Labels

Sunday, August 12, 2018

Dinamika Pengalaman Menjadi Fasilitator Bimtek Daring Dalam Rangka Seleksi Duta Rumah Belajar 2018



Experience Dynamics to Become a Online Bimtek Facilitator in the Context of 2018 Home Learning Ambassador Selection
May 24, 2018


I am Rr. Martiningsih, from East Java. In November 2017, I was elected to become the National Best Learning Ambassador. This time, a screening was held to choose the 2018 Learning House Ambassador.
The initial step of the 2018 Ambassador Home Learning selection is for teachers to register online through the page http://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id which on that page has a guide for choosing the province. Each participant who has registered can study the existing module, and after the specified day, the participant takes the first level exam and will get a certificate that can be downloaded online on the pages of each participant in the first level Information and Communication Technology Based Learning.
All participants who qualify for the first level are entitled to take part in the second level of training through the website of simpatik.belajar.kemdikbud.go.id/pembatik and can learn through the modules provided and work on tasks to monitor the extent of the training participants' ability in understanding the training material. The second level module includes the Design of ICT-Based Learning, Utilization of Problem Bank Features, Utilization of Language and Literature Work Features, Utilization of Learning Resource Features, Vlogs of Home Learning and its Manuscripts.
The second level participants are guided to get information through telegram channels, here the participants of course learn to utilize smartphones more optimally. Participants can also communicate online with other participants and facilitators through the telegram group.
There are currently 10 telegram groups with members ranging from 300 to 350 participants who are willing to continue to the second level. Some participants who passed the first level did not continue to the second level for reasons of busyness or family problems.
I am an East Java Province facilitator in Class D. In the telegram group, some wanted to know why I could become the Best Learning House Ambassador. I answered, that I was like another teacher, while at home also doing tasks as housewives. If there is a competition that I believe I can, then I will take part in the competition. If it turns out I won, thank God, I was able to do the assignments. If I lose, thank God, that means I need to continue learning.
By participating in the competition, I actually understand the extent of our abilities, and we will learn a lot from other teachers. I am very aware that everyone is great. Everyone has greatness each. There are great singers (and that is not me), some are great singing holy verses of the Qur'an, and many other greats are not at all the same as everyone. Therefore, through a competition, we can improve our quality, by learning from other participants.
I often convey simple aphorisms or advice that builds the soul, citing the opinion of great motivators. Like, if we want to get better results, then we have to do more. If we do ordinary things, the results will also be mediocre.
At the end of the second level, it is determined who graduated and who did not graduate. Of course this creates a dilemma for those who do not pass.
Rest assured ... If Allah grants our wishes ... Verily Allah tests our gratitude ... If Allah postpones our wishes ... ... Allah really tests our patience ... If Allah does not grant our wishes ... Verily ... Allah will replace it with a better one.
Not graduating at level 2 not the end of everything ... the sun still shines illuminating a day full of meaning ... And God still bestows mercy on us for a brilliant success that must be beautiful in time. .
Hopefully any decision ... pass or not pass ... Received broadly.
Rr. Martiningsih, S.Pd, M.Pd
Duta Rumah Belajar 2017
East Java Province


Friday, August 10, 2018

Primata

Pulang kerja mampir toko pakan hewan untuk beli pakan kura-kura karena persediaan di rumah sudah menipis. Toko pakan hewan tersebut lumayan besar dan menjual aneka produk pakan hewan.
Tidak sengaja aku melihat juga ada beras dalam kantong 5 kiloan. Aku tanya.
aku: Mas...apa berasnya dijual?
Penjual: Iya ...
Aku: Loh mas ini beras untuk pakan hewan kah?
Penjual: untuk manusia bu...
Aku: iya kah? Ini kan toko pakan hewan.
Penjual: iya bu sebab produksi beras sama distributornya dengan dedak pakan ayam...
Aku berfikir...tidak salah juga jual beras di toko pakan hewan. Karena manusia adalah PRIMATA

Aplikasi Mobile Rumah Belajar sebagai Sarana Pembelajaran Abad 21









http://pena.belajar.kemdikbud.go.id/2018/08/aplikasi-mobile-rumah-belajar-sebagai-sarana-pembelajaran-abad-21/



Rumah Belajar kini tersedia dalam Aplikasi Mobile yang bisa diunduh di https://play.google.com/store/apps/details?id=id.go.kemdikbud.belajar.apprumahbelajar . Rumah Belajar sebagai mobile learning, dapat didefinisikan sebagai suatu fasilitas atau layanan yang memberikan informasi elektronik secara umum kepada pembelajar dan konten yang edukasional yang membantu pencapaian pengetahuan tanpa mempermasalahkan lokasi dan waktu. Portal Rumah Belajar merupakan sumber belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang telah maju begitu pesat dan cepat sehingga menciptakan tantangan-tantangan baru dalam proses belajar mengajar. Permasalahan yang muncul dengan perkembangan teknologi tersebut adalah kesiapan guru untuk mengantisipasinya.
Kehidupan di abad ke-21 memerlukan berbagai keterampilan yang harus dikuasai seseorang siswa, sehingga diharapkan pendidikan dapat mempersiapkan siswa untuk mampu menguasai berbagai keterampilan. Siswa harus menguasai empat pilar kehidupan yang mencakup learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Empat prinsip tersebut masing-masing mengandung keterampilan khusus yang perlu diberdayakan dalam kegiatan belajar, seperti yang biasa disebut 4C yaitu Communication (komunikasi), Collaboration (kolaborasi), Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah) , and Creativity and Innovation (kreatif dan inovatif), mampu memberdayakan literasi informasi, dan menyelesaikan dengan HOTs (Higher Order Thinking skills).
Rumah Belajar di dalamnya tersedia berbagai fasilitas antara lain Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik (BSE), Bank Soal, Laboratorium Maya, Peta Budaya Indonesia, Jelajah Wahana Angkasa, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), dan Kelas Maya. Selain fasilitas yang telah disebutkan rumah belajar juga mempunyai fasilitas lain yaitu Karya Komunitas, Karya Guru, dan Karya Bahasa dan Sastra. Perkembangan Portal Rumah Belajar sebagai mobile learning yang merupakan media teknologi informasi dan komunikasi pada era sekarang ini menunjukan betapa semakin banyak inovasi yang telah dilakukan. Masyarakat cendrung menggunakan telephon genggam untuk menjadi media komunikasi antara satu orang kepada orang lain yangberada di tempat lain bergeser sebagai sarana untuk belajar. Hal itu sesuai dengan kemampuan, motivasi, keinginan serta kebutuhan masyarakat terhadap kegunaan dari pada media tersebut.
Penggunaan mobile learning sebagai media dalam proses pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan berkualitas. Penggunaan Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning dalam proses pembelajaran bertujuan agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara tepat-guna dan berdaya guna sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Dalam beberapa dekade terakhir, kepemilikan perangkat bergerak (mobile devices) semakin meningkat. Hal ini disebabkan semakin terjangkaunya harga perangkat-perangkat ini oleh masyarakat.
Esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif lebih menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi ide yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Dengan pemanfaatan Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning pada pelajaran diharapkan siswa lebih mudah untuk menerima materi pelajaran tersebut dan guru juga bisa lebih mudah dalam menyampaikan materi yang ada.
Proses belajar mengajar akan lebih mudah untuk dicapai dan diharapkan juga dapat meningkatkan prestasi belajar. Pemanfaatan Portal Rumah Belajar Berbasis mobile learning ini juga menarik perhatian siswa untuk belajar. Pemanfaatan mobile learning di kelas dapat membantu siswa yang kesulitan dalam memahami pelajaran yang dinilai sulit selama ini. Kehadiran Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning yang menggunakan media elektronik telepon pintar ini ditujukan sebagai suplemen pembelajaran yang ada serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sendiri mengenai materi yang kurang di kuasai di manapun dan kapan pun. Hal ini tentu dapat memberikan pengalaman yang berbeda dalam proses pembelajaran bagi siswa. Di masa yang akan datang Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning akan semakin bertambah sangat cepat setiap harinya di seluruh dunia.
Peserta didik yang semakin butuh informasi dengan cepat untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Kini siswa tidak lagi hanya mendengar informasi yang disampaikan dari gurunya, juga tidak hanya membaca dari pustaka sekolah yang hanya memiliki buku-buku koleksi lama. Dengan memanfaatkan Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning siswa dapat dengan mudah mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk belajar. Pembelajaran dengan Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning sangat cocok bagi siswa karena dapat dipelajari secara individual sesuai kemampuan siswa. Bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih, dapat belajar dengan cepat, sebaliknya siswa yang kemampuannya kurang, dapat belajar sesuai kemampuannya. Melalui Portal Rumah Belajar berbasis mobile learning ini peserta didik dapat mengakses materi pembelajaran dan informasi dari mana saja dan kapan saja. Peserta didik tidak perlu menunggu waktu tertentu untuk belajar atau pergi ke tempat tertentu untuk belajar. Mereka dapat menggunakan teknologi mobile untuk keperluan belajar mereka baik formal maupun informal.

roro@guruinovatif.com



Wednesday, July 4, 2018

Trah R. Soetarto


Disadur dari Booklet
PERINGATAN 50 TAHUN PERKAWINAN
Bpk. R. SOETARTO dan Ibu SOEMIRAH
Jombang, 26 Juni 1988

PERJALANAN HIDUP DARI BAPAK DAN IBU SUTARTO
Tarto begitu saudara- saudara tuanya memanggil, dilahirkan di kampung Ledoksari Jebres, Surakarta, pada tanggal 30 April 1909. Konon kelahirannya sudah diramalkan oleh para “pinisepuh” dan nama Sutarto pun telah dipersiapkan jauh hari sebelum jabang bayi lahir. Sutarto kecil yang menurut saudara- saudara  tidak “memper” sebagai orang Solo ini merupakan anak ketiga dari tigabelas bersaudara, hasil perkawinan Bapak Tirto Diwiryo - yang lebih dikenal dengan panggilan mbah Tir- dengan Rr Sukiyah. Orang tua Sutarto kecil konon adalah trah langsung dari Eyang Tumenggung Notosari yang dimakamkan di Caruban.
Sutarto yang terlahir pada hari Sabtu Kliwon ini kelihatannya telah dipersiapkan oleh ayahnya -yang masinis Kereta Api itu, menjadi sosok pribadi yang mandiri dan tegar dalam menghadapi segala persoalan.
Sutarto yang dilahirkan dari keluarga KB (Keluarga besar) – jumlah saudaranya 13 dan kelak anaknya pun berjumlah 13- ini menyelesaikan pendidikan atasnya dengan menjadi “Mantri Verpleger” pada usia 22 tahun, berfalsafah hidup : “Barang apa sing kena ditandangi tumuli aja disemayani“ dan prinsip hidup yang menandaskan bahwa : selama hayat masih dikandung badan tiada kata berhenti untuk belajar. Ini konon adalah merupakan indoktrinasi dari Pakdhenya yang tinggal di Bangil dan dulu pernah “nggulawentah” Sutarto kecil menjadi Sutarto muda yang mandiri. Hal ini kelak banyak mewarnai perilaku, pola berfikir dan prinsip-prinsip pendidikan yang diterapkan oleh putra- putranya.
Setelah lulus sebagai Mantri Verpleger pada tahun 1933 dari CBZ Surabaya ini mulai meniti kariernya dari kota dingin Malang Jawa Timur dengan tugas khusus, menjadi operator pemberantas penyakit kusta di klinik- klinik setempat. Dan masih tetap pada tahun tersebut Sutarto muda dipindahkan ke kota kecil, Gresik. Pada tahun 1934 dipindahkan kepedalaman Kalimantan. Berbagai versi beredar mengenai kepindahan Sutarto ke pulau yang masih rawan (pada tahun itu), diantaranya adalah pendapat yang mengatakan bahwa Sutarto sengaja dibuang ke pulau Borneo oleh penguasa pada waktu itu, dikarenakan keterlibatannya dengan organisasi politik pejuang kemerdekaan, PNI. Belanda khawatir bahwa pemuda-pemuda yang pintar dan gigih semacam Sutarto kelaklah yang bisa memusingkan Pemerintahan Hindia Belanda. Memang Sutarto muda dikenal sebagai seorang yang idealis dan mencintai kemerdekaan dan tidak menyetujui adanya penindasan, kesewenang- wenangan dan sebagainya.
Sampai pada tahun  1937, baru bisa kembali ke tanah Jawa.
=========000=========
Soemirah dilahirkan pada tanggal 11 April 1920 di desa Jati Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur. Putra bungsu dari 3 bersaudara, hasil perkawinan seorang Kepala Dukuh yang bernama Setro Redjo dengan gadis Rasinah.
Menamatkan Pendidikan pertamanya di Tweede Inlandeschool pada usia 11 tahun (1931) dan melanjutkan Noormal School Blitar sampai dengan 1935. Gadis yang berlatar belakang semangat heroisme RA Kartini ini langsung meminta untuk menjadi guru pada sekolah putri (MVVS Magetan), dari tahun 1935 sampai dengan 1937. Pada tahun 1937 hingga 1938, menjadi guru di MVVS Nganjuk, kota kelahirannya dimana ia pernah menuntut ilmu walaupun setiap harinya harus berjalan sejauh 12 kilo meter tanpa alas kaki dan sendirian.
=========000=========
Kembali pada pemuda Sutarto. Mulai 1937 ia dinas di CBZ Batavia (RSUD Dr Tjipto Mangunkusuma, sekarang). Pada tahun- tahun sekitar inilah pemuda Sutarto merasa membutuhkan pendamping hidupnya yang bisa dan mampu menjadi “sigaraning nyawa“, untuk itu dia minta bantuan kakaknya yang juga seorang masinis Kereta Api, untuk mencarikannya. Dan hanya berdasarkan foto, pemuda Sutarto langsung tertarik dan berkeinginan untuk menyuntingnya, gadis itu tiada lain adalah Ibu Guru Soemirah yang saat itu mengajar di Nganjuk. Memang cinta tidak mengenal dimensi umur, dimensi ruang / batas / tempat. Bagaimana tidak, pemuda Sutarto berumur 28 tahun dan berkedudukan di Jakarta, dan gadis Soemirah berumur 18 tahun dan berada di kota yang terpisah sekitar 1000 kilo meter, Nganjuk, dengan kondisi transportasi dan komunikasi yang sedemikiin primitifnya, belum pernah bertemu lagi.
Dengan berbekal sebuah foto dengan tekad yang membaja, berangkatlah pemuda Sutarto ke desa yang tanahnya kelihatan kering dan gersang. Dan pucuk dicinta ulam tiba, pemuda Soetarto tidak bertepuk sebelah tangan, gadis Soemirah pun juga “falling in love at the first sight”. Dan pada hari itu tanggal 18 Juni 1938 tercatat dalam sejarah mereka berdua, tambahan satu hari penting (selain tanggal 17 Agustus dan 21 April dan hari- hari diawal  bulan) yang selalu mereka kenang dan bayang selamanya. Hari itu juga Nyonya Sutarto diboyong oleh suaminya ke Jakarta untuk melanjutkan tugas seperti biasa.  
            Dan sejak tahun 1938 hingga 1943 Bapak Sutarto menjadi Kepala Ruang Cirrhuur (Bedah) merangkap sebagai Kepala Laboratorium Kecil, di CBZ Jakarta. Pada tahun 1945 hingga 1951 menjadi Kepala Ruang Cirrhuur dan Ruang Internist sekaligus menjabat sebagai Kepala Laboratorium Besar di RSUD Dr Karyadi Semarang. Sejalan dengan perkembangan jaman, Ibu Sutarto melepaskan kesibukannya sebagai guru selama 13 tahun, karena menganggap bahwa pendidikan anak- anaknya diatas segala-galanya. Dan pada sekitar tahun 1952 keluarga bahagia ini pindah ke Jombang, Bapak Sutarto mengundurkan diri sebagai staf di RSUD Dr. Karyadi, untuk menjalani kehidupan swasta, sedangkan Ibu Sutarto kembali mengabdi kepada bangsa dan negara, kembali menjadi guru SD. Dan terakhir pensiun sebagai Kepala Sekolah SD pada tahun 1974.
            Keluarga ini pernah mengalami zaman keemasan dan zaman kepahitan, seperti rutinnya perputaran roda pedati, suatu saat diatas disaat lain berada dibawah. Begitu juga dengan keluarga ini, pernah pada zaman-zaman sulit, terpaksa berjualan jajanan pasar dilorong- lorong Rumah Sakit yang penjualannya dilakukan oleh putra sulungnya, Sumartono dengan dibantu oleh neneknya Ibu Rasinah. Dikarenakan pada zaman yang demikian sulitnya itu Ibu Sutarto tidak mau bekerja untuk Belanda walau berapapun besar uang yang ditawarkan, dikarenakan keinginannya yang menggebu untuk bisa melihat kemerdekaan. Sedang Bapak Sutarto sehari- harinya hanya mengabdikan ilmunya dalam mencegah kematian dan memperpanjang usia umat manusia tanpa menghiraukan honor.
            Tidak sedikit halang rintang yang menghadang lajunya bahtera kehidupan keluarga ini, akan tetapi berdasarkan prinsip asih, asah, asuh, semua itu di dapat diatasi hingga peringatan perkawinan emasnya.
            Bapak Sutarto yang semasa mudanya menyukai olahraga sepakbola, sebagai kiper pada PS CBZ Simpang, dan berburu (semasa di Kalimantan) ini ternyata juga menyukai seni pewayangan, khusunya wayang orang, semasa mudanya sering “didhapuk” menjadi tokoh Palguna, dalam serial pewayangan.
            Sedangkan Ibu Sutarto semasa mudanya menyukai olahraga kasti dan badminton, Di masa pernikahan emasnya diwaktu- waktu sekarang tinggal hobi jahit-menjahit dan ”momong putu” saja yang masih ditekuni,  sedangkan “Pak Mantri“ (demikian para tetangga memanggilnya) tinggal menekuni hobinya : Joging dan kadang- kadang berkebun.
            Dengan berat badan sekitar 54 Kg dan tinggi badan 161 cm masih membuat Ibu dari 13 anak dan 17 cucu selalu tampak fresh walaupun hari-harinya disibukkan dengan berbagai kegiatan sosial dilingkungan PWRI Jombang.
            Demikianlah riwayat singkat perjalanan hidup pasangan pengagum Soekarno dan RA Kartini ini. Semoga dengan “posisinya” yang telah langgeng sampai menjadi kaken- kaken dan ninen- ninen menjadikan kehidupannya semakin harmonis dalam membimbing anak cucu dan semoga Allah yang maha kuasa selalu melimpahkan rahmat dan barokahNya kepada pasangan dan semua ahli warisnya. Aamiin

PUTRA DAN CUCU
1.             R. Soemartono, BA (Alm)
Lahir pada tanggal 9 Mei 1939 di CBZ Batavia (RSUD Dr Tjipto Mangunkusumo) pada jam 21.00, hari Selasa Wage, meninggal pada usia 45 tahun, 14 Juli 1986 dengan meninggalkan dua putra dan dua putri hasil pernikahan dengan Retno Asih putri Bpk. Moe’min :
a,       Rr. Witaningsih (Ita), lahir 17 Oktober 1970. Menikah dengan Hitaputra Agung Wardhana putra kelima dari Bpk. R. Soerjatmoko dan Ibu RA. Soewarni, dan memberikan empat buyut yaitu :
1)          Afifah Ihsani Wardhani, sudah menikah dengan Imandaru Priambudi putra dari Bpk. Sujito Sumarwan dan Ibu Hartati.
2)            Irfan Hanifah Wardhana
3)           Amany Taqiyyah Wardhani
4)            Fajar Aushafa Wardhana
5)            Ammar Makarim Wardhana
b.             Rr. Martiningsih (Tining), lahir 8 maret 1972, menikah dan memberikan dua orang putri sebagai buyut yaitu :
1)             Salma Nabila
2)          Fiona Desy Susanti
c.             R. Sartono (Tono), lahir 3 Juni 1974 menikah dengan Nurul Cahyaningtiyas dan dikaruniai dua orang putra :
1)             Muhammad Adam Yusuf
2)            Muhammad Hanif Mirza (Alm)
d.             R. Kartono (Anton ), lahir 23 April 1976 menikah dengan Atik Nurhayati dan dikaruniai empat orang putra putri yaitu :
1)             Nadira Rahmaniar
2)             Muhammad Dani Riano
3)             Muhammad Rifqy Kitaro
4).             Rafina Agustina Wijayanti
2.             Rr. Sumartinah (Alm)
Lahir di Semarang pada jam 20.35 tanggal 15 April 1941, hari Sabtu Kliwon. Meninggal usia 6 tahun, hari Sabtu Pon 11 Januari 1947 jam 21.45 dimakamkan di TPU Bergota Semarang.
3.             R. Santoso, Lettu TNI AL (Alm)
Alumni dari Akademi Angkatan Laut Surabaya. Dilahirkan pada tanggal 4 September 1943 jam 12. 45 hari Sabtu Pon. Meninggal pada  usia yang masih muda, 25 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jombang.
4.             Rr. Sri Suprapti BA (Alm)
Putra keempat, dilahirkan pada tanggal 23 Nopember 1945  hari jumat wage selepas subuh, jam 05. 45 di CBZ Semarang (RSUP Dr Karyadi). Menikah dengan Indanu putra dari Bpk. Soeparto. Beliau alumni P3B Semarang yang menjadi staf PELNI, pada tanggal 8 April 1973. Sri Suprapti yang menjadi guru di SMA Negeri 1 Palu ini dikaruniai 4 orang anak:
a.             Sri Indrastuti (Iin) lahir pada tanggal 25 September 1975, menikah dengan Agus In’amullah dan dikaruniai seorang putri bernama Afrina Nabila Alya Az-Zahra.
b.             Teguh Indarto (Indar), lahir pada tanggal 7 September 1977.
c.             Parwati Indriani (Indri) lahir 11 Nopember 1978.
d.             Sasanthy Prasetyorini (Rini) lahir pada 5 September 1982.
5.             R Soeprapto (Alm)
Putra kelima ini dilahirkan pagi hari (sekitar jam 05.28) pada hari Rabu Pahing tanggal 1 September 1948 di PURASARA (Pusat Rumah Sakit Rakyat) Semarang sekarang RSUP Dr Karyadi. Karyawan Sipil pada POLRES Jombang ini menikah dengan Kiswahyuni Siti Chodijah dan pada tanggal 2 Desember 1983 dikaruniai seorang putra dan dinamakan Danang Krestanto. Keluarga Suprapto pada masa itu tinggal di Candi Jombang.
6.             Rr. Sri Pudyastuti
Ibu dari 3 orang anak ini dilahirkan pada hari Minggu tanggal 30 Juli selepas Magrib (sekitar jam 18.50) di  RSUP Dr. Karyadi Semarang. Pensiunan guru pada SD Negeri ini menikah dengan Mujiono putra Bpk. Dullah Janji (Alm) pada tanggal 8 Agustus 1974. Dikaruniai putra:
a.             Argo Pamudyastono (Argo). Lahir pada tanggal 22 Juli 1975 menikah dengan Dyah Minarni dan dikaruniai momongan yang diberi nama Argya Rafani Widyadhana.
b.             Bekti Pamudyasrini (Ririn). Lahir pada tanggal 3 November 1978 menikah dengan Antoine Jean Christophe dan memiliki seorang putri bernama Kim Kallila Andrean Pellan.
c.             Cahyanto Pamudyastomo (Tomi). Lahir pada tanggal 20 November 1978. Menikah dengan Fadiah Masita dan memiliki tiga orang anak yaitu :
1)             Devina Dyasta Dewi
2)             Daffa Rayhansyah Putra
3)            Devandra Rizky Syahputra
7.             Rr. Sri Mulyani, BA
Istri dari Drs Suparno Ms, putra Bpk. Mangun Sarkoro, terlahir pada tanggal 15 Oktober 1952 jam 17.40 di rumah Geneng II/60 Jombang ini merupakan putra pertama yang lahir di Jombang. Alumni IKIP Negeri Surabaya yang kemudian bertugas di SMA Negeri V Surabaya. Dikaruniai 2 Orang Putra:
a.             Agung Nugroho (Agung) dilahirkan pada tanggal 3 Mei 1979, menikah dengan Ria Hermayanti dan dikaruniai putri yang bernama Diandra Fitria Nugroho.
b.             Dina Ariyani Nugrayanti di lahirkan pada tanggal 26 Juni 1983 menikah dengan Bekti Wahyudi dan dikaruniai tiga orang putra yaitu :
1)             Muhammad Ihsan Wahyudi
2)             Al Fatih Malik Wahyudi
3)             Hafizh Fahriza Wahyudi
Keluarga Sri Mulyani ini sekarang tinggal di Rungkut Barata VII no 21 Surabaya.
8.             R. Sutarso, SMPh
Penganut program Catur Warga ini dilahirkan pada tanggal 2 Oktober 1954 hari Sabtu. Menikah dengan Yan Martiwi putri dari Bpk. Drs. Ibnu Masdarsyah, memiliki dua orang putra putri :
a.             Aryanti Mukti Utami (Yanti) di lahirkan pada tanggal 8 Januari 1985 menikah dengan Imam Luthfi Syamwidya Fitriono dan dikaruniai dua orang putra yang bernama :
1)             Robin Danisywara Arfi
2)            Praditya Azkaya Arfi
b.             Bekti Adi Nugroho (Adi) dilahirkan pada tanggal 12 Desember 1986 menikah dengan Septhia Aristi Mutiara.
Keluarga dari R Sutarso dan Yan Martiwi ini sekarang bertempat tinggal di Rungkut Barata XIV No 3 Surabaya.
9.             Rr. Sri Sutarmi (Alm)
Beliau menikah dengan Bpk. Anton Budiono dan memiliki tiga orang anak :
1.             Dianita Evo Nilasari yang menikah dengan Teddy Cahyono dan dikaruniai dua orang putri yaitu :
1.             Nashita Althafunnisa
2.             Dinda Afida Zahra
2.             Alzar Valentino Erdiansyah menikah dengan Wahyu Fika Wahanani, dan dikaruniai dua orang putra yang bernama :
1.             Rafif Zaidan Tsaqif
2.             Rendra
3.             Happy Fitriansyah
10.         Rr Sri Mulyati
Putra nomer sepuluh ini lahir pada hari Selasa Wage jam 07.00 tanggal 1 Oktober 1957. Membentuk mahligai rumah tangga dengan R. Bambang Prasetya putra dari Bpk, R. Martedjo, staf pada Perhutani Surabaya. Sri Mulyati yang pada saat itu menjadi guru di SDN Jabon Jombang berputra:
1.      Eko Prasmono ( alm ).
2.      R. Bambang Widya Permadi menikah dengan Suci Sulistyarini dan dikaruniai seorang putri yang bernama Syarifah Gauri Azkadina
3.      Rr. Mira Rahayu Romadhony
11.         R. Suharso (Alm)
Lahir pada hari Senin tanggal 3 Nopember 1959 jam 14.10 di rumah. Pada umur 9 hari meninggalkan keluarga yang dicintainya untuk selamalamanya pada tanggal 12 Nopember 1959 dan di makamkan di TPU Pulo Sampurna.
12.         Drg. R. Sutarno
Putra keduabelas dari ke 13 Putra Soetarto ini lahir pada hari Kamis Legi tanggal 30 April 1961 jam 08.45. Alumni dari FKG Unair ini pada saat itu membaktikan ilmunya pada masyarakat terpencildi Puskesmas Pulau Wangi Wangi Buton Suwalesi Tenggara, dan kemudian mengabdikan dirinya di PT. Pertamina. Menikah dengan Ninik Nurmala putri dari Bpk Mustamat dan dikaruniai dua orang momongan yang bernama :
1.      Dimas Aulia Ramadi
2.      Asyifa Aulia Putri
13.         Drg. R Sunyoto
Putra bungsu ( ke 13 ) dari keluarga besar yang berdomisili di Geneng II No 60 Jombang ini dilahirkan pada tanggal 9 Nopember 1965 jam 06.00. Nama Sunyoto ini diharapkan dapat membawa kebaikan yang realistis bagi bangsa dan negara serta agama. Menikah dengan Elizabeth Maya Kusumawardhani. Memiliki momongan :
1.      Risky Dzikrina Rahmawati (dengan istri sebelumnya Retno Wulan)
2.      Ahmad Arkana Zuya
























Tuesday, July 3, 2018

Ayam Jago Cerita Fiona

Kemarin sore aku ke rumah Bu Yem yang dulu momong Fiona. Karena Bu yen menggelar acara di rumahnya. Aku bawa sembako untuk keperluan itu. Sewaktu pulang...Fiona diberi bu yem ayam goreng. Paha. Datanglah ayam jago besar punya tetangga Bu Yem mendekati Fiona. Fiona mengusir ayam jago itu. Dengan cara ayam gorengnya diacung acungkan ke ayam jago. Ayam jagi mengira mau diberi makan. Ayam jago mendekati Fiona. Aku yg posisi udah di sepeda motor didekati Fio yg dikejar jago. Reflek kaki kiriku menendang ayam jago. Fiona lari ke sebelah kananku. Di sebelah kiriku ayam jago berusaha mematok kakiku. Kutendang lagi...eeee ayam jagonya melompat ke aku. Mau mematok kakiku. Aku teriak teriak heboh sambil terus menendang. Ada segerombolan anak lelaki sekitar usia SD kelas 5. Aku teriak minta bantuan malah mereka lari ketakutan. Aduh... Aku semakin panik....aku terus berusaha menendang dengan kaki kiri dan posisi tetap duduk di atas motor. Akhirnya...ada bapak bapak datang menangkap ayam jago itu....aku lemes. Anak anak yg tadi sembunyi pada keluar. Dan ibu ibu bilang....saya kira ada pertengkaran kok ramai. Ternyata gak ada...aku bilang. Aku bu..yg bertengkar dengan ayam jago. Trus Fiona naik ke motor dan bilang...Bu.... Tadi itu menakutkan yoooo