Labels

Saturday, January 9, 2021

Sosiologi Kelas X, XI, XII SILN Den Haag











KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SOSIOLOGI SMA/MA

KELAS X

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/ atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik. Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami, menerapkan, serta menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya mengenai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR

3.1 Memahami pengetahuan dasar Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk mengkaji gejala sosial di masyarakat.

3.2 Mengenali dan mengidentifikasi realitas individu, kelompok, dan hubungan sosial di masyarakat.

3.3 Mengaitkan realitas sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk mengenali berbagai gejala sosial di masyarakat.

3.4 Memahami berbagai metode penelitian sosial yang sederhana untuk mengenali gejala sosial di masyarakat

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menalar suatu gejala sosial di lingkungan sekitar dengan menggunakan pengetahuan sosiologis.

4.2 Mengolah realitas individu, kelompok, dan hubungan social sehingga mandiri dalam memposisikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat

4.3 Mengaitkan realitas sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk mengenali berbagai gejala sosial di masyarakat.

4.4 Melakukan penelitian sosial yang sederhana untuk mengenali ragam gejala sosial dan hubungan sosial di masyarakat.

 

KELAS XI

 Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/ atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif; sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR

3.1 Memahami pengelompokan sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologis.

3.2 Menganalisis permasalahan sosial dalam kaitannya dengan pengelompokan sosial dan kecenderungan eksklusi sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologis serta pemecahan masalahnya.

3.3 Memahami arti penting prinsip kesetaraan untuk menyikapi perbedaan sosial demi terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis.

3.4 Menganalisis konflik sosial dan cara memberikan respons untuk melakukan resolusi konflik dan pemecahan masalah konflik dan kekerasan demi terciptanya kehidupan yang damai di masyarakat.

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menalar tentang terjadinya pengelompokan sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologi.

4.2 Memberikan respons dalam mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara memahami kaitan pengelompokan sosial dengan kecenderungan eksklusi dan timbulnya permasalahan sosial.

4.3 Menerapkan prinsip-prinsip kesetaraan untuk mengatasi perbedaan sosial dan mendorong terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis.

4.4 Memetakan konflik untuk dapat melakukan resolusi konflik dan memberikan solusi terhadap konflik dan kekerasan untuk menumbuhkembangkan perdamaian di masyarakat.

KELAS XII

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/ atau ekstrakurikuler.

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual, yaitu “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah; dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1 Memahami berbagai jenis dan faktorfaktor perubahan sosial serta akibat yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat

3.2 Memahami berbagai permasalahan sosial yang disebabkan oleh perubahan sosial di tengah-tengah pengaruh globalisasi.

3.3 Memahami faktor penyebab ketimpangan sosial dan pertautannya dengan perubahan sosial di tengahtengah globalisasi.

3.4 Mendeskripsikan cara melakukan strategi dan mengevaluasi aksi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah-tengah pengaruh globalisasi.

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menalar berdasarkan pemahaman dari pengamatan dan diskusi tentang perubahan sosial dan akibat yang ditimbulkannya.

4.2 Mengategorisasikan berbagai permasalahan sosial yang disebabkan oleh globalisasi serta akibat-akibatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat sehingga dapat merespons berbagai permasalahan sosial dan ketimpangan yang disebabkan proses globalisasi.

4.3 Mengolah hasil kajian dan pengamatan tentang ketimpangan sosial sebagai akibat dari perubahan sosial di tengah-tengah globalisasi.

4.4 Merancang, melaksanakan, dan melaporkan aksi serta evaluasi aksi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah- tengah pengaruh globalisasi.

Friday, January 8, 2021

Pembelajaran Tatap Maya SMP Muhammadiyah 1 Surabaya










 

Pagi itu, kepala sekolah kami memberitahu jika ibu pengawas akan berkunjung ke sekolah meninjau pelaksanaan pembelajaran daring. Setelah beliau datang, saya menawarkan diri untuk ditinjau pertama kali. Saat datang, ibu pengawas melihat saya menggunakan laptop baru, bukan laptop saya biasanya yang penuh stiker Rumah Belajar. Saya bilang jika area rumah saya banjir dan perjalanan ke sekolah melewati area banjir yang agak dalam dan panjang, saya takut kecelup laptop saya, jadi saya tidak bawa laptop. Hari ini saya memakai laptop sekolah bantuan dari Pusdatin, karena SMP Muhammadiyah 1 Surabaya adalah binaan Pusdatin kategori Sekolah Inovatif. Terima kasih Pusdatin yang so sweet.

Dan beliau melihat layar laptop saya yang saya bagi menjadi dua screen, satu adalah tampilan video dari Rumah belajar dengan materi perbandingan dan satu adalah tampilan tatap maya siswa. Ibu pengawas bertanya, apa itu siswa bisa melihat screen saya? Murid-murid serentak menjawab bisa. Lalu ibu pengawas bertanya pada anak - anak, enak tatap muka atau tatap maya? siswa menjawab, sama saja. Hehe....

Siswa ternyata komunikatif juga ya, saya sempat kawatir, siswa diam saja saat ditanya, alhamdulillah bisa menjawab.

Pandemi Covid-19 telah melanda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini sangat berdampak di dunia pendikan. Kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolahpun tidak bisa dilaksanakan,  karena kita harus turut memutus wabah mata rantai virus covid19 , jangan sampai terkena pada generasi penerus bangsa. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam Pendidikan  selama pandemi ini. Dalam hal ini sangatlah dibutuhkan beberapa peran yang ikut serta mendukung proses pembelajaran di masa pandemic. Yang diantaranya:

Peran pemerintah 

Memberikan anggaran(dana) untuk kebutuhan tambahan masyarakat dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran putra putri mereka. Disamping itu juga memberikan pelatihan kepada para tenaga pendidik mengenai bagaimana kegiatan pembelajaran jarak jauh. Memberikan fasilitas tenaga pendidik dengan bantuan penambahan kuota internet

Peran Guru

Dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh atau daring,guru dituntut untuk berfikir kreatif dan inovatif supaya siswa tidak jenuh dalam menerima pembelajaran tersebut, siswa bisa memahami materi yang telah disampaikan oleh guru tersebut dengan melalui dialog interaktif antara guru dan siswa

Peran Orangtua

Di saat pembelajaran daring peran orangtua sangatlah dibutuhkan,terutama pada siswa SD. Mereka dituntut untuk dapat menjelaskan materi yang disampaikan oleh pengajar dan dapat membimbing mengerjakan tugas pekerjaan siswa. Selain itu peran orangtua juga memberikan fasilitas seperti handphone, laptop, kuota internet dan bahan bahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah siswa.

Peran Peserta didik/Siswa

Siswa dituntut untuk selalu mengikuti daring dan menyelesaikan tugas tugas yang diberikan oleh guru dalam pembelajaran daring tersebut secara tuntas. Siswa harus belajar secara virtual, di mana dialog interaktif antara guru dan siswa tidak semudah kalau secara tatap muka. Tingkat pemahaman anak atas materi yang diberikan tentulah berbeda beda, banyak yang tingkat pemahaman kurang, karena ketidaksungguhan dalam proses pembelajaran. Ada dan tidak adanya orangtua atau lainnya  yang melakukan pendampingan. Di samping itu fasilitas siswa yang dimiliki berbeda beda seperti Jenis handphone, jenis laptop, provider yang digunakan dan jumlah kuota yang dimiliki.

Google Master Trainer















https://docs.google.com/document/d/1sLIcgw07DuioiHYHiFmmcyy6nrPpXw-d5rGvxUStMuw/edit

https://belajar.id/#webinar

https://www.youtube.com/watch?v=iGq0V2H-EPY&feature=youtu.be



 

Educlouds collaborates with Indonesia



Educlouds bekerja sama dengan Indonesia

Kami mengundang Anda untuk menghadiri Educlouds 2021 Special bekerja sama dengan Universitas-Universitas Top Indonesia!

Hadiri lokakarya menarik tentang Handwriting Analysis & Google Earth Tools and Techniques. Dengarkan Dr. Balachander berbicara tentang ''The Silent Language of Edupreneurs'  dan dapatkan sertifikat partisipasi juga!

Semuanya gratis di Educlouds 2021 Special

Educlouds X Indonesia


Tanggal Acara: 10 Januari 2021 Waktu Acara: 19:00 IST & 21:30 Waktu Bali, Indonesia Dihosting di Google Meet

Register using this link:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScz1jc8ZKxl1I-EYkWYeFa11hq1iO5T8Yx3Qan6QABqqDqkNw/viewform?usp=sf_link



Educlouds collaborates with Indonesia

We invite you to attend the Educlouds 2021 Special in collaboration with the Top Universities of Indonesia!

Attend interesting workshops on Handwriting Analysis & Google Earth Tools and Techniques. Get to hear Dr. Balachander talk about 'The Silent Language of Edupreneurs' and receive a certificate of participation too!

All for free at Educlouds 2021 Special

Educlouds X Indonesia

Event Date: 10th January 2021

Time of the Event: 7 pm IST & 9:30 pm Bali Time, Indonesia

Hosted on Google Meet

 

Register using this link:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScz1jc8ZKxl1I-EYkWYeFa11hq1iO5T8Yx3Qan6QABqqDqkNw/viewform?usp=sf_link




Thursday, January 7, 2021

Berbudi Pekerti Luhur Sesuai Dengan Pancasila Kelas 9 SILN 6 Januari 2021

https://kelasmaya.belajar.kemdikbud.go.id/JejakDunia/Diklat/Details?id=D202101000002



Sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah sepantasnya jika dalam kehidupan sehari-hari bertutur kata, bersikap dan berperilaku atau berbudi pekerti sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini harus dilakukan karena Pancasila bagi bangsa Indonesia merupakan ideologi bangsa, dasar negara, pandangan hidup bangsa, serta kepribadian bangsa Indonesia. Jika tiap warga negara mengamalkannya berarti telah membangun budi pekerti yang sesuai dengan nilai Pancasila, maka akan tercipta suasana kehidupan yang religius, damai, harmonis, demokratis dan sejahtera.

 

A. Hakikat Bertutur Kata, Bersikap dan Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila

Tutur kata, sikap dan perilaku merupakan salah satu wujud dari budi pekerti manusia. Tutur kata, sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilainilai Pancasila merupakan wujud budi pekerti luhur manusia Indonesia yang membedakannya dengan manusia dari negara lainnya. Apabila kita bertutur kata, bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, hal tersebut menunjukkan keluhuran harkat, derajat dan martabat kita sebagai bagian dari sebuah bangsa yang beradab..

1. Makna Bertutur Kata Sesuai dengan Nilai Pancasila

Manusia adalah mahkluk sosial yang perlu berkata-kata, berbincangbincang, dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mempunyai perasaan yang dapat merasakan senang, marah, sakit dan sebagainya. Untuk itu diperlukan bahasa yang sopan dan santun agar satu sama lain berkomunikasi berjalan lancar dan tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada manusia yang ingin diperlakukan secara kasar dan tidak patut oleh manusia lain, manusia ingin dihormati, diperlakukan secara baik, santun, dan manusiawi untuk itu diperlukan tutur kata yang baik. Tutur kata yang baik merupakan sikap atau adab dalam berbicara yang penuh dengan kesopanan dan mampu menempatkan bahasa yang pantas sesuai dengan situasi dan kondisi maupun siapa yang kita ajak bicara. Indonesia negeri tercinta ini dikenal dengan sikap ramah tamah dan tutur kata yang sopan dikancah dunia internasional yang perlu kita pertahankan. Bertutur kata yang buruk atau seronok bukan keperibadian bangsa Indonesia. Hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, dan bisa menyebabkan rendahnya penilaian orang lain terhadap kita. Oleh karena itu, supaya terhindar dari tutur kata yang buruk, kalian harus: a) berpikir sebelum berkata atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain; b) pikirkan akibat dari kata-kata yang akan kita ucapkan; c) berbicara seperlunya tanpa harus memperbanyak pembicaraan yang tidak bermanfaat; d) sampaikan maksud dengan bahasa yang halus dan tidak berbelit-belit; e) tidak meninggikan atau mengeraskan suara ketika berbicara; f) menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada lawan bicara; g) berusaha membalas perkataan buruk dengan perkataan yang baik dan sopan.

 

2. Makna Bersikap Sesuai dengan Nilai Pancasila

Bersikap sesuai dengan nilai Pancasila sama dengan bersikap positif terhadap Pancasila. Sikap tersebut harus ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara oleh seluruh komponen bangsa baik sebagai rakyat maupun aparat pemerintahan dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap sila Pancasila.

Sikap positif seseorang terhadap Pancasila dapat terlihat apabila selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Seseorang memiliki sikap negatif terhadap Pancasila apabila orang tersebut tidak bersedia mengamalkan nilainilai yang terdapat dalam Pancasila. 

 

3. Makna Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila

Perilaku merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Dengan kata lain, perilaku merupakan perwujudan dari sikap manusia. Secara umum perilaku manusia itu terbagi menjadi dua, yaitu perilaku yang baik dan perilaku yang buruk. Perilaku yang baik disebut juga perilaku mulia, yaitu perilaku yang mengindahkan berbagai aturan yang berlaku atau sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sedangkan perilaku yang buruk merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Perilaku buruk ini merupakan penyimpangan dari ketentuan yang berlaku dan dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak baik. 

 

B. Arti Penting Bertutur Kata, Bersikap, dan Berperilaku Sesuai dengan Nilai Pancasila

Pentingnya bertututur kata, bersikap dan berperilaku yang baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut merupakan sebuah keharusan bagi mayarakat Indonesia termasuk kalian. Hal ini sangat bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Manfaat bagi diri sendiri antara lain akan dihargai dan dihormati orang lain, kepribadian akan semakin baik, menimbulkan ketenangan batin, kebahagiaan hidup akan tercapai.

Perdebatan yang tidak kunjung selesai dapat menyebabkan perselisihan. Manfaat bagi orang lain antara lain tidak menyinggung perasaan orang lain, tidak merugikan, tidak mengganggu ketentraman, tidak tersakiti hatinya atau tidak membuat orang lain kecewa atau kesal yang akan menimbulkan kemarahan. Sedangkan manfaat bagi masyarakat antara lain tercipta suasana kehidupan yang harmonis damai dan tentram, apalagi kalau anggota masyarakat melakukannya sesuai ketentuan yang berlaku. Keharmonisan dalam masyarakat sulit tercapai jika anggota-anggota masyarakat tersebut tidak melakukannya sesuai aturan dan tidak memiliki etika serta sopan santun dalam bertutur kata. Sebaliknya apabila tutur kata, sikap, dan perilaku yang kita tampilkan tidak baik, maka akan memiliki akibat yang merugikan semua pihak. Kasuskasus perkelahian antarindividu, antarkelompok, atau bahkan antarkampung sering terjadi karena ketidaksantunan dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Saling ejek, saling melontarkan kata-kata kasar, menghina, dan merendahkan lawan bicara dapat memancing emosi yang berujung pada perkelahian. Jangankan kata-kata yang yang memang kasar dan bermuatan penghinaan, kata-kata yang awalnya dimaksudkan untuk bercanda saja pun dapat mengundang datangnya pertengkaran jika disampaikan pada orang lain dan saat yang tidak tepat. 









 

Wednesday, January 6, 2021

Ulang Tahun saat Mencicipi Menu di Swiss Bell Inn




 

Gift for MIEE 2020-2021 Indonesia

Do you know, who are the MIEE in the world 2020-2021?
Here they are

Are you a teacher striving to find new ways to engage your students? If you’d like to connect with a global, professional learning community of other teachers, just like yourself, who are constantly pushing the boundaries of what a classroom looks and feels like, we have a step-by-step guide for you below.

Microsoft supports a thriving community of passionate educators who are constantly learning, growing and working together to change students’ lives and build a better world. The Microsoft Innovative Educator (MIE) Expert program is a premier program created to recognize global educator visionaries like yourself.

We are looking for self-driven educators who are passionate about teaching and learning,  who inspire students with creative thinking, and work in a truly collaborative spirit to share their learning with the world.  MIE Experts share their learning with colleagues and other educators through local training programs in their own school systems, presentations at conferences, blogs, social channels, and more. Resourceful and entrepreneurial, they relish the role of change agent, and work to achieve excellence in education using Microsoft technologies coupled with their innovative teaching practices.














Apakah Anda seorang guru yang berusaha menemukan cara baru untuk melibatkan siswa Anda? Jika Anda ingin terhubung dengan komunitas pembelajaran global dan profesional dari para guru lain, seperti Anda sendiri, yang terus-menerus mendorong batas-batas tampilan dan suasana kelas.

Microsoft mendukung komunitas pendidik yang bersemangat yang terus belajar, tumbuh, dan bekerja sama untuk mengubah kehidupan siswa dan membangun dunia yang lebih baik. Program Pakar Microsoft Innovative Educator (MIE) adalah program utama yang dibuat untuk mengenali visioner pendidik global seperti Anda.

Microsoft mencari pendidik mandiri yang bersemangat dalam mengajar dan belajar, yang menginspirasi siswa dengan pemikiran kreatif, dan bekerja dengan semangat kolaboratif yang sesungguhnya untuk berbagi pembelajaran mereka dengan dunia. Pakar MIE membagikan pembelajaran mereka dengan rekan kerja dan pendidik lainnya melalui program pelatihan lokal di sistem sekolah mereka sendiri, presentasi di konferensi, blog, saluran sosial, dan banyak lagi. Cerdas dan berjiwa wirausaha, mereka menikmati peran sebagai agen perubahan, dan bekerja untuk mencapai keunggulan dalam pendidikan menggunakan teknologi Microsoft ditambah dengan praktik pengajaran inovatif mereka.

https://educationblog.microsoft.com/en-us/2018/03/how-to-nominate-yourself-as-microsoft-innovative-educator-expert-miee/

Membangun Optimisme Pendidikan Hasan Chabibie

Teman teman semua, Yuk kita nikmati sajian dari TIMES INDONESIA pada link di bawah ini, yang membahas tentang Membangun Optimisme Pendidikan oleh Bapak Hasan Chabibie. 



Kondisi pembelajaran online pada situasi pandemi ini, juga dihadapkan pada kendala-kendala. Apalagi, transformasi sistem pembelajaran dari offline ke online membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Transisi penggunaan teknologi digital untuk pembelajaran daring, tidak sekedar alat, namun juga kultur, perspektif dan visi. 

Pandemi memang mengajarkan kita banyak hal yang tidak kita sadari sebelumnya. Maka, kita harus terus optimis untuk memberikan yang terbaik, untuk kemasalahatan sesama. Dalam konteks ini, ada beberapa nilai penting dalam membangun optimisme pembelajaran di tengah pandemi ini.

Pertama, fokus pada tujuan. Optimisme itu merupakan energi yang memberikan kekuatan. Ia jadi api yang berkobar yang memberikan daya ledak di dalam diri kita. Maka, penting untuk memetakan tujuan, agar kita sampai pada titik tuju dengan energi yang kita miliki. Seiring waktu, energi yang kita miliki seringkali terbatas. Maka, dengan fokus pada tujuan, kita bisa membagi energi sebanding dengan waktu dan jarak tempuh.

Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jelas sekali, pandemi mengajarkan kepada kita banyaknya keterbatasan-keterbatasan. Sistem belajar mengajar tidak bisa berjalan optimal, juga mata rantai pembelajaran menjadi tersendat. Tapi, kreatifitas manusia memecah kebuntuan itu. Selalu ada solusi di tengah problem pelik yang menghadang. Selalu ada guru-guru terampil, yang menjadi penggerak untuk mencipta kebaruan dalam pembelajaran. Selalu ada manusia-manusia cerdik dan gigih, yang mencipta peluang di tengah serangkaian problem rumit. 

Nah, kami di Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud juga belajar banyak selama pandemi ini. Hampir satu tahun kita beraktifitas di tengah segala keterbatasan. Namun, kreatifitas, semangat, optimisme, sekaligus daya tahan menjadi kunci untuk terus bergerak. Kami terus tingkatkan kualitas sumber daya manusia, sambil terus berinovasi dengan pelbagai layanan pembelajaran yang ada: Rumah Belajar, TV Edukasi, Suara Edukasi, serta beragam program strategis diamanahkan kepada kami. 

Rumah Belajar telah tumbuh menjadi portal pembelajaran penting dengan konten edukatif yang telah diakses lebih 190 juta pengguna. Pengguna baru selama tahun 2020 kemarin, tumbuh di atas 7,7 juta pengguna. Sementara, TV Edukasi, Suara Edukasi dan layanan lainnya juga terus tumbuh untuk membersamai anak didik kita, bersama-sama menjaga nyala api belajar di negeri ini.

 

Pembelajaran Tatap Maya Hari Pertama Kelas 8 SILN Den Haag Semester Genap 2021

Suatu bangsa tidak akan berubah manakala bangsa tersebut tidak mau mengubah dirinya sendiri. Bangsa Indonesia tidak mungkin menjadi bangsa yang bebas merdeka seperti yang kalian rasakan saat ini apabila tidak ada usaha untuk bangkit dan melepaskan diri dari penjajahan. Kesadaran bangsa Indonesia untuk bangkit tumbuh seiring lahirnya generasi muda terdidik dan peduli terhadap kemerdekaan Indonesia.

Penjajah Belanda dapat menguasai bangsa Indonesia dalam waktu yang lama karena bangsa Indonesia mudah dipecah belah dan perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia masih bersifat kedaerahan. Boedi Oetomo sebagai organisasi nasional pertama meletakkan semangat kebangkitan nasional bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Begitu pentingnya kita memahami dan meneruskan nilai kebangkitan nasional tahun 1908, dalam bab ini kalian akan mempelajari dan membangun semangat kebangkitan nasional tahun 1908. Pada gilirannya, kalian dapat menjadi generasi penerus yang dapat menunjukkan semangat kebangkitan nasional.

Rusaknya ekonomi Eropa akibat peperangan dan berkembangnya teknologi pelayaran pada abad ke-15 menyebabkan negara-negara di Eropa melakukan ekspedisi untuk mencari sumber-sumber ekonomi baru ke seluruh dunia. Ekspedisi ini banyak menemukan sumber ekonomi dan lahan baru untuk dilakukannya perdagangan. Ternyata kemudian, bangsa Eropa tidak hanya melakukan perdagangan melainkan langsung menguasai dan menjajah negara-negara yang mereka anggap baru diketemukan. Awal dimulainya penjajahan Belanda di Indonesia dimulai sejak didirikannya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1602. Sejak VOC berdiri, dimulailah berbagai bentuk kekerasan yang menimpa rakyat Indonesia. Penderitaan rakyat Indonesia terjadi dalam berbagai segi kehidupan. Di berbagai daerah, VOC melakukan tindakan dengan melaksanakan politik devide et impera (adu domba), yaitu saling mengadu domba antara kerajan yang satu dan kerajaan yang lain atau mengadu domba di dalam kerajaan itu sendiri. Politik adu domba makin melemahkan kerajaan-kerajaan di Indonesia dan merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Bangsa Indonesia makin menderita ketika Daendels (1808–1811) berkuasa. Upaya kerja paksa (rodi) guna membangun jalan sepanjang pulau Jawa (Anyer-Panarukan) untuk kepentingan militer, membuat rakyat makin menderita. Penderitaan berlanjut karena Belanda kemudian menerapkan Cultuurstelsel (tanam paksa). Peraturan Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Den Bosch tahun 1828. Sistem Tanam Paksa mewajibkan rakyat menanami sebagian dari sawah dan atau ladangnya dengan tanaman yang ditentukan oleh pemerintah dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah. Tanam Paksa menyebabkan rakyat diperas bukan hanya tenaga melainkan juga kekayaannya sehingga mengakibatkan banyak sekali rakyat yang jatuh miskin. Di pihak lain, penjajah mendapatkan kekayaan bangsa Indonesia yang berlimpah untuk membangun negara Belanda dan menjadi negara kaya di Eropa. Penderitaan bangsa Indonesia menumbuhkan benih perlawanan di berbagai daerah. Perjuangan melawan penjajah dipimpin ulama atau kaum bangsawan. Sultan Hasanuddin di Sulawesi Selatan, Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, memimpin perjuangan rakyat melawan penjajah. Perjuangan rakyat untuk mengusir penjajah belum berhasil. Hal ini disebabkan perjuangan masih bersifat kedaerahan dan belum terorganisasi secara modern. Penderitaan yang dialami bangsa Indonesia menyadarkan beberapa orang Belanda yang tinggal atau pernah tinggal di Indonesia. Di antaranya Baron Van Houvell, Edward Douwes Dekker, dan Mr. Van Deventer. Edward Douwes Dekker, terkenal dengan nama samaran Multatuli, menulis buku ”Max Havelaar” pada tahun1860. Buku ini menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat Lebak, Banten akibat penjajahan Belanda. Mr. Van Deventer mengusulkan agar pemerintah Belanda menerapkan politik Balas Budi ”Etische Politic”. Politik Balas Budi terdiri dari tiga program, yaitu ”edukasi, transmigrasi, dan irigasi”. Atas desakan berbagai pihak, akhirnya pemerintah Belanda menerapkan Politik Balas Budi. Politik Balas Budi bukan untuk kepentingan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan pemerintah Belanda. Contoh: irigasi dibangun untuk kepentingan pengairan perkebunan milik Belanda; pembangunan sekolah (edukasi) bertujuan untuk menyediakan tenaga terampil dan murah. Di sisi lain, pembangunan sekolah melahirkan dampak positif bagi bangsa Indonesia, yaitu munculnya masyarakat terdidik atau mulai memiliki pemahaman dan kesadaran akan kondisi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Bangsa Indonesia saat itu kondisinya bodoh, terbelakang, dan kemisikinan merajalela. Mereka yang mengenyam pendidikan dan sadar akan nasib bangsanya selanjutnya menjadi tokohtokoh Kebangkitan Nasional.

Boedi Oetomo (Budi Utomo) merupakan organisasi pertama di Indonesia yang bersifat nasional berbentuk modern, yaitu organisasi dengan pengurus yang tetap, ada anggota, tujuan, dan program kerja. Boedi Oetomo didirikan oleh dr. Soetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Pendirian Boedi Oetomo, tidak terlepas dari penggagas atau pendorong lahirnya Boedi Oetomo yaitu dr. Wahidin Soedirohusodo. Dokter Wahidin Soedirohusodo merupakan dokter lulusan STOVIA (Sekolah Kedokteran Jawa) yang menyadari bagaimana terbelakang dan tertindasnya rakyat akibat penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas. Untuk itu, rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan dan pengajaran serta memupuk kesadaran kebangsaan. Dokter Wahidin Soedirohusodo menggagas tentang perlunya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh para pelajar STOVIA.

Pada tanggal 20 Mei 1908, lahirlah Budi Utomo. Budi Utomo berasal dari kata Sansekerta, yaitu bodhi atau budhi berarti ”keterbukaan jiwa”, ”pikiran”, ”kesadaran”, ”akal”, atau ”pengadilan”, yang juga bisa berarti ”daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi dan ide-ide umum”. Adapun perkataan utomo berasal dari utama, yang dalam bahasa Sanskerta berarti ”tingkat pertama” atau ”sangat baik”. Program Budi Utomo adalah mengusahakan perbaikan pendidikan dan pengajaran. Akan tetapi, programnya lebih bersifat sosial karena saat itu belum dimungkinkan melaksanakan gerakan yang bersifat politik. Sebagai organisasi pelajar yang berintikan pelajar STOVIA, gerakan Budi Utomo pada awalnya terbatas pada Jawa dan Madura. Pada tanggal 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan Kongres Pertama di Yogyakarta.

Kongres tersebut berhasil menetapkan tujuan organisasi, yaitu: kemajuan yang harmonis antara bangsa dan negara, terutama dalam memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, dagang, teknik, industri, dan kebudayaan. Budi Utomo kemudian menetapkan tujuannya, yaitu menyadarkan kedudukan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan penduduk Hindia seluruhnya tanpa melihat keturunan, kelamin dan agama (Poespo Negoro dan Notosusanto, 1992:178). Dari tujuan tersebut, secara tersirat, Budi Utomo memiliki program mengembangkan kehormatan bangsa. Bangsa yang terhormat adalah bangsa yang memiliki derajat yang sama dengan bangsa lain. Penjajahan membuat bangsa Indonesia tertindas.

Pergerakan Budi Utomo memperlihatkan keinginan bangsa Indonesia untuk bangkit menjadi bangsa terhormat dan dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain. Budi Utomo merupakan organisasi pertama yang memperjuangkan cita cita nasional. Dalam perjalanannya, Budi Utomo diwarnai berbagai kepentingan baik dari birokrat priyayi (bangsawan) maupun pemerintah Belanda. Namun, pidato dr. Sutomo yang dalam di awal pendirian Budi Utomo, yaitu ”saya yakin nasib tanah air di kemudian hari akan ada di tangan kita” (Fajriudin M, 2015: 28). Pidato ini berbekas kepada seluruh anggota Budi Utomo untuk memperjuangkan kehormatan bangsa Indonesia. Besarnya pengaruh pergerakan Budi Utomo dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1948, menetapkan hari kelahiran Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Kebangkitan nasional pada awalnya dilakukan oleh para pelajar. Oleh karenanya, kalian harus meneruskan nilai-nilai kebangkitan nasional tersebut, di antaranya kita dapat bangkit dan mengubah diri menjadi lebih baik. Dengan demikian, kalian dapat memberikan rasa bangga bagi keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara. 

6 Januari 2021 (01.00 WIB) setara dengan 5 Januari 2021 (07.00 pm CET) . Pembelajaran Tatap Maya Hari Pertama Bagi Sekolah Indonesia Luar Negeri Den Haag. Tetap semangat belajar dengan Kelas Maya Jejak Dunia.

https://kelasmaya.belajar.kemdikbud.go.id/JejakDunia/Diklat/Details?id=D202101000001