angin duduk

Angin Duduk

Kemarin ada seorang teman di kantor yang meninggal di usia yang ke-30.
Dengan status single. Menurut dokter-dokter yang turut melayat,
kemungkinan penyebabnya adalah angin duduk, karena pagi harinya dia masih
masuk kantor, walaupun pada saat jam istirahat minta ijin pulang karena
kepalanya pusing. Kebetulan ybs tidur sekamar dengan kakak perempuannya
yang juga bekerja di kantor yang sama, dan masih sempat terbangun karena
adiknya menanyakan minyak kayu putih sekitar setengah 12 malam, lalu
paginya waktu dibangunkan pagi hari untuk berangkat ke kantor, ternyata
sang adik sudah meninggal dengan posisi tidur dengan wajah sedikit menahan
rasa sakit, dan kebiruan sekitar leher.

Atas dasar itulah saya informasikan sedikit mengenai angin duduk atau nama
kerennya Sindrom Jantung Koroner Akut. Angin Duduk sama dengan Sindrom
Jantung Koroner Akut. Hanya dalam 15 menit sampai 30 menit, orang yang
terserang angin duduk bias meninggal. Padahal, penderita, sebelumnya
terlihat sehat-sehat saja. Dunia kedokteran selama dua tahun terakhir
berhasil mengidentifikasi istilah baru penyakit jantung yang akrab disebut
angin duduk. Ternyata, penyakit ini tak sekedar masuk angin berat, tetapi
identik dengan Sindrom Serangan Jantung Koroner Akut (SSJKA).

Teridentifikasinya istilah ini, menurut Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit
Dalam FKUI, Prof DR dr Teguh Santoso.SpPD, di Jakarta, pekan lalu.
Menandai sebuah koreksi besar terhadap mitos yang berkembang di masyarakat
selama ini. Bahwa masuk angin hebat itu adalah penyakit yang berbahaya,
bahkan bisa menimbulkan kematian hanya dalam waktu 15 hingga 30 menit
sejak serangan pertama.

Jadi kata Teguh lagi, jika Anda tiba-tiba merasa nyeri dada, sebaiknya
tidak melakukan aktivitas fisik apapun termasuk berhubungan seks.
Segeralah pergi ke rumah sakit yang menyediakan fasilitas penanganan Gawat
Darurat jantung. Ingat!. Tidak boleh lebih dari 15 menit setelah serangan
nyeri pertama.

Sindrom serangan jantung koroner akut merupakan penemuan terbaru akhir
banyak disikapi masyarakat dengan tindakan yang salah Misalnya, penderita
dikerok, diberi minuman air panas, atau diberi ramu-ramuan untuk
mengeluarkan angin. Padahal, penderita bias meninggal mendadak tanpa ada
tanda-tanda sakit.


Gejalanya:
Muncul keluhan nyeri ditengah dada, seperti:

*Rasa ditekan
*Rasa diremas-remas, menjalar ke leher,lengan kiridan kanan, serta ulu hati.
*Rasa terbakar dengan sesak napas dan keringat dingin.
*Keluhan nyeri ini bisa merambat ke kedua rahang gigi kanan atau kiri,
bahu,serta punggung. Lebih spesifik, ada juga yang disertai kembung pada
ulu hati seperti masuk angin atau maag.




Sumber masalah sesungguhnya hanya terletak pada penyempitan pembuluh darah
jantung (vasokonstriksi) . Penyempitan ini diakibatkan oleh empat hal:

*Pertama, adanya timbunan-lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah
akibat konsumsi kolesterol tinggi.
*Kedua, sumbatan (trombosis) oleh sel beku darah (trombus).
*Ketiga, Vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah akibat kejang yang
terus menerus.
*Keempat, infeksi pada pembuluh darah.


Penyempitan itu, lanjutnya lagi, mengakibatkan berkurangnya oksigen yang
masuk ke dalam jantung. Ketidakseimbangan pasokan dengan kebutuhan oksigen
pada tubuh mengakibatkan nyeri dada yang dalam istilah medisnya disebut
angina. Namun kata Teguh, hendaknya dibedakan antara keluhan nyeri pada
sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA)dengan serangan jantung
koroner (SJK) (infark miokard). Pada SJK, angina terjadi akibat sumbatan
total pembuluh darah jantung karena aktivitas fisik yang berlebihan.
Sementara pada SSJKA angina terjadi akibat sumbatan tidak total yang
dirasakan saat istirahat. "SSJKA ini memang mendadak. Bukan karena capek,
masuk angin, atau penyakit-penyakit lainnya. Biasanya penderita akan
meninggal paling lama lima belas menit setelah keluhan rasa nyeri pertama
kali dirasakan".Kata Teguh. Masyarakat diminta waspada terhadap keluhan
angin ini. Soalnya penderita sebelum terserang akan tampak sehat-sehat.


Solusi satu-satunya hanyalah melonggarkan sumbatan yang terjadi, yaitu
dengan memberikan obat anti platelet (sel pembeku darah) dan anti
koagulan. Atau, obat untuk mengantisipasi ketidakseimbangan supply oksigen
dan kebutuhan oksigen. Misalnya nitrat, betabloker, dan kalsium antagonis.


Di tempat terpisah, ahli jantung RS Jantung Harapan Kita dr. Santoso
Karo-Karo MPH, SpJp mengungkapkan kondisi rumah sakit di Indonesia tidak
terlalu bisa diharapkan untuk pengobatan SSJKA. Rumah sakit terkesan
lambat menangani pasien. Untuk itu ia menyarankan agar penderita yang
sudah tahu bahwa dirinya memiliki gangguan jantung sebaiknya membawa
tablet antiplatelet ke manapun ia pergi. Obat antiplatelet yang paling
murah dan gampang di cari adalah aspirin. Obat ini selain bermanfaat
sebagai pertolongan pertama mengatasi nyeri dan melonggarkan kembali
pembuluh darah yang tersumbat oleh thrombosit atau platelet (sel pembeku
darah).

Nyoman Upadhana (S30)

From: Nyoman Upadhana <nyomanupadhana@yahoo.co.id>
To: sipil-its@yahoogroups.com
Sent: Fri, January 15, 2010 6:15:23 PM
Subject: [SIPIL-ITS] ANGIN DUDUK