4. Tulis hasil diatas dengan dan simpan 25 dibelakangnya untuk memperoleh hasil yang benar. 65 kuadrat = 6 x (6+1) ... 25 = 42 25 Untuk mengkuadratkan 65, ambilah angka yang pertama, yaitu6, dan kalikan dengan bilangan itu sendiri setelah menambahkan 1 yaitu,7. Tulis hasil diatas dengan dan simpan 25 dibelakangnya untuk memperoleh hasil yang benar. 3. Selisih dua kuadrat. Bila ada dua bilangan kuadrat diselisihkan, maka cara ajaibnya adalah kedua bilangan tersebut ditambahkan, dikalikan hasil pengurangan kedua bilangan tersebut. Misal ingin diketahui hasil dari 25 kuadrat - 24 kuadrat maka cara ajaibnya adalah: 25 kuadrat - 24 kuadrat = (25+24)x(25-24) = 49 x 1 = 49 4. Berhitung dengan lima. Membagi ataupun mengalikan dengan dengan menggunakan bilangan 5 bisa dibuat menjadi lebih mudah dan cepat jika kamu mengenali bahwa 5 memliki hubungan dengan bilangan 10. Bila kita ingin mengalikan 46828 x 5 cara ajaibnya adalah membagi semua angka dengan 2, kemudian meletakkan angka 0 dibelakangnya apabila akhir bilangan yang dikalikan 5 tersebut bilangan genap. 4 6 8 2 8 x 5 = ... 4:2 6:2 8:2 2:2 8:2 = 2 3 4 1 4 0 2 3 4 1 4 Bila kita ingin mengalikan 86849 x 5 cara ajaibnya adalah membagi semua angka dengan 2, kemudian meletakkan angka5 dibelakangnya apabila akhir bilangan yang dikalikan 5 tersebut bilangan ganjil. 8 6 8 4 9 x 5 = ... 8:2 6:2 8:2 4:2 9:2 = 4 3 4 2 4 5 4 3 4 2 4 sisa 1 5. Mengalikan dengan bilangan 25. Mengalikan suatu bilangan dengan 25 dapat dilakukan dengan cara membagi bilangan tersebut dengan 4, bila tepat habis tinggal ditambah angka nol nol dibelakangnya. Misala 28 x 25 maka hasilnya adalah 28 dibagi 4 adalah 7, sehingga 28 x 25 = 700. Contoh lain 32 x 25 cara mengerjakannya 32 dibagi 4 hasilnya 8, sehingga 32 x 25 adalah 800. Bila bilangan yang dikalikan 25 tersebut dibagi 4 sisa 1, maka hasil pembagiannya diberi 25, bila sisa 2 diberi 50, bila sisa 3 diberi 75. Contohnya bila 33 x 25, maka hasilnya 825, karena 33 dibagi 4 adalah 8 sisa 1, sehingga 32 x 25 = 825. Bila ada kesulitan dalam belajar matematika silakan kirim email ke tinink@gmail.com

Tuesday, October 2, 2007

Penelitian tentang Manfaat TVE



Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo

sebelum dan sesudah Pembelajaran dengan TVE

Rr. Martinigsih*)

Abstrak

Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan dimanfaatkannya berbagai sumber belajar, siswa termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari. Atas dasar pemikiran inilah, peneliti ingin mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah memanfaatkan Televisi Edukasi (TVE) dalam pembelajaran. Disimpulkan adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah memanfaatkan TVE. Perbedaan ini dikarenakan siswa dapat (1) mengembangkan kemampuan bernalar melalui pemanfaatan TVE, (2) menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari melalui tayangan TVE sehingga mampu menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, dan (3) menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pembelajaran melalui tayangan TVE.

Kata kunci: Media Pembelajaran TVE, Pembelajaran Matematika, Prestasi Belajar.





















--------------------------

*) Rr. Martiningsih adalah guru Matematika dan Koordinator Laboratorium Audio Visual pada Lembaga Pendidikan Al Muslim Cabang Jawa Timur, Sidoarjo.

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan kehidupan masyarakat, kelompok, dan individu (Mulyasa, 2005b: 3). Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstribusi serta sarana dalam membangun watak bangsa (Mulyasa, 2005b: 4).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat memungkinkan siapa saja dapat memperoleh informasi yang melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu, diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi agar dapat bertahan atau bahkan menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Menurut Mulyasa (2005a: 47) salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal, peserta didik dapat termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan lingkungan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari–hari.

Namun pada kenyataannya, guru jarang sekali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar walaupun mereka memahami bahwa walaupun strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Mengapa terjadi keadaan yang demikian ini? Apabila guru ditanya mengenai hal ini, maka kemungkinan akan banyak alasan pembenaran yang diajukan.

Sebagian guru mungkin akan mengatakan bahwa mengajar dengan menggunakan buku teks saja, para peserta didiknya sudah memperlihatkan prestasi belajar yang memadai atau bahkan membanggakan. Kemungkinan sebagian guru lainnya akan mengatakan bahwa mencari sumber-sumber lainnya di luar buku teks yang sudah ditetapkan tentulah menyita waktu di samping membutuhkan biaya. Sebagian guru lainnya kemungkinan akan mengatakan bahwa untuk apa repot-repot memikirkan pemanfaatan berbagai sumber belajar dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) jika tidak ada konsekuensinya yang dapat dirasakan.

Atas dasar pemikiran tersebut di atas, peneliti ingin mengetahui apakah memang ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah pemanfaatan TVE dalam KBM. Di samping itu, peneliti berpendapat bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah penting karena akan dapat lebih meyakinkan para guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran sehingga diharapkan akan termotivasi untuk merancang kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal. Selain itu, judul penelitian ini juga menarik minat peneliti karena berdasarkan pengamatan peneliti sejauh ini masih jarang sekali guru memanfaatkan berbagai sumber belajar pada umumnya dan media TVE pada khususnya dalam pembelajaran matematika. Yang secara umum terjadi adalah bahwa para guru cenderung untuk mengelola kegiatan pembelajaran secara konvensional.



1.2 Tujuan



Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah pembelajaran melalui pemanfaatan TVE.



2. Kajian literatur



Berbagai upaya pemanfaatan siaran televisi untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran telah pernah dilakukan, baik oleh stasiun televisi pemerintah maupun swasta. Penyelenggaraan siaran televisi untuk untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran antara lain ditayangkan dalam bentuk sinetron seperti film serial Aku Cinta Indonesia atau ACI, “Si Unyil”, “Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS)”, “National Geographic”, “Sesame Street”, “Square One” atau yang dikemas dalam bentuk kuis “cerdas cermat”.



Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, masyarakat pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).



Materi bahasan berikut ini akan mencakup konsep belajar dan media, media pembelajaran TVE, dan hakekat Matematika.



2.1 Pengertian Belajar



Belajar merupakan proses berkesinambungan yang berlangsung seumur hidup. Menurut Callahan dan Clark (1983: 198) yang dikutip oleh Jacob Anaktototy (2001:2) bahwa, walaupun belajar berlangsung seumur hidup, namun disadari bahwa tidak semua belajar dilakukan secara sadar. Belajar juga diartikan sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dalam diri seseorang mengenai pengetahuan atau tingkah laku karena adanya pengalaman.



Pendapat tersebut di atas senada dengan pendapat Bower dan Ernes (1981: 11) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) yang mengatakan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif parmanen dan tidak disebabkan oleh adanya kedewasaan. Belajar dapat terjadi dengan sengaja maupun tidak sengaja. Artinya aktivitas yang disengaja adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan mempunyai tujuan, yaitu untuk memperoleh satu pengalaman baru. Aktivitas belajar yang tidak sengaja merupakan suatu interaksi individu dengan lingkungan secara kebetulan dan melalui interaksi yang terjadi, individu mendapat pengalaman baru. Pendapat Romiszowski (1981:241) yang dikutip oleh Anaktototy (2001:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tentang bidang yang dipelajari.



2.2 Pengertian Media



Mulyasa (2005a:48) berpendapat bahwa media belajar secara sederhana dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam proses belajar-mengajar. Menurut Mulyasa (2005a:47), salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum dimanfaatkannya media pembelajaran secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik.

Pengertian media pembelajaran atau sumber belajar adalah segala sesuatu dari dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983:12). Dalam proses belajar, komponen sumber belajar ini mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Sumber belajar untuk pelajaran matematika adalah segala sesuatu, baik yang berwujud benda maupun orang yang dapat menunjang keinginan untuk belajar matematika. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh pembelajar sehingga terjadi perilaku belajar termasuk belajar matematika.

Sesuai dengan pedoman yang ditentukan Departemen Pendidikan Nasional (2003:1) tentang pelaksanaan pembelajaran termasuk pembelajaran berbasis kompetensi, maka penentuan media pembelajaran (instructional media) dilakukan setelah identitas mata pelajaran, standar kompetensi, dan kompetensi dasar ditentukan. Dalam kaitan tampaklah bahwa media pembelajaran merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi. Secara garis besar, media pembelajaran dapat berfungsi membantu mempermudah peserta didik memahami pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan sikap atau nilai yang dipelajari.

Media pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar haruslah dipilih dengan tepat agar dapat seoptimal mungkin membantu peserta didik mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan. Menurut Djamarah (2002:136), pengertian media di lingkungan kegiatan belajar-mengajar merupakan wahana penyalur informasi belajar. Bila media dikatakan sebagai sumber belajar, maka manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dapatlah dikatakan sebagai media dalam pengertian yang luas.

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena pemanfaatan media sebagai perantara dapat memperjelas bahan atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sifatnya abstrak. Kerumitan atau kompleksitas bahan atau materi pelajaran yang akan disampaikanguru kepada peserta didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat membantu guru yang mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi bahasan tertentu secara verbal (melalui kata-kata). Bahkan obyek bahasan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, terlalu mahal untuk dihadirkanke dalam kelas, atau yang terlalu berbahaya untuk dibawa ke dalam kelas dimungkinkan untuk dipelajari peserta didik dengan bantuan media. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah mencerna bahan atau materi pelajaran dengan bantuan media.

Media juga seringkali diartikan sebagai alat yang dapat dilihat dan didengar. Alat-alat ini dipakai dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud untuk lebih mengefektifkan dan mengefisienkan proses komunikasi. Dengan menggunakan media, maka guru dan peserta didik dapat berkomunikasi lebih mantap, hidup, dan interaksinya bersifat banyak arah. Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986:4) dalam Arsyad (2006:4) bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut dengan media komunikasi.

Media pembelajaran yang menggunakan televisi tergolong alat-alat audiovisual murni (Wijaya,1991:140). Kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan TVE di dalam tulisan ini adalah yang dirancang dan dikembangkan oleh Pustekkom dan disalurkan (uplinked) ke satelit Telkom I serta yang diterus-siarkan oleh stsiun TVRI.



2.3 Hakekat Matematika



Matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:6) merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Agar pelajaran matematika lebih mudah dimengerti oleh peserta didik, maka proses penalaran induktif dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki peserta didik.

Kemahiran matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:10) merupakan kecakapan matematika yang perlu dimiliki peserta didik yang pembelajarannya tidak berdiri sendiri tetapi diintegrasikan dalam materi matematika. Kemahiran matematika disajikan secara eksplisit dalam bahan belajar agar dapat menjadi perhatian dan pertimbangan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa.

Kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika adalah sebagai berikut:

a. menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah,

b. memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah,

c. menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,



d. menunjukkan kemampuan strategik dalam membuat (merumuskan), menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan masalah, dan

e. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.



Kecakapan tersebut di atas dapat dicapai dengan mempergunakan bahan belajar matematika yang sesuai.



3. Metodologi



3.1 Subyek Penelitian dan Sumber Data



Subyek atau populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo-Jawa Timur yang berjumlah 33 orang. Menurut Sugiyono (2004:55), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu.



3.2 Variabel



Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab berubahnya variabel terikat (Sugiyono, 2004:3). Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Sugiyono, 2004:3). Berdasarkan pemahaman ini, maka variabel bebas dalam penelitian ini adalah media pembelajaran TVE; sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar peserta didik di bidang pelajaran Matematika.



3.3 Instrumen dan Analisis Data



Prestasi belajar peserta didik kelas IX SMP untuk mata pelajaran matematika, baik sebelum maupun sesudah pembelajaran dengan mempergunakan TVE diperoleh melalui penggunaan soal-soal tes pelajaran Matematika berdasarkan SKL (Standar Ketuntasan Lulusan). Tes adalah suatu alat pengumpul informasi yang bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan (Arikunto, 2005:33). Instrumen lain yang juga digunakan adalah angket.



Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis yang ditentukan adalah uji t. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang membandingkan prestasi belajar matematika peserta didik kelas IX SMP Al Muslim Sidoarjo sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah pemanfaatan TVE yang membahas materi pelajaran Matematika untuk kelas IX SMP.



4. Hasil Penelitian dan Bahasan



4.1 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika



Pada penelitian ini, data prestasi belajar Matematika peserta didik diperoleh dari hasil tes prestasi belajar matematika yang dilaksanakan sebelum dan setelah peserta didik mendapatkan perlakuan pembelajaran melalui pemanfaatan TVE, disajikan pada Tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1 Deskripsi Prestasi Belajar Matematika sebelum Perlakuan Pembelajaran dengan Media TVE





Prestasi Belajar

Frekuensi

Persentase


0-25

4

12,12


26-50

6

18,18


51-75

13

39,39


76-100

10

30,31


Jumlah

33

100,00


Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur



Dari informasi yang disajikan pada Tabel 1 di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut.

a. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 0 sampai dengan 25 sebanyak 4 orang (12,12%).

b. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 26 sampai dengan 50 sebanyak 6 orang (18,18%).

c. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 51 sampai dengan 75 sebanyak 13 orang (39,39%).

d. Jumlah peserta didik yang prestasi belajarnya berada pada rentangan nilai 75 sampai dengan 100 sebanyak 10 orang (30,31%).

Selanjutnya, prestasi belajar Matematika sesudah memanfaatkan media TVE memperlihatkan perbedaan sebagaimana yang disajikan pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 Deskripsi Prestasi Belajar Matematika Sesudah Perlakuan Pembelajaran dengan Media TVE





Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase


0-25

0

0,00


26-50

0

0,00


51-75

7

21,21


76-100

26

78,79


Jumlah

33

100,00


Sumber: Al Muslim Cabang Jawa Timur



Tabel 2 di atas mengemukakan 3 kesimpulan, yaitu sebagai berikut.

a. Tidak ada responden yang nilai prestasi belajar Matematika-nya 50 ke bawah. Artinya, semua responden mencapai nilai 51 ke atas.

b. Jumlah responden yang nilai prestasi belajar Matematika-nya berada pada rentangan 51 sampai dengan 75 sebanyak 7 siswa (21,212%).

c. Sebagian besar responden (78,788%) mencapai nilai prestasi belajar pada rentangan 76 sampai dengan 100.

4.2 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan Media TVE



Fokus materi pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik melalui angket mencakup (a) pembelajaran yang disenangi siswa, (b) alasan menyenangi kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE, (c) pernah-tidaknya menonton TVE di rumah, dan (d) pendapat atau opini terhadap tayangan TVE, maka data-data tersebut diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram berikut:



4.2.1 Pertanyaan Pertama



Pada pertanyaan pertama, responden diminta memilih salah satu dari pilihan pertanyaan yang disediakan. Pertanyaannya adalah: Pada saat pembelajaran berlangsung, kegiatan pembelajaran mana yang paling kamu senangi? Pilihan jawabannya adalah: (a) kegiatan pembelajaran di kelas oleh guru tanpa media, (b) kegiatan pembelajaran di kelas oleh guru dengan menggunakan media, (c) kegiatan pembelajaran di kelas atau lab audiovisual dengan menggunakan TVE dan didampingi oleh guru. Jawaban responden terhadap pertanyaan pertama disajikan pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Pertama



Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase


a. Pembelajaran di kelas oleh guru tanpa media

2

6,06


b. Pembelajaran di kelas oleh guru dengan menggunakan media

1

3,03


c. Pembelajaran di kelas atau lab audiovisual dengan mengguna-kan TVE dan didampingi oleh guru

30

90,91


Jumlah

33

100,00




Tabel 3 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (90,909%) menyatakan bahwa mereka lebih menyenangi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas atau di ruang audiovisual dengan menggunakan TVE dan didampingi guru. Apabila dibandingkan antara pembelajaran dengan guru tanpa media atau media tanpa kehadiran guru, maka responden cenderung memilih kegiatan pembelajaran dengan guru tanpa media.



4.2.2 Pertanyaan Kedua



Pertanyaan kedua yang diajukan kepada responden adalah: Mengapa kamu senang dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan melalui TVE? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) senang karena belajarnya dengan menonton TV, (b) senang karena contoh-contoh yang disajikan jelas, (c) senang karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep disajikan dengan jelas sehingga mudah dipahami. Jawaban responden terhadap pertanyaan kedua ini disajikan pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Kedua



Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase


a. Senang karena belajarnya dengan menonton TV

9

27,27


b. Senang karena contoh-contoh yang disajikan jelas

4

12,12


c. Senang karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep disajikan dengan jelas

20

60,61


Jumlah

33

100,00




Berdasarkan Tabel 4 dapatlah dikemukakan bahwa lebih dari separoh responden (60,60%) memberikan alasan bahwa mereka menyenangi kegiatan pembelajaran melalui TVE karena penjelasan, rumus-rumus, dan konsep-konsep yang disajikan melalui media TVE lebih jelas sehingga mudah dipahami. Sedangkan alasan lainnya yang diajukan responden adalah jarena kegiatan belajar dilakukan dengan menonton TV (27,27%) dan contoh-contoh yang diberikan jelas (12,12%).

4.2.3 Pertanyaan Ketiga



Pertanyaan ketiga yang diajukan kepada responden adalah: Pernahkah kamu menonton TVE di rumah? Pilihan jawaban yang disediakan adalah: (a) pernah, dan (b) tidak pernah. Jawaban responden terhadap pertanyaan ketiga ini dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Ketiga



Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase


a. Pernah

22

66,67


b. Tidak Pernah

11

33,33


Jumlah

33

100,00






Tabel 5 mengemukakan bahwa lebih dari separoh responden (66,667%) menyatakan mereka pernah menonton TVE di rumah. Sedangkan responden lainnya (33,333%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah menonton siaran TVE di rumah. Karena itu, guru perlu memperhatikan bahwa sebagian dari peserta didik asuhannya tidak pernah TVE di rumah. Dalam kaitan ini, para guru hendaknya mengupayakan dan merencanakan agar TVE dapat dimanfaatkan di sekolah sehingga peserta didik yang tidak berkesempatan memanfaatkan tayangan TVE di rumah, masih berkesempatan mengikuti tayangan TVE.



4.2.4 Pertanyaan Keempat



Pertanyaan keempat adalah: Bagaimana pendapatmu tentang acara TVE? Pilihan jawaban yang disedeiakan adalah: (a) bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan, (b) menarik karena contoh yang diperagakan jelas, (c) perlu ditingkatkan dengan pembelajaran yang lebih menarik lagi. Pada Tabel 6 berikut ini disajikan jawaban responden terhadap pertanyaan keempat.

Tabel 6 Deskripsi Angket Pembelajaran dengan TVE Pertanyaan Keempat



Pilihan Jawaban

Frekuensi

Persentase


a. Bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan

18

54,55


b. Menarik karena contoh yang diperagakan jelas

5

15,15


c. Perlu ditingkatkan dengan pembelajaran yang lebih menarik

10

30,30


Jumlah

33

100,00






Dari Tabel 6 dapat dikemukakan bahwa lebih dari separoh responden (54,545%) menyatakan siaran TVE dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan mereka. Sebagian kecil responden (15,152%) mengemukakan pendapatnya bahwa siaran TVE menarik karena menyajikan contoh-contoh secara jelas. Responden lainnya (30,303%) justru menyampaikan pendapatnya dalam bentuk saran, yaitu agar siaran TVE lebih ditingkatkan lagi daya tariknya.



4.3 Analisis Data



Pada bagian ini akan dijelaskan hasil perhitungan statistik untuk uji hipotesis. Hipotesis penelitian yang dirumuskan adalah:

Ha : Hipotesis kerja yang berbunyi ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah mempergunakan TVE.

Ho : Hipotesis nol berbunyi tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah mempergunakan TVE.

Untuk menguji hipotesis di atas dipergunakan uji t dengan menggunakan software SPSS 12. Hasil perhitungan dengan SPSS 12 didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 7 Paired Samples Statistics







Mean

N

Std. Deviation

Std. Error Mean


Pair 1

SebelumTVE

62,61

33

24,865

4,328




SesudahTVE

84,21

33

10,816

1,883


Dari hasil tersebut terlihat bahwa rata-rata nilai peserta didik sebelum pembelajaran dengan TVE adalah 62,61 dengan standar deviasi 24,865; sedangkan setelah pembelajaran dengan TVE, rata-rata prestasi peserta didik adalah 84,21 dengan standar deviasi 10,816.

Tabel 8 Paired Samples Correlations







N

Correlation

Sig.


Pair 1

Sebelum TVE dan sesudah TVE

33

0,268

0,131


Hasil korelasi menunjukkan nilai sebesar 0,268 dengan taraf signifikasi 0,131.



Tabel 9 Paired Samples Test





Paired Differences

t

df

Sig. (2-tailed)


Pair 1

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the Difference








SebelumTVE - SesudahTVE







Lower

Upper








-21,606

24,31

4,232

-30,226

-12,986

-5,106

32

0


Rata-rata perbedaan prestasi belajar matematika sebelum pembelajaran dengan TVE dan sesudah pembelajaran dengan TVE adalah 21,606, dengan standar deviasi 24,310. Hasil penghitungan t statistik menghasilkan nilai minus 5,106 dan signifikasi 0,000.

Dengan hasil signifikasi 0,000 bisa diambil keputusan untuk menolak Ho yang berbunyi tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE serta menerima Ha yang berbunyi bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE. Karena level signifikasi lebih kecil daripada alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan TVE memberikan pengaruh secara signifikan.

5. Simpulan dan Saran

5.1 Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika peserta didik kelas IX SMP Al Muslim yang signifikan antara yang diajar sebelum dan sesudah menggunakan TVE.

5.2 Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan yang dihasilkan, maka saran-saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

5.2.1 Siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan memanfaatkan siaran TVE, melakukan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan.

5.2.2 Siswa diharapkan dapat menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika berdasarkan pengalaman belajar melalui tayangan TVE.

5.2.3 Guru diharapkan dapat menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah melalui tayangan TVE.

5.2.4 Guru diharapkan dapat merencanakan dan memanfaatkan media TVE dalam kegiatan belajar-mengajar secara teratur sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman belajar dari sumber belajar yang berhubungan dengan materi di luar guru.

5.2.5 Kepala sekolah atau pengelola sekolah diharapkan dapat memfasilitasi pemanfaatan media TVE untuk pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan mengoperasionalisasikan televisi agar mereka dapat memanfaatkan TVE secara teratur.

Pustaka Acuan

Anaktototy, Jacob. 2001. Hasil Belajar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP & MTs. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. Teknologi Instruksional. Jakarta: P2LPTK.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Mulyasa. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa.2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Trihendradi, Cornelius. 2005. SPSS 12 Statistik Inferen Teori Dasar & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Putri Yang Saya Cintai

Putri ku............ Jadilah engkau cahaya mataku Jadilah engkau penyejuk jiwaku Putri ku................... Dekatlah pada Tuhan Mu............... Baktimu untuk Bangsa Baktimu untuk Nusa pasti sangat membanggakan bunda

Kerangka Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd. Disampaikan pada : Pembinaan Guru Lembaga Pendidikan Al Muslim Hari Sabtu Tanggal 29 September 2007 Fungsi Laporan Penelitian Tindakan Kelas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah Penelitian C. Tujuan Penelitian Tindakan D. Hipotesis Tindakan E. Manfaat Penelitian F. Ruang Lingkup G. Penjelasan Istilah BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Uraian tentang masalah B. Uraian tentang solusi C. Uraian tentang kaitan solusiterhadap pemecahan masalah BAB III METODE PENELITIAN A. Perencanaan B. Prosedur pelaksanaan tindakan dan pengamatan C. Refleksi D. Subyek dan Tempat Penelitian E. Teknik Pengumpulan Data F. Penyiapan Partisipan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian pada Siklus 1 Rencana Tindakan ke-1 Pelaksanaan Tindakan ke-1 Hasil Observasi Tindakan pada Siklus ke-1 Refleksi hasil siklus ke-1 B. Hasil Penelitian pada Siklus 2 Rencana Tindakan ke-2 Pelaksanaan Tindakan ke-2 Hasil Observasi Tindakan pada Siklus ke-2 Refleksi hasil siklus ke-2 C. Hasil Penelitian pada Siklus 3 Rencana Tindakan ke-3 Pelaksanaan Tindakan ke-3 Hasil Observasi Tindakan pada Siklus ke-3 Refleksi hasil siklus ke-3 D. Pembahasan Melaporkan Rencana Tindakan ke-1 Melaporkan Pelaksanaan Tindakan ke-1 Melaporkan Refleksi Hasil ke-1 Melaporkan Pembahasan Hasil Tindakan Ke-1 sd Ke-n BAB V PENUTUP Membuat Kesimpulan Penelitian Kesimpulan penelitian menjawab rumusan masalah penelitian Diungkapkan dalam kalimat pertanyaan yang yang tegas dan jelas Membuat Saran Penelitian Memuat untuk siapa dan untuk melakukan apa Terkait dengan kesimpulan penelitian Terima Kasih Rr. Martiningsih tinink@gmail.com

Saturday, September 22, 2007

Pantai Losari 2007

Ini adalah foto di Pantai Losari Makassar. pada tanggal 1-4 Agustus 2007, saya dikirim Pustekkom ke Makassar. Foto ini tanggal 2 Agustus 2007. Ketika pergi ke pantai ini naik sepeda motor dari hotel di mana aku menginap, namanya Hotel Anggrek Delia........... Saat di Hotel ini peserta pelatihan banyak banget, dari seluruh Kalimantan, seluruh Sulawasi, NTT, NTB, dan Maluku

e-learning

e-learning di al muslim
Oleh: Rr. Martiningsih, M.Pd. Kasie R&D Lembaga Pendidikan Al Muslim e-learning sebenarnya telah lama dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan al muslim, yaitu semnejak lembaga pendidikan al muslim ini berdiri. Apa sebenarnya e-lerning? Mungkin beberapa diantara kita tidak memahami e-learning. Mau tau? Nah…….. e-Learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. Dari definisi tersebut, tentu saja Lembaga Pendidikan Al Muslim telah memanfaatkan e-learning sejak lembaga ini berdiri. Betul nggak? Dalam perkembangan selanjutnya e-learning sering diartikan sebagai pembelajaran mempergunakan internet. Dengan demikian maka e-learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi satellite atau komputer. e-Learning atau electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya. Di lembaga pendidikan Al Muslim sendiri, pemanfaatan internet telah dipergunakan sejak berdirinya lembaga ini, karena lembaga pendidikan al muslim telah memiliki web site dan juga alamat e-mail. MENGAPA e-LEARNING PENTING DI AL MUSLIM? Banyak hal yang mendorong mengapa e-learning menjadi salah satu pilihan untuk pembelajaran di Lembaga Pendidikan Al Muslim, antara lain:Pertama, disebabkan karena pesatnya fasilitas teknologi informasi. Kedua, dengan pemanfaatan e-learning, maka ilmu pengetahuan dan informasi bisa diakses dengan cepat, dan bisa mempekaya wawasan civitas lembaga pendidikan Al Muslim. TEKNOLOGI PENDUKUNG e-LEARNING DI AL MUSLIM Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam pembelajaran e-learning di Al Muslim, komputer yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara electronic, karena itu dikenal dengan istilah:• computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan . • computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Saat pertama-tama komputer mulai diperkenalkan khususnya pada pembelajaran, maka ia menjadi dikenal atau populer di kalangan anak didik. Bisa dimengerti karena berbagai variasi teknik mengajar bisa di buat dengan bantuan komputer tersebut. Setelah itu teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: • Technology based learning, dan .• Technology based web-learning. Technology based learning di Al Muslim terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (misalnya: video tape). Sedangkan technology based web-learning di Al Muslim adalah Data Information Technologies (misalnya: bulletin board, Internet, e-mail). Dalam pelaksanaan pembelajaran di Al Muslim sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas . Teknologi ini juga sering di pakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini. Karakteristik e-learning di Al Muslim ini antara lain adalah:• Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler, .• Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks);• Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya; dan .• Memanfaatkan jadual pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer; Pemanfaatan e-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran. Dalam era global seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak ‘gagap’ teknologi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Informasi sudah merupakan ‘komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam dunia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju pada era masyarakat informasi (information age) atau masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Oleh karena itu tidak mengherankan kalau Al Muslim pun memanfaatkan e-learning. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN e-LEARNING . Menyadari bahwa di internet dapat ditemukan berbagai informasi dan informasi itu dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja dan di mana saja, maka pemanfaatan internet menjadi suatu kebutuhan. Dalam pemanfaatan internet, maka ada empat hal yang telah disiapkan Al Muslim, yaitu:a. Melakukan penyesuaian kurikulum. Kurikulum sifatnya holistik di mana pengetahuan, ketrampilan dan nilai (values) diintegrasikan dengan kebutuhan di era informasi ini. Kurikulumnya bersifat competency based curriculum.b. Melakukan variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan bantuan komputer;c. Melakukan penilaian dengan memanfaatkan teknologi yang ada (menggunakan komputer, online assessment system); dand. Menyediakan material pembelajaran seperti buku, komputer, multimedia, studio, dll yang memadai. Materi pembelajaran yang disimpan di komputer dapat diakses dengan mudah baik oleh guru maupun siswa. Walaupun demikian pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan, diantaranya: kurangnya pemahaman tentang bahasa komputer, kurang memahami bahasa Inggris, serta akses internet yang kadang memakan waktu.

Friday, September 21, 2007

Tahun Ajaran Baru, Cara Belajar baru

Selamat! Kamu naik kelas. Bagaimana prestasi belajarmu tahun lalu? Ingin prestasi belajar lebih baik di tahun ajaran baru ini?

Agar prestasi belajarmu meningkat, tentu saja kamu perlu memperbaiki kualitas cara belajarmu. Ada beberapa kekuatan yang akan mengubah prestasi belajarmu dengan lebih baik, apabila kamu menguasai cara belajar yang baik. Ada baiknya kamu buat persiapan matang di awal tahun ini, agar di akhir tahun kamu tinggal menuai hasilnya.

Apa yang perlu dipersiapkan? Persiapannya bukan hanya masalah buku tulis atau buku paket saja. Nah ……pertama, tentukan targetmu di tahun ini, trus buat jadwal harian yang isinya langkah-langkah menuju target tersebut. Agar target belajarmu tercapai dengan baik, simak beberapa cara belajar berikut.

  1. Keinginan kuat menuju sukses. Segala sesuatu yang dilaksanakan dengan keinginan yang kuat, belajar dengan sungguh-sungguh dengan hasrat kuat, keinginan dan harapan yang besar akan mencapai hasil yang baik. Sebaliknya bila segala sesuatu tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasil yang dicapai juga ala kadarnya.
  2. Mengulang pelajaran sepulang sekolah. Pulang sekolah, ulang kembali pelajaran yang telah didapat. Setelah itu, baca singkat dua halaman materi berikutnya buat cari kerangkanya saja. Begitu pelajaran tersebut diterangkan guru pada pertemuan berikutnya, kamu dah punya gambaran, tinggal menambahkan aja apa yang kamu belum tahu. Jadi, pulang sekolah kamu tinggal mengulang aja untuk mencari kesimpulan atau meringkas apa yang telah diterangkan.
  3. Membuat rangkuman. Selain membaca kembali atau mengulang pelajaran yang telah diterangkan di sekolah, ada cara lain untuk membuat apa yang didapat di sekolah terikat kuat dalam memori otak kita, yaitu dengan membuat rangkuman dan kesimpulan dengan kata-katamu sendiri. Tulis kesimpulan kamu di secarik kertas kecil seukuran kartu nama. Kartu-kartu tersebut efektif untuk mengulang dan membaca singkat di kala senggang. Tulis dengan rapi dan indah, agar kamu senang membaca tulisanmu sendiri.
  4. Belajar dari Teman Sebaya. Mengajari teman lain tentang materi yang baru bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Secara bergantian kamu dan temanmu saling bertanya isi materi baru tersebut, nah …. Kamu menjadi lebih memahami materi tersebut.
  5. Buku catatan rapi dan menarik. Buku catatanmu hendaknya selalu rapi, tidak dicorat-coret, serta bagian yang penting bisa menggunakan tinta dengan warna yang berbeda. Biasakan mencatat pada buku yang berbeda untuk tiap mata pelajaran yang berbeda. Ini memudahkan kamu belajar. Bila kamu mencatat materi pelajaran yang berbeda pada satu buku, kamu akan kesulitan dalam mengulang pelajaran, karena tidak teratur, selain itu kendalanya apabila buku catatan tersebut dikumpulkan pada salah seorang guru mata pelajaran tertentu dimana kamu memerlukan catatan untuk mata pelajaran yang lain, tentu akan sangat menyulitkan diri kamu sendiri.
  6. Penuh perhatian saat pembelajaran berlangsung. Usahakan selalu konsentrasi penuh waktu mendengarkan pelajaran di sekolah. Materi yang kamu dengar akan tersimpan dengan baik dalam memori kita, dan mudah dipanggil lagi kalau kita perlukan, terutama saat kamu ulangan.
  7. Belajar setahap demi setahap. Belajar mendadak menjelang tes memang tidak efektif. Persiapkan jauh hari untuk mengulang pelajaran sebelum tes berlangsung, paling tidak satu bulan sebelumnya. Materi yang banyak bukan masalah. Cara efektifnya, kamu buat ringkasan tiap tiap pelajaran, kalau perlu gunakan table, gambar, atau peta konsep agar mudah dipahami.
  8. Cari waktu tepat untuk belajar. Tiap orang punya waktu yang cocok untuk belajar tergantung situasi dan kondisi tiap orang. Kadang belajar sesudah sholat subuh juga baik, karena pikiran masih fresh. Ada juga yang belajar sebelum tidur, agar apa yang telah dipelajari nempel dengan baik di memori, karena tidak terganngu hal lain, karena setelah belajar langsung tidur.
  9. Pilih bacaan, tayangan televisi, atau musik yang benar-benar membantumu untuk belajar. Belajar sambil mendengarkan musik memang asyik. Pilih musik yang tgenang tapi menggugah. Instrumen yang mengalun lembut, atau musik klasik bisa dicoba.Musik tipe ini cocok banget menemani kamu selama belajar. Hindari menonton atau membaca sesuatu yang tidak bermanfaat meningkatkan kualitas belajarmu.
  10. Usaha dan Doa. Nah…. Kalau kamu dah usaha maksimal dalam belajar jangan lupa selalu juga berdoa. Doa akan memperkuat usaha kita. Positive thinking + smart studying + smart doing + pray to Allah = SUCCESS.

Semua orang terlahir sama di dunia ini, tidak membawa apa-apa. Semua orang pada dasarnya tidak tahu dan tidak mampu. Hanya orang-orang yang berani belajar dan gigih untuk menjadi lebih baik, pada akhirnya akan memiliki pengetahuan dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Pengalaman orang-orang di sekitarmu, buku bacaan, informasi dari media elektronik, internet, kursus, atau pelatihan yang kamu ikuti adalah sumber belajar. Kita tinggal memilih apa yang cocok bagi kamu. Pilihlah cara belajar yang memang bisa membuat kamu mengerti dan memahami banyak hal yang pada akhirnya apa yang kamu cita-citakan tercapai.

Belajar akan membuat pengetahuan kita bertambah. Tapi bila pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki tidak mengubah kita menjadi lebih baik, akan tidak berarti apa-apa. Ok! Good luck!

Danau Sentani Papua 2007

Nice to see you @ my blog! Hari ini aku senang sekali dah punya blog, sehingga apapun yang ingin kutulis, aku bisa menulis di sini, ini adalah isi hatiku yang mungkin tak terkatakan. Teman, tolong beri kritik dan saran atas blog ini ya....... moga bisa better n better. Salam kenal ya......