Labels

Thursday, January 14, 2021

Pelatihan Pemanfaatan Laboratorium Maya di SMP Muhammadiyah 13 Tambak Segaran Surabaya







Laboratorium maya merupakan salah satu fitur dari Portal Rumah Belajar. Portal Rumah Belajar telah tersedia dalam bentuk aplikasi di android yang bisa diunduh di play store. Penggunaan Portal Rumah Belajar sebagai media dianggap sesuai karena peran guru dalam proses pembelajaran yang mengintegrasikan TIK diharapkan sebagai fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar, serta dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar pada peserta didik untuk mengalami peristiwa belajar. Laboratorium maya merupakan media yang digunakan untuk membantu memahami suatu pokok bahasan dan dapat menjadi solusi terhadap keterbatasan atau ketiadaan perangkat laboratorium.

Melalui laboratorium maya, simulasi suatu kondisi yang kompleks, terlalu mahal, atau berbahaya yang kadang tidak dapat dilakukan pada kondisi riil, menjadi dapat dilakukan. Pesatnya perkembangan teknologi komputer dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajarmengajar dengan cara menggunakan paket elearning yang sesuai. Untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, sejak tahun 2011, Pustekkom mengembangkan suatu portal pembelajaran yang disebut Portal Rumah Belajar beralamat http:// belajar.kemdikbud.go.id. Di dalam Portal Rumah Belajar, tersedia berbagai fasilitas yang antara lain adalah Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik (BSE), Bank Soal, Laboratorium Maya, Peta Budaya Indonesia, Jelajah Wahana Angkasa, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), dan Kelas Maya.

Fasilitas lain yang tersedia pada Portal Rumah Belajar adalah Karya Komunitas, Karya Guru, dan Karya Bahasa dan Sastra. Rumah Belajar kini tersedia dalam Aplikasi Mobile yang bisa diunduh di https://play. google.com/store/apps/details?id =id.go.kemdikbud.belajar.apprumahbelajar. Rumah Belajar sebagai mobile learning dapat didefinisikan sebagai suatu fasilitas atau layanan yang memberikan informasi elektronik secara umum kepada pembelajar dan konten edukatif yang membantu pencapaian pengetahuan tanpa terkendala lokasi dan waktu. Kehadiran mobile learning ditujukan sebagai pelengkap pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari materi yang kurang dikuasai di manapun dan kapanpun. Portal Rumah Belajar merupakan sumber belajar berbasis TIK yang telah maju begitu pesat dan cepat sehingga menciptakan tantangan-tantangan baru dalam proses belajar-mengajar. Permasalahan yang muncul dengan perkembangan teknologi tersebut adalah kesiapan guru untuk mengantisipasinya. Dalam kaitan ini, Kemendikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis, dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah . 

 

Monday, January 11, 2021

Sparsh Garg

Sparsh Garg: I am a Google Partner for Education in India, Certified Level 2 Educator and the Director at Sparsh Garg Pvt Ltd, ISO 9001:2015 Certified Digital Marketing Company which is also a Skill India Training Provider and a Google Cloud Partner. Recently, I became a Founder of a company named Educlouds which plans to change the future of Education using cloud technologies and monetization options for content created by Educationists from across the globe. Alongside this, I have started the Educlouds Global Awards, Edupreneur Program and multiple other intiatives by the Educlouds LLP. The most recent Educlouds Event was an International Exchange and we had keynote speakers from 21+ countries.




Reading Personality through Handwriting EDUCLOUDS 2021 SPECIAL

Reading Personality through Handwriting

EDUCLOUDS 2021 SPECIAL

Graphology

THE STUDY OF HANDWRITING ESPECIALLY FOR THE PURPOSE OF CHARACTER ANALYSIS

Graphology is a fun exercise, especially if you're testing someone you know, but it has very limited accuracy. If you're interested in a more scientific basis, learn how forensic investigators compare the handwriting of suspects & ransom notes.

If handwriting is an average size - in that the top of the letters sit just below the centre of line - the writer is well-adjusted and adaptable. Moving onto the spacing of words, people who leave large gaps between words enjoy their freedom and don't like to be crowded, while people who write words close together can't stand to be alone and might be intrusive. If handwriting slants to the right the person is open to new experiences and enjoy meeting new people. If handwriting slants to the left, that person tends to keep themselves to themselves. People whose handwriting doesn't slant in either direction are logical and practical. Personality traits are also identifiable by the way individual letters are written.

The type of looping created by the letters 'l' and 'e' can suggest a person's nature, for example, wide loops means someone is relaxed and spontaneous as well as open minded. Alternatively, people who write narrow loops tend to be skeptical of others and may restrict themselves from certain activities, which causes feelings of tension.

The way people dot their 'i's and cross their 't's can also be a personality indicator. If the dot of the letter is situated high above the base it suggests the writer has a great imagination. If the dot is close to the base, they are organised and empathetic.

Procrastinators tend to dot their 'i's and 'j's to the left of the base letter, while child-like personality types will draw their dots as circles. Slashes used in the place of dots mean the writer doesn't have patience for inadequacy or are overly self-critical and are annoyed by people who don't learn from their mistakes.

Long T on 't's suggests someone who is determined and enthusiastic, but also stubborn. Short T tend to be written by someone who is lazy. People who write rounded letters are more creative and artistic while pointed letters are a sign of aggression or intelligence. Connected letters mean the writer is logical.

When people write the letter 'o' with a loop or hole at the top of the letter, it means they are talkative and sociable, while closed 'o's indicate someone who is private. Similarly, a rounded lowercase 's' means the writer is a people pleaser, but if the rounded bottom is too wide it suggests they may not be following their heart either in their career or other pursuits.

People who place heavy pressure on the pen when they write, which can cause darker, thicker handwriting, are good with commitment and taking things seriously but don't respond well to criticism. Light-handed writers tend to be empathetic and sensitive but lack vitality.

*************************************************************************************************

Grafologi adalah latihan yang menyenangkan, terutama jika Anda menguji seseorang yang Anda kenal, tetapi akurasinya sangat terbatas. Jika Anda tertarik pada dasar yang lebih ilmiah, pelajari bagaimana penyelidik forensik membandingkan tulisan tangan tersangka & uang tebusan.

Jika tulisan tangan adalah ukuran rata-rata - di mana bagian atas huruf berada tepat di bawah tengah baris - penulis menyesuaikan dengan baik dan mudah beradaptasi. Beralih ke penspasian kata, orang yang meninggalkan celah besar di antara kata menikmati kebebasannya dan tidak suka berdesakan, sementara orang yang menulis kata berdekatan tidak tahan sendirian dan mungkin mengganggu. Jika tulisan tangan miring ke kanan, orang tersebut terbuka untuk pengalaman baru dan senang bertemu orang baru. Jika tulisan tangan miring ke kiri, orang tersebut cenderung menutup diri. Orang yang tulisan tangannya tidak miring ke dua arah adalah orang yang logis dan praktis. Ciri kepribadian juga dapat dikenali dari cara penulisan surat.

Jenis looping yang diciptakan oleh huruf 'l' dan 'e' dapat menunjukkan sifat seseorang, misalnya wide loop berarti seseorang yang santai dan spontan serta berpikiran terbuka. Sebaliknya, orang yang menulis loop sempit cenderung skeptis terhadap orang lain dan mungkin membatasi diri mereka sendiri dari aktivitas tertentu, yang menyebabkan perasaan tegang.

Cara orang menandai 'i' dan 't' mereka juga bisa menjadi indikator kepribadian. Jika titik huruf itu terletak tinggi di atas pangkal, itu menunjukkan penulis memiliki imajinasi yang hebat. Jika titik dekat dengan pangkalan, mereka terorganisir dan berempati.

Orang yang suka menunda-nunda cenderung memberi titik 'i dan' j di sebelah kiri huruf dasar, sementara tipe kepribadian seperti anak kecil akan menggambar titik-titik mereka sebagai lingkaran. Garis miring yang digunakan sebagai pengganti titik berarti penulis tidak memiliki kesabaran atas ketidakcakapan atau terlalu kritis terhadap diri sendiri dan terganggu oleh orang yang tidak belajar dari kesalahan mereka.

Huruf T panjang di atas menunjukkan seseorang yang bertekad dan antusias, tetapi juga keras kepala. Huruf T pendek cenderung ditulis oleh orang yang malas. Orang yang menulis huruf bulat lebih kreatif dan artistik sedangkan huruf runcing adalah tanda agresi atau kecerdasan. Huruf yang terhubung berarti penulisnya logis.

Ketika orang menulis huruf 'o' dengan lingkaran atau lubang di bagian atas huruf, itu berarti mereka banyak bicara dan mudah bergaul, sedangkan 'o' tertutup menunjukkan seseorang yang privat. Demikian pula, huruf kecil yang membulat berarti penulis adalah orang yang menyenangkan, tetapi jika bagian bawah yang membulat terlalu lebar, itu menunjukkan bahwa mereka mungkin tidak mengikuti kata hati mereka baik dalam karir mereka atau dalam pengejaran lainnya. Orang yang memberi tekanan berat pada pena ketika mereka menulis, yang dapat menyebabkan tulisan tangan lebih gelap, lebih tebal, baik dengan komitmen dan menanggapi sesuatu dengan serius tetapi tidak menanggapi kritik dengan baik. Penulis yang bertangan ringan cenderung berempati dan sensitif tetapi kurang vitalitas.











Saturday, January 9, 2021

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas VII, VIII, IX SILN Den Haag








KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SMP/MTs

KELAS VII

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

KOMPETENSI DASAR 

3.1 Menganalisis proses perumusan dan penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara 

3.2 Memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat untuk mewujudkan keadilan 

3.3 Menganalisis kesejarahan perumusan dan pengesahan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 4.3 Menjelaskan proses kesejarahan perumusan dan pengesahan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 

3.4 Mengidentifikasi keberagaman suku, agama, ras dan antargolognan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika 

3.5 Menganalisis bentuk-bentuk kerja sama dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat 

3.6 Mengasosiasikan karakteristik daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia 

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

KOMPETENSI DASAR 

4.1 Menyaji hasil analisis proses perumusan dan penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara 

4.2 Mengampanyekan perilaku sesuai norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat untuk mewujudkan keadilan 

4.4 Mendemonstrasikan hasil identifikasi suku, agama, ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika 

4.5 Menunjukkan bentuk-bentuk kerja sama di pelbagai bidang kehidupan masyarakat 

4.6 Melaksanakan penelitian sederhana untuk mengilustrasikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan rancangan yang telah dibuat

KELAS VIII

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) 

3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata 

KOMPETENSI DASAR

3.1 Menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa

3.2 Menelaah makna, kedudukan dan fungsi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta peratuan perundanganundangan lainnya dalam sistem hukum nasional 

3.3 Memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional nasional di Indonesia 

3.4 Menganalisa makna dan arti Kebangkitan nasional 1908 dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonsia 

3.5 Memproyeksikan nilai dan semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika 

3.6 Menginterpretasikan semangat dan komitmen kebangsaan kolektif untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam kontek kehidupan siswa 

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN) 

4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori 

KOMPETENSI DASAR 

4.1 Menyaji hasil telaah nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandanganhidup bangsa dalam kehidupan sehari-hari 

4.2 Menyajikan hasil telaah makna, kedudukan dan fungsi UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam penerapan kehidupan sehari-hari 

4.3 Mendemonstrasikan pola pengembangan tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional nasional di Indonesia  

4.4 Menyaji hasil penalaran tentang tokoh kebangkitan nasional dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia 

4.5 Mengaitkan hasil proyeksi nilai-nilai dan semangat Sumpah Pemuda Tahun 1928 dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dengan kehidupan sehari-hari 

4.6 Mengorganisasikan kegiatan lingkungan yang mencerminkan semangat dan komitmen kebangsaan untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia

KELAS IX

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) 

3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata 

KOMPETENSI DASAR 

3.1 Membandingkan antara peristiwa dan dinamika yang terjadi di masyarakat dengan praktik ideal Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa

3.2 Mensintesiskan isi alinea dan pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 

3.3 Memahami ketentuan tentang bentuk dan kedaualatan negara sesuai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 

3.4 Menganalisis prinsip persatuan dalam keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), sosial, budaya, ekonomi, dan gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika

3.5 Menganalisis prinsip harmoni dalam keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sosial, budaya, ekonomi, dan gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika 

3.6 Mengkreasikan konsep cinta tanah air/bela negara dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia 

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN) 

4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori 

KOMPETENSI DASAR 

4.1 Merancang dan melakukan penelitian sederhana tentang peristiwa dan dinamika yang terjadi di masyarakat terkait penerapan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa 

4.2 Menyajikan hasil sintesis isi alinea dan pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 

4.3 Memaparkan penerapan tentang bentuk dan kedaualatan negara sesuai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 

4.4 Mendemonstrasikan hasil analisis prinsip persatuan dalam keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika 

4.5 Menyampaikan hasil analisis prinsip harmoni dalam keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sosial, budaya, ekonomi, dan gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika 

4.6 Mengorganisasikan kegiatan lingkungan yang mencerminkan konsep cinta tanah air dalam konteks kehidupan sehari-hari


Sosiologi Kelas X, XI, XII SILN Den Haag











KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SOSIOLOGI SMA/MA

KELAS X

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/ atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik. Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami, menerapkan, serta menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya mengenai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR

3.1 Memahami pengetahuan dasar Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk mengkaji gejala sosial di masyarakat.

3.2 Mengenali dan mengidentifikasi realitas individu, kelompok, dan hubungan sosial di masyarakat.

3.3 Mengaitkan realitas sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk mengenali berbagai gejala sosial di masyarakat.

3.4 Memahami berbagai metode penelitian sosial yang sederhana untuk mengenali gejala sosial di masyarakat

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menalar suatu gejala sosial di lingkungan sekitar dengan menggunakan pengetahuan sosiologis.

4.2 Mengolah realitas individu, kelompok, dan hubungan social sehingga mandiri dalam memposisikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat

4.3 Mengaitkan realitas sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk mengenali berbagai gejala sosial di masyarakat.

4.4 Melakukan penelitian sosial yang sederhana untuk mengenali ragam gejala sosial dan hubungan sosial di masyarakat.

 

KELAS XI

 Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/ atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif; sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR

3.1 Memahami pengelompokan sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologis.

3.2 Menganalisis permasalahan sosial dalam kaitannya dengan pengelompokan sosial dan kecenderungan eksklusi sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologis serta pemecahan masalahnya.

3.3 Memahami arti penting prinsip kesetaraan untuk menyikapi perbedaan sosial demi terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis.

3.4 Menganalisis konflik sosial dan cara memberikan respons untuk melakukan resolusi konflik dan pemecahan masalah konflik dan kekerasan demi terciptanya kehidupan yang damai di masyarakat.

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menalar tentang terjadinya pengelompokan sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologi.

4.2 Memberikan respons dalam mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara memahami kaitan pengelompokan sosial dengan kecenderungan eksklusi dan timbulnya permasalahan sosial.

4.3 Menerapkan prinsip-prinsip kesetaraan untuk mengatasi perbedaan sosial dan mendorong terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis.

4.4 Memetakan konflik untuk dapat melakukan resolusi konflik dan memberikan solusi terhadap konflik dan kekerasan untuk menumbuhkembangkan perdamaian di masyarakat.

KELAS XII

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/ atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual, yaitu “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah; dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1 Memahami berbagai jenis dan faktorfaktor perubahan sosial serta akibat yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat

3.2 Memahami berbagai permasalahan sosial yang disebabkan oleh perubahan sosial di tengah-tengah pengaruh globalisasi.

3.3 Memahami faktor penyebab ketimpangan sosial dan pertautannya dengan perubahan sosial di tengahtengah globalisasi.

3.4 Mendeskripsikan cara melakukan strategi dan mengevaluasi aksi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah-tengah pengaruh globalisasi.

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menalar berdasarkan pemahaman dari pengamatan dan diskusi tentang perubahan sosial dan akibat yang ditimbulkannya.

4.2 Mengategorisasikan berbagai permasalahan sosial yang disebabkan oleh globalisasi serta akibat-akibatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat sehingga dapat merespons berbagai permasalahan sosial dan ketimpangan yang disebabkan proses globalisasi.

4.3 Mengolah hasil kajian dan pengamatan tentang ketimpangan sosial sebagai akibat dari perubahan sosial di tengah-tengah globalisasi.

4.4 Merancang, melaksanakan, dan melaporkan aksi serta evaluasi aksi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah- tengah pengaruh globalisasi.

Friday, January 8, 2021

Pembelajaran Tatap Maya SMP Muhammadiyah 1 Surabaya










 

Pagi itu, kepala sekolah kami memberitahu jika ibu pengawas akan berkunjung ke sekolah meninjau pelaksanaan pembelajaran daring. Setelah beliau datang, saya menawarkan diri untuk ditinjau pertama kali. Saat datang, ibu pengawas melihat saya menggunakan laptop baru, bukan laptop saya biasanya yang penuh stiker Rumah Belajar. Saya bilang jika area rumah saya banjir dan perjalanan ke sekolah melewati area banjir yang agak dalam dan panjang, saya takut kecelup laptop saya, jadi saya tidak bawa laptop. Hari ini saya memakai laptop sekolah bantuan dari Pusdatin, karena SMP Muhammadiyah 1 Surabaya adalah binaan Pusdatin kategori Sekolah Inovatif. Terima kasih Pusdatin yang so sweet.

Dan beliau melihat layar laptop saya yang saya bagi menjadi dua screen, satu adalah tampilan video dari Rumah belajar dengan materi perbandingan dan satu adalah tampilan tatap maya siswa. Ibu pengawas bertanya, apa itu siswa bisa melihat screen saya? Murid-murid serentak menjawab bisa. Lalu ibu pengawas bertanya pada anak - anak, enak tatap muka atau tatap maya? siswa menjawab, sama saja. Hehe....

Siswa ternyata komunikatif juga ya, saya sempat kawatir, siswa diam saja saat ditanya, alhamdulillah bisa menjawab.

Pandemi Covid-19 telah melanda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini sangat berdampak di dunia pendikan. Kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolahpun tidak bisa dilaksanakan,  karena kita harus turut memutus wabah mata rantai virus covid19 , jangan sampai terkena pada generasi penerus bangsa. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam Pendidikan  selama pandemi ini. Dalam hal ini sangatlah dibutuhkan beberapa peran yang ikut serta mendukung proses pembelajaran di masa pandemic. Yang diantaranya:

Peran pemerintah 

Memberikan anggaran(dana) untuk kebutuhan tambahan masyarakat dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran putra putri mereka. Disamping itu juga memberikan pelatihan kepada para tenaga pendidik mengenai bagaimana kegiatan pembelajaran jarak jauh. Memberikan fasilitas tenaga pendidik dengan bantuan penambahan kuota internet

Peran Guru

Dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh atau daring,guru dituntut untuk berfikir kreatif dan inovatif supaya siswa tidak jenuh dalam menerima pembelajaran tersebut, siswa bisa memahami materi yang telah disampaikan oleh guru tersebut dengan melalui dialog interaktif antara guru dan siswa

Peran Orangtua

Di saat pembelajaran daring peran orangtua sangatlah dibutuhkan,terutama pada siswa SD. Mereka dituntut untuk dapat menjelaskan materi yang disampaikan oleh pengajar dan dapat membimbing mengerjakan tugas pekerjaan siswa. Selain itu peran orangtua juga memberikan fasilitas seperti handphone, laptop, kuota internet dan bahan bahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah siswa.

Peran Peserta didik/Siswa

Siswa dituntut untuk selalu mengikuti daring dan menyelesaikan tugas tugas yang diberikan oleh guru dalam pembelajaran daring tersebut secara tuntas. Siswa harus belajar secara virtual, di mana dialog interaktif antara guru dan siswa tidak semudah kalau secara tatap muka. Tingkat pemahaman anak atas materi yang diberikan tentulah berbeda beda, banyak yang tingkat pemahaman kurang, karena ketidaksungguhan dalam proses pembelajaran. Ada dan tidak adanya orangtua atau lainnya  yang melakukan pendampingan. Di samping itu fasilitas siswa yang dimiliki berbeda beda seperti Jenis handphone, jenis laptop, provider yang digunakan dan jumlah kuota yang dimiliki.

Google Master Trainer















https://docs.google.com/document/d/1sLIcgw07DuioiHYHiFmmcyy6nrPpXw-d5rGvxUStMuw/edit

https://belajar.id/#webinar

https://www.youtube.com/watch?v=iGq0V2H-EPY&feature=youtu.be



 

Educlouds collaborates with Indonesia



Educlouds bekerja sama dengan Indonesia

Kami mengundang Anda untuk menghadiri Educlouds 2021 Special bekerja sama dengan Universitas-Universitas Top Indonesia!

Hadiri lokakarya menarik tentang Handwriting Analysis & Google Earth Tools and Techniques. Dengarkan Dr. Balachander berbicara tentang ''The Silent Language of Edupreneurs'  dan dapatkan sertifikat partisipasi juga!

Semuanya gratis di Educlouds 2021 Special

Educlouds X Indonesia


Tanggal Acara: 10 Januari 2021 Waktu Acara: 19:00 IST & 21:30 Waktu Bali, Indonesia Dihosting di Google Meet

Register using this link:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScz1jc8ZKxl1I-EYkWYeFa11hq1iO5T8Yx3Qan6QABqqDqkNw/viewform?usp=sf_link



Educlouds collaborates with Indonesia

We invite you to attend the Educlouds 2021 Special in collaboration with the Top Universities of Indonesia!

Attend interesting workshops on Handwriting Analysis & Google Earth Tools and Techniques. Get to hear Dr. Balachander talk about 'The Silent Language of Edupreneurs' and receive a certificate of participation too!

All for free at Educlouds 2021 Special

Educlouds X Indonesia

Event Date: 10th January 2021

Time of the Event: 7 pm IST & 9:30 pm Bali Time, Indonesia

Hosted on Google Meet

 

Register using this link:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScz1jc8ZKxl1I-EYkWYeFa11hq1iO5T8Yx3Qan6QABqqDqkNw/viewform?usp=sf_link




Thursday, January 7, 2021

Berbudi Pekerti Luhur Sesuai Dengan Pancasila Kelas 9 SILN 6 Januari 2021

https://kelasmaya.belajar.kemdikbud.go.id/JejakDunia/Diklat/Details?id=D202101000002



Sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah sepantasnya jika dalam kehidupan sehari-hari bertutur kata, bersikap dan berperilaku atau berbudi pekerti sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini harus dilakukan karena Pancasila bagi bangsa Indonesia merupakan ideologi bangsa, dasar negara, pandangan hidup bangsa, serta kepribadian bangsa Indonesia. Jika tiap warga negara mengamalkannya berarti telah membangun budi pekerti yang sesuai dengan nilai Pancasila, maka akan tercipta suasana kehidupan yang religius, damai, harmonis, demokratis dan sejahtera.

 

A. Hakikat Bertutur Kata, Bersikap dan Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila

Tutur kata, sikap dan perilaku merupakan salah satu wujud dari budi pekerti manusia. Tutur kata, sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilainilai Pancasila merupakan wujud budi pekerti luhur manusia Indonesia yang membedakannya dengan manusia dari negara lainnya. Apabila kita bertutur kata, bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, hal tersebut menunjukkan keluhuran harkat, derajat dan martabat kita sebagai bagian dari sebuah bangsa yang beradab..

1. Makna Bertutur Kata Sesuai dengan Nilai Pancasila

Manusia adalah mahkluk sosial yang perlu berkata-kata, berbincangbincang, dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mempunyai perasaan yang dapat merasakan senang, marah, sakit dan sebagainya. Untuk itu diperlukan bahasa yang sopan dan santun agar satu sama lain berkomunikasi berjalan lancar dan tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada manusia yang ingin diperlakukan secara kasar dan tidak patut oleh manusia lain, manusia ingin dihormati, diperlakukan secara baik, santun, dan manusiawi untuk itu diperlukan tutur kata yang baik. Tutur kata yang baik merupakan sikap atau adab dalam berbicara yang penuh dengan kesopanan dan mampu menempatkan bahasa yang pantas sesuai dengan situasi dan kondisi maupun siapa yang kita ajak bicara. Indonesia negeri tercinta ini dikenal dengan sikap ramah tamah dan tutur kata yang sopan dikancah dunia internasional yang perlu kita pertahankan. Bertutur kata yang buruk atau seronok bukan keperibadian bangsa Indonesia. Hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, dan bisa menyebabkan rendahnya penilaian orang lain terhadap kita. Oleh karena itu, supaya terhindar dari tutur kata yang buruk, kalian harus: a) berpikir sebelum berkata atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain; b) pikirkan akibat dari kata-kata yang akan kita ucapkan; c) berbicara seperlunya tanpa harus memperbanyak pembicaraan yang tidak bermanfaat; d) sampaikan maksud dengan bahasa yang halus dan tidak berbelit-belit; e) tidak meninggikan atau mengeraskan suara ketika berbicara; f) menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada lawan bicara; g) berusaha membalas perkataan buruk dengan perkataan yang baik dan sopan.

 

2. Makna Bersikap Sesuai dengan Nilai Pancasila

Bersikap sesuai dengan nilai Pancasila sama dengan bersikap positif terhadap Pancasila. Sikap tersebut harus ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara oleh seluruh komponen bangsa baik sebagai rakyat maupun aparat pemerintahan dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap sila Pancasila.

Sikap positif seseorang terhadap Pancasila dapat terlihat apabila selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Seseorang memiliki sikap negatif terhadap Pancasila apabila orang tersebut tidak bersedia mengamalkan nilainilai yang terdapat dalam Pancasila. 

 

3. Makna Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila

Perilaku merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Dengan kata lain, perilaku merupakan perwujudan dari sikap manusia. Secara umum perilaku manusia itu terbagi menjadi dua, yaitu perilaku yang baik dan perilaku yang buruk. Perilaku yang baik disebut juga perilaku mulia, yaitu perilaku yang mengindahkan berbagai aturan yang berlaku atau sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sedangkan perilaku yang buruk merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Perilaku buruk ini merupakan penyimpangan dari ketentuan yang berlaku dan dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak baik. 

 

B. Arti Penting Bertutur Kata, Bersikap, dan Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila

Pentingnya bertututur kata, bersikap dan berperilaku yang baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut merupakan sebuah keharusan bagi mayarakat Indonesia termasuk kalian. Hal ini sangat bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Manfaat bagi diri sendiri antara lain akan dihargai dan dihormati orang lain, kepribadian akan semakin baik, menimbulkan ketenangan batin, kebahagiaan hidup akan tercapai.

Perdebatan yang tidak kunjung selesai dapat menyebabkan perselisihan. Manfaat bagi orang lain antara lain tidak menyinggung perasaan orang lain, tidak merugikan, tidak mengganggu ketentraman, tidak tersakiti hatinya atau tidak membuat orang lain kecewa atau kesal yang akan menimbulkan kemarahan. Sedangkan manfaat bagi masyarakat antara lain tercipta suasana kehidupan yang harmonis damai dan tentram, apalagi kalau anggota masyarakat melakukannya sesuai ketentuan yang berlaku. Keharmonisan dalam masyarakat sulit tercapai jika anggota-anggota masyarakat tersebut tidak melakukannya sesuai aturan dan tidak memiliki etika serta sopan santun dalam bertutur kata. Sebaliknya apabila tutur kata, sikap, dan perilaku yang kita tampilkan tidak baik, maka akan memiliki akibat yang merugikan semua pihak. Kasuskasus perkelahian antarindividu, antarkelompok, atau bahkan antarkampung sering terjadi karena ketidaksantunan dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Saling ejek, saling melontarkan kata-kata kasar, menghina, dan merendahkan lawan bicara dapat memancing emosi yang berujung pada perkelahian. Jangankan kata-kata yang yang memang kasar dan bermuatan penghinaan, kata-kata yang awalnya dimaksudkan untuk bercanda saja pun dapat mengundang datangnya pertengkaran jika disampaikan pada orang lain dan saat yang tidak tepat.